periskop.id - Penelitian genetika terbaru berhasil mengguncang teori lama tentang asal-usul masyarakat Jepang. Selama puluhan tahun, ilmuwan percaya bahwa orang Jepang modern hanya berasal dari dua kelompok utama, yaitu pemburu-pengumpul Jomon dan migran Asia Timur pembawa budaya pertanian padi. Namun riset baru menunjukkan ada leluhur ketiga yang selama ini nyaris tidak terdeteksi.
Penemuan ini berasal dari penelitian besar yang dilakukan ilmuwan di RIKEN melalui analisis genom lebih dari 3.200 orang dari berbagai wilayah Jepang. Studi tersebut dipublikasikan di jurnal ilmiah Science Advances dan menjadi salah satu penelitian DNA terbesar di Asia Timur.
Para peneliti menggunakan metode whole-genome sequencing atau pemetaan genom lengkap. Teknik ini membaca hampir seluruh tiga miliar pasangan basa DNA manusia, jauh lebih detail dibanding metode lama berbasis mikroarray. Menurut peneliti, teknologi tersebut mampu menghasilkan informasi sekitar 3.000 kali lebih banyak dibanding pendekatan konvensional.
Teori “Dua Asal-Usul” Jepang Mulai Dipertanyakan
Sebelumnya, teori populer menyebut masyarakat Jepang modern berasal dari perpaduan dua kelompok besar. Pertama adalah masyarakat Jomon yang hidup ribuan tahun lalu di kepulauan Jepang. Kedua adalah migran dari daratan Asia Timur yang datang membawa pertanian, teknologi logam, dan sistem sosial baru sekitar 2.000 tahun silam.
Mengutip Science Daily, penelitian terbaru menemukan jejak genetik tambahan yang diduga berasal dari kelompok kuno Emishi di wilayah timur laut Jepang. Kelompok ini diyakini memiliki hubungan dengan populasi Asia Timur Laut yang berbeda dari migrasi sebelumnya.
Temuan tersebut memperkuat teori “tripartite origins” atau tiga asal-usul masyarakat Jepang yang mulai muncul dalam beberapa studi DNA kuno sejak 2021. Dalam teori ini, populasi Jepang modern terbentuk dari tiga gelombang besar migrasi manusia berbeda.
Okinawa Punya DNA Jomon Paling Tinggi
Penelitian juga menemukan variasi genetik yang cukup besar antarwilayah Jepang. Penduduk Okinawa memiliki proporsi DNA Jomon tertinggi, mencapai sekitar 28,5 persen. Sementara wilayah Jepang bagian barat memiliki kadar genetik Jomon jauh lebih rendah, hanya sekitar 13,4 persen.
Wilayah Jepang barat justru menunjukkan hubungan genetik yang lebih kuat dengan populasi Han China. Hal ini diduga berkaitan dengan migrasi besar dari daratan Asia antara tahun 250 hingga 794 Masehi, periode yang juga membawa sistem pemerintahan, tulisan, dan budaya Tiongkok ke Jepang.
Fakta menarik lainnya adalah Jepang ternyata tidak sehomogen yang selama ini diperkirakan ilmuwan. Struktur genetik masyarakat Jepang sangat dipengaruhi faktor geografis dan sejarah migrasi lokal.
Jejak DNA Neanderthal Masih Bertahan
Bagian paling menarik dari studi ini adalah ditemukannya puluhan fragmen DNA manusia purba Neanderthal dan Denisovan pada masyarakat Jepang modern. Para peneliti menemukan 44 wilayah DNA purba yang masih bertahan hingga sekarang.
Sebagian fragmen DNA tersebut ternyata berkaitan dengan kesehatan manusia modern. Salah satu gen turunan Denisovan ditemukan berhubungan dengan diabetes tipe 2 dan respons tubuh terhadap obat semaglutide, obat yang kini populer untuk terapi diabetes dan obesitas.
Selain itu, ilmuwan juga menemukan 11 segmen DNA Neanderthal yang dikaitkan dengan penyakit jantung koroner, kanker prostat, hingga rheumatoid arthritis. Temuan ini memperlihatkan bahwa warisan genetik manusia purba masih memiliki pengaruh biologis terhadap manusia modern saat ini.
Penelitian DNA Kini Bukan Sekadar Mengungkap Sejarah
Riset genom modern tidak hanya digunakan untuk memahami sejarah manusia, tetapi juga membuka jalan menuju pengobatan personal (personalized medicine). Dengan memahami variasi genetik spesifik tiap populasi, dokter di masa depan bisa memberikan terapi yang lebih akurat sesuai profil DNA pasien.
Dalam penelitian ini, ilmuwan Jepang juga menemukan variasi gen yang berpotensi terkait hipertensi, gagal ginjal, gangguan pendengaran, dan penyakit hati kronis. Informasi seperti ini sangat penting untuk pengembangan sistem kesehatan berbasis genetika.
Penelitian tentang DNA manusia dalam dua dekade terakhir memang terus menghasilkan kejutan. Sebagian besar manusia modern non-Afrika diketahui memiliki sekitar 1 hingga 2 persen DNA Neanderthal. Sementara beberapa populasi Asia dan Oceania juga memiliki jejak Denisovan lebih tinggi dibanding wilayah lain.
Suku Ayta di Filipina bahkan pernah disebut sebagai salah satu populasi modern dengan kandungan DNA Denisovan tertinggi di dunia. Hal ini menunjukkan sejarah evolusi manusia jauh lebih kompleks dibanding teori lama tentang migrasi tunggal manusia purba.
Penelitian genetika modern kini menjadi salah satu alat paling penting dalam memahami sejarah manusia. Dari potongan kecil DNA, ilmuwan dapat melacak perpindahan populasi, pola perkawinan antarmanusia purba, hingga risiko penyakit modern yang diwariskan ribuan tahun lalu.
Bagi dunia sains, penemuan terbaru di Jepang bukan sekadar soal asal-usul suatu bangsa. Studi ini memperlihatkan bahwa sejarah manusia masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya terungkap.
Tinggalkan Komentar
Komentar