periskop.id - Pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (13/5) diperkirakan masih berada dalam tekanan, dengan kecenderungan melemah di tengah dominasi sentimen eksternal dan domestik yang belum kondusif. Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi menuturkan, arah rupiah sangat bergantung pada hasil rilis data inflasi Amerika Serikat.
Jika inflasi masih tinggi, maka peluang penguatan dolar AS akan semakin besar. CPI utama diperkirakan naik 0,6% MoM dan secara tahunan menjadi 3,7% YoY, sementara CPI inti di level 2,7% YoY.
“Untuk perdagangan Rabu (13/5), rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.520 hingga Rp17.580 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (13/5).
Selain faktor inflasi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi risiko utama yang belum mereda. Konflik yang melibatkan AS dan Iran terus meningkatkan ketidakpastian di pasar global.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah sentimen negatif, mulai dari ketidakjelasan kebijakan royalti tambang hingga kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar. Pasar juga menunggu pengumuman dari MSCI terkait potensi perubahan bobot Indonesia dalam indeks global, yang berisiko memicu arus keluar dana asing.
Di sisi lain, data manufaktur yang mengalami kontraksi pada April turut menambah tekanan terhadap rupiah, mencerminkan pelemahan aktivitas ekonomi riil. Dengan kombinasi sentimen tersebut, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas dalam jangka pendek, dengan pergerakan yang cenderung fluktuatif namun tetap tertekan.
Tinggalkan Komentar
Komentar