periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (US$) kian melemah pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Berdasarkan data Google Finance pada pukul 09.39 WIB, rupiah berada di level Rp17.900 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya di kisaran Rp17.865 per dolar AS.

Pada waktu yang sama, pergerakan sejumlah mata uang utama terhadap rupiah menunjukkan variasi. Pound sterling Inggris (GBP) tercatat di level Rp24.112,71 atau naik 0,32%, sementara dolar Kanada (CAD) berada di Rp12.934,59 atau menguat 0,24%. Yen Jepang (JPY) berada di Rp111,76 dengan kenaikan tipis 0,01%, sedangkan dolar Australia (AUD) tercatat di level Rp12.824,01 dan relatif stabil dengan perubahan -0,00%.

Advertisement

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, berpotensi ditutup melemah dengan tekanan eksternal yang masih kuat. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen global. Penguatan dolar AS diperkirakan tetap berlanjut dalam jangka pendek.

“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS,” ujar Ibrahim, Rabu (3/6).

Rentang tersebut menunjukkan ruang pelemahan rupiah masih terbuka. Namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi mengikuti dinamika pasar global.

Dari sisi eksternal, pasar masih mencermati negosiasi Amerika Serikat dan Iran di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang berisiko mengganggu distribusi energi global. Di saat yang sama, kebijakan tarif terbaru AS turut menopang penguatan dolar dan mendorong arus modal kembali ke aset berbasis dolar, sehingga menekan mata uang emerging market termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, inflasi yang terkendali di level 3,08% menjadi penopang stabilitas, ditopang oleh kenaikan harga yang relatif moderat. Aktivitas manufaktur yang kembali ke zona ekspansi dengan PMI di level 50,0 juga mencerminkan stabilitas operasional sektor industri.

Selain itu, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan turut menjaga fundamental eksternal Indonesia, dengan ekspor nonmigas sebagai penopang utama. Namun, kuatnya tekanan eksternal membuat ruang penguatan rupiah tetap terbatas, sehingga pasar masih menantikan arah kebijakan moneter ke depan.