Periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp17.921 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (17/7). Penguatan mata uang Garuda ini ditopang kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik, baik lewat instrumen obligasi maupun saham.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebutkan, penguatan rupiah terjadi di tengah kondisi pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian. Arus masuk dana asing, menurutnya, menjadi faktor utama yang menopang pergerakan rupiah, ditambah sentimen domestik yang mulai membaik.

"Rupiah ditutup menguat cukup tajam oleh dukungan kembalinya dana asing baik di obligasi maupun ekuitas," kata Lukman Leong dalam catatan analisis pasar, Jumat (17/7).

Penguatan rupiah sejalan dengan tren sejumlah mata uang Asia lainnya. Peso Filipina mencatat apresiasi terbesar terhadap dolar AS sebesar 0,06%, disusul yen Jepang dan rupee India yang masing-masing menguat 0,01%.

Kondisi berbeda dialami mayoritas mata uang Asia lain yang justru melemah. Won Korea tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam, yakni 0,35%, diikuti ringgit Malaysia 0,23% dan baht Thailand 0,09%.

Yuan China turut melemah 0,07%, sementara dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing tergerus 0,02% dan 0,01% terhadap dolar AS.

Di pasar saham, tekanan justru datang dari aksi jual saham-saham sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan yang membuat bursa Asia terkoreksi tajam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bersama bursa Malaysia (KLSE) tercatat sebagai pengecualian karena berhasil mencatatkan penguatan di tengah tren pelemahan tersebut.

Indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia pada saat bersamaan terpantau bergerak melemah tipis. Lukman menuturkan, perhatian pelaku pasar global masih tertuju pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengerek volatilitas pasar keuangan.

Untuk pasar domestik, Lukman menilai prospek rupiah masih cukup positif. Selain ditopang arus modal asing, ia menyebutkan investor juga mulai mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan depan.

Pasar, menurutnya, memperkirakan Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meredam tekanan eksternal.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah pada perdagangan Jumat tercatat melemah tipis 0,36% dari posisi sebelumnya meski tetap ditutup di level Rp17.921 per dolar AS.

Untuk perdagangan pekan depan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS, dengan arah pergerakan tetap dipengaruhi perkembangan geopolitik global, arus modal asing, serta ekspektasi kebijakan Bank Indonesia.