periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Rabu 3 Juni 2026 dibuka pada zona hijau. IHSG dibuka menguat 11,67 poin atau 0,19% ke level 6.207,10. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,25 poin atau 0,04% ke posisi 619,02.

Secara teknikal, IHSG bertahan di atas level MA5. Penyempitan histogram negatif MACD berlanjut dengan Stochastic RSI mengarah ke area pivot.

Advertisement

“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220-6.280,” ulas tim riset Phintraco Sekuritas, Rabu (3/6). 

Beberapa saham pilihan yang menarik dicermati pada perdagangan hari ini, antara lain AMRT, ENRG, SMGR, SUPA dan SCMA.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 6,195.43 atau naik 1,11%) pada perdagangan Selasa (2/6). Rupiah ditutup menguat 0.2% di level Rp17,830 per dolar AS

Inflasi tahunan menjadi 3.08% YoY di Mei 2026, berakselerasi dari 2.42% YoY. Harga makanan mencatatkan kenaikan terbesar (4.94% vs 3.06%), didorong oleh kenaikan biaya bahan pokok dan biaya distribusi. Inflasi inti juga meningkat di level 2.59% YoY dari 2.44% YoY.

“Inflasi ini masih dalam kisaran target BI yang sebesar 1.5%-3.5%. Namun jika inflasi berlanjut menguat serta Rupiah masih depresiasi lebih lanjut, diperkirakan BI Rate masih berpotensi naik,” tulis riset yng sama.

Sementara itu indeks PMI manufaktur naik di level 50 pada Mei 2026 dari level terendah selama sepuluh bulan di 49.1 pada April 2026. Hal ini mengindikasikan kondisi pabrik yang relatif stabil. Pesanan baru meningkat selama dua bulan berturut-turut, namun pesanan ekspor turun karena gangguan konflik di Timur Tengah. 

Surplus neraca perdagangan Indonesia berkurang menjadi US$0.09 miliar di April 2026 dari US$3.32 miliar di Maret 2026 serta dari US$0.2 miliar di April 2025. Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sejak April 2020, yang disebabkan oleh kenaikan impor sebesar 22.5% YoY dengan peningkatan impor migas sebesar 85.52% dan impor non migas tumbuh 14.11%.

Sedangkan ekspor meningkat 21.98% di April 2026, pulih dari penurunan 3.1% di Maret 2026, serta merupakan pertumbuhan paling kuat sejak Agustus 2022. Kenaikan impor migas antara lain disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah.