Periskop.id - Sebuah riset jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh lembaga survei YouGov bersama dengan organisasi lingkungan Market Forces menunjukkan adanya desakan publik yang kuat di kawasan Asia Tenggara terhadap sektor perbankan.
Hasil survei yang mencakup tiga negara utama yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura, mengungkap bahwa mayoritas masyarakat kini menuntut lembaga keuangan untuk mengambil tanggung jawab nyata dalam mengatasi krisis iklim global.
Berdasarkan data yang dirilis dalam akun Instagram resmi Market Forces (@marketforces) pada Selasa (19/5), lebih dari 80% masyarakat di Indonesia, Malaysia, dan Singapura menyatakan bahwa mereka sangat khawatir terhadap isu perubahan iklim.
Tingkat kekhawatiran yang tinggi ini sejalan dengan pandangan mereka mengenai peran institusi finansial. Lebih dari 7 dari 10 orang di ketiga negara tersebut menilai bahwa bank seharusnya tidak memberikan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan yang memperburuk kondisi perubahan iklim.
Desakan Penghentian Proyek Batu Bara
Salah satu poin penting yang disoroti dalam riset ini adalah pandangan publik mengenai masa depan penggunaan bahan bakar fosil, khususnya batu bara. Sekitar 3 dari 5 orang di masing-masing negara setuju bahwa penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara secara cepat merupakan salah satu langkah terbaik untuk menangani perubahan iklim.
Selain itu, mayoritas kuat responden menyatakan bahwa mereka akan menilai lebih tinggi atau memberikan apresiasi lebih kepada bank-bank yang telah berkomitmen menghentikan pendanaan untuk proyek-proyek batu bara baru.
Sikap kritis masyarakat ini juga berpotensi membawa dampak ekonomi langsung bagi industri perbankan. Survei mencatat adanya ancaman migrasi nasabah jika bank tempat mereka menyimpan uang kedapatan tetap mendanai industri kotor.
Sebanyak 43% warga negara Indonesia menyatakan bersedia untuk mempertimbangkan pindah ke bank lain jika mereka mengetahui bank mereka saat ini masih mendanai proyek batu bara baru. Langkah serupa juga dipertimbangkan oleh 36% warga Malaysia dan 28% warga Singapura.
Menanggapi temuan data tersebut, Asia Energy Finance Director dari Market Forces, Bernadette Maheandiran, memberikan peringatan bagi para pelaku industri perbankan di wilayah regional.
"Bank-bank di Singapura, Malaysia, dan Indonesia harus menyadari bahwa mendanai batubara menimbulkan risiko serius bagi iklim dan perekonomian, serta mengancam hilangnya sepertiga dari total nasabah mereka," ujar Maheandiran dalam pernyataan resminya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar