periskop.id - Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengukapkan posisi Indonesia dalam peta ekonomi syariah dunia saat ini sangat strategis. Berdasarkan Global Islamic Economy Indicator (GIEI) Indonesia menempati peringkat ketiga, di belakang Malaysia di urutan pertama dan Arab Saudi di urutan kedua.

"Meskipun menyalip posisi dua besar bukanlah perkara mudah, kami meyakini potensi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi syariah global sangat terbuka lebar," ucapnya dalam Sarasehan Ekonom Syariah Indonesia 2026 di Menara Bank Mega, Selasa (24/2).

Esther menjabarkan, faktor utamanya adalah jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, ditunjang dengan kelas menengah Muslim yang terus berkembang. Hal tersebut merupakan kekuatan fundamental yang bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia di masa depan.

Namun, menurutnya untuk mewujudkan target ambisius ini, dibutuhkan kolaborasi yang erat antar pemangku kepentingan, mulai dari perumusan kebijakan yang berpihak pada ekonomi syariah hingga penguatan instrumen sosial-ekonomi berbasis syariah, seperti zakat, infak, sedekah, serta inklusi keuangan syariah.

Semua elemen ini tutur Ester harus berjalan secara sinergis agar ekosistem ekonomi syariah Indonesia tidak hanya besar dalam angka, tetapi juga kuat, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Dengan strategi yang tepat, sinergi pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan syariah, kita bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil dan inklusif, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” tutup Esther.