Periskop.id - Dunia musik independen dan gerakan subkultur Indonesia kembali diselimuti awan duka yang mendalam. 

Salah satu pilar utama musik punk tanah air, Adie Indra Dwiyanto atau yang lebih dikenal luas dengan nama panggung Romi Jahat, mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa (10/2).

Kepergian sosok yang pernah menjadi wajah depan band legendaris Marjinal serta pendiri Romi & The Jahats ini dikonfirmasi melalui unggahan resmi akun Instagram grup musik tersebut, meninggalkan kesedihan mendalam bagi ribuan penggemar dan komunitas akar rumput di seluruh pelosok negeri.

Romi bukan sekadar musisi yang memetik gitar dan berteriak di atas panggung. Ia adalah seorang penyair jalanan, penggerak sosial, dan simbol konsistensi yang selama hampir tiga dekade berdiri tegak menyuarakan kegelisahan rakyat jelata. 

Namanya akan selalu terukir sebagai salah satu kurator penderitaan sekaligus harapan masyarakat yang terpinggirkan melalui lirik-liriknya yang tajam namun penuh empati.

Jejak Langkah di Jalur Perlawanan: Formasi Awal Marjinal

Karier musikal Romi Jahat meledak pertama kali pada akhir tahun 1990-an, sebuah periode krusial dalam sejarah politik Indonesia. 

Pada tahun 1997, ia menjadi vokalis utama dari band punk Marjinal, sebuah kelompok musik yang lahir dari kegelisahan intelektual dan keresahan sosial di Kampus Grafika pada masa penghujung Orde Baru. 

Bersama Mike (gitar), Bob OI! (bass), dan Steve (drum), Romi membentuk kuartet yang kelak menjadi ikon punk paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Sebelum menyandang nama Marjinal, band ini lahir dengan identitas yang jauh lebih provokatif, yakni Anti-ABRI. Nama tersebut merupakan sebuah pernyataan sikap yang amat berani di tengah kekuasaan militeristik rezim Soeharto. 

Melalui musik, mereka menantang otoritarianisme yang mereka anggap telah merampas hak-hak warga negara. Pada tahun 1999, seiring runtuhnya Orde Baru, mereka bertransformasi menjadi AM (Anti Military) dan merilis album Satu Bumi Tanpa Penindasan, sebelum akhirnya menetapkan nama Marjinal pada tahun 2001.

Lirik-lirik yang dinyanyikan Romi selama di Marjinal menjadi lagu wajib dalam setiap aksi massa. Lagu seperti "Buruh Tani", "Indonesia Memanggil", "Marsinah", hingga "Koruptor" bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen edukasi politik bagi pendengarnya. 

Musik punk bagi Romi adalah alat komunikasi yang mampu menjangkau khalayak luas, menyampaikan pesan yang tak mampu diakomodasi oleh media arus utama.

Romi & The Jahats: Eksplorasi Kemandirian dan Estetika Punk

Setelah lebih dari satu dekade berkarya bersama Marjinal, Romi memilih untuk menempuh alur baru demi mengeksplorasi ekspresi musikalnya secara lebih personal namun tetap kritis. 

Pada tahun 2008, ia mendirikan Romi & The Jahats (yang awalnya sempat bernama Romy and The Bad Boy). Langkah ini menandai fase baru dalam hidupnya sebagai musisi independen yang matang.

Pada tahun 2011, ia merilis album perdana bertajuk Film Murahan. Album ini seolah mengukuhkan posisi Romi sebagai pengamat sosial yang jeli. Ia memotret realitas kehidupan kelas bawah, kemunafikan birokrasi, dan dinamika kerasnya hidup di ibu kota tanpa kehilangan sentuhan musikalitas punk yang enerjik. 

Sepanjang perjalanannya, Romi & The Jahats tetap produktif hingga merilis lima album penuh. Album terakhirnya, Teman, yang diluncurkan pada April 2025, kini menjadi warisan terakhir dan surat cinta Romi bagi seluruh kawan seperjuangannya di skena independen.

Membedah Ideologi: Punk Sebagai Gaya Hidup dan Subkultur

Kepergian Romi Jahat juga memicu refleksi mendalam mengenai apa itu punk di Indonesia. Mengutip artikel berjudul “Punk: The Do-It-Yourself Subculture”, punk adalah sebuah gerakan sosial dan budaya yang mengekspresikan dirinya melampaui musik dan fesyen. 

Sebagai sebuah subkultur, punk merupakan upaya individu untuk mencari gaya hidup alternatif yang terlepas dari norma-norma kaku masyarakat.

Di Indonesia, punk berkembang unik sebagai bentuk protes terhadap praktik pemerintahan yang dianggap menindas. 

Berdasarkan artikel “Living the Punk Lifestyle in Jakarta”, pada pertengahan 1990-an, distribusi ideologi punk di Indonesia, termasuk kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Denpasar, dilakukan melalui jaringan kolektif yang mandiri atau sistem Do-It-Yourself (DIY).

Romi Jahat adalah representasi hidup dari semangat DIY tersebut. Baginya, menjadi punk berarti mampu mandiri secara ekonomi tanpa harus tunduk pada sistem yang eksploitatif. Hal ini tercermin dari aktivitas keseharian komunitasnya di Taring Babi. 

Mereka tidak hanya bermain musik, tetapi juga membuat tato, mencetak kaos melalui cukilan kayu, menjual poster, hingga mengolah sampah menjadi aksesori. Tindakan nyata ini menegaskan bahwa lirik "perlawanan" yang mereka teriakkan bukan sekadar kata-kata manis di atas panggung, melainkan sebuah praktik hidup harian.

Anthem Demonstrasi: Dari "Hukum Rimba" Hingga "Negeri Ngeri"

Salah satu warisan terbesar Romi Jahat adalah lagu-lagu yang terus dikumandangkan dalam setiap aksi protes mahasiswa dan buruh. 

Lagu "Hukum Rimba", misalnya, yang dirilis kembali pada Januari 2016, merupakan sindiran tajam terhadap sistem hukum di Indonesia yang dianggap tajam ke bawah namun tumpul ke atas. 

Lagu ini menjadi sangat populer karena mampu memotret fenomena ketidakadilan di mana pencuri kecil dihukum berat, sementara koruptor kelas kakap mendapat hukuman ringan atau bahkan fasilitas mewah.

Begitu pula dengan lagu "Negeri Ngeri". Terinspirasi dari krisis moneter 1998, lagu ini menggambarkan kepedihan bangsa saat angka pengangguran melonjak dan kemiskinan merajalela. 

Secara filosofis, lagu ini adalah dokumentasi sejarah mengenai bagaimana ketidakmampuan pemerintah membangun kestabilan ekonomi berdampak langsung pada penderitaan rakyat kecil. 

Lirik-liriknya yang berbunyi "pengangguran merebak luas, kemiskinan merajalela" menjadi metafora kuat yang masih relevan hingga hari ini ketika tekanan ekonomi kembali menghantam kelas menengah.

Mematahkan Stereotip: Gerakan Sosial Taring Babi

Satu hal yang membuat Romi Jahat dihormati lintas komunitas adalah usahanya untuk mematahkan stereotip negatif terhadap kaum punk. 

Selama bertahun-tahun, punk sering diasosiasikan dengan kriminalitas atau sampah masyarakat hanya karena penampilan yang urakan dan tato yang memenuhi tubuh.

Melalui kolektif Taring Babi, Romi menginisiasi berbagai program sosial, seperti program "Beras Tato" dan perilisan lagu "Masberto" (Masyarakat Bertato). 

Inisiatif ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa individu bertato juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mereka terlibat dalam pemberdayaan petani kopi yang tertekan harga jual rendah dan aktif membantu kelompok-kelompok yang termarjinalkan di jalanan. 

Romi membuktikan bahwa punk adalah tentang empati, bukan anarki tanpa tujuan.

Kepergian Romi Jahat pada Februari 2026 ini bukan hanya kehilangan bagi komunitas punk, tetapi juga bagi demokrasi Indonesia. Di tengah dunia musik yang semakin komersial, Romi tetap memilih jalur sunyi di luar arus utama, namun tetap memiliki resonansi yang luas di hati rakyat.

Jejak perlawanan, kejujuran, dan semangat pantang menyerah yang tertuang dalam lima albumnya akan terus menjadi api bagi generasi punk baru. Bagi para sahabatnya, Romi adalah sosok "Teman" sejati—seperti judul album terakhirnya—yang selalu ada dalam suka dan duka pergerakan. 

Ia telah menyelesaikan tugasnya di dunia, namun lirik-lirik tajamnya akan tetap bergema setiap kali ketidakadilan dirasakan oleh mereka yang tertindas.

Indonesia kehilangan salah satu suara paling jujur di jalanan. Selamat jalan, Adie Indra Dwiyanto. Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya, perjuangan dan karyamu akan terus hidup abadi dalam setiap detak musik punk di tanah air.