periskop.id – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengumumkan pengerahan 1.100 Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tingkat akhir untuk terjun langsung memulihkan roda pemerintahan di Aceh Tamiang yang lumpuh total akibat timbunan lumpur pascabencana.

"Kami akan mengirimkan juga 1.100 Praja IPDN tingkat 4. Jadi kami anggap ini adalah KKN buat mereka," ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Bencana di Jakarta, Selasa (30/12).

Ribuan calon pamong praja ini dijadwalkan mulai bertugas pada tanggal 3 Januari. Mereka mengemban misi khusus pemulihan fisik fasilitas negara.

Fokus utama operasi ini adalah pembersihan kantor-kantor pemerintahan. Tito menyebut kondisi infrastruktur publik di sana sangat memprihatinkan.

Banyak dinas tidak bisa beroperasi sama sekali. Gedung, ruang kerja, hingga arsip penting masih tertimbun material lumpur yang tebal.

"Tugas mereka utama adalah satu bulan, mulai tanggal 3 nanti. Pembersihan kantor-kantor. Sampai hari ini juga kantornya Pak Pj Bupati itu masih banyak yang gedung-gedung, ruangannya tidak bisa dipakai," jelas mantan Kapolri tersebut.

Misi ini dirancang berlangsung selama satu bulan penuh. Para Praja akan didampingi oleh pengasuh yang mengerti teknis pemerintahan.

Tujuannya agar pelayanan publik bisa segera hidup kembali. Jika pemerintahan daerah mati suri, penanganan pengungsi akan makin kacau.

Tito menjelaskan skenario penugasan di lapangan. Jika pembersihan di Aceh Tamiang selesai, pasukan akan digeser ke wilayah lain.

Target operasi berikutnya adalah Aceh Utara. Wilayah ini juga mengalami kerusakan infrastruktur pemerintahan yang cukup parah.

Guna mendukung mobilisasi masif ini, Tito meminta diskresi anggaran kepada Kementerian Keuangan. Ia membutuhkan dana operasional khusus.

Anggaran tersebut berasal dari pos internal Kemendagri yang saat ini masih diblokir (dibintang). Nilainya mencapai Rp20 miliar.

"Mohon buka (bintang anggaran). Enggak banyak, hanya Rp20 miliar. Tapi satu bulan sangat berarti," pinta Tito.

Pengerahan Praja IPDN ini diharapkan menjadi solusi taktis. Tenaga muda yang terdidik dan disiplin dinilai efektif untuk mempercepat normalisasi situasi darurat di tanah rencong.