Periskop.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) memproyeksi akan terjadi kenaikan volume penumpang kereta rel listrik (KRL), dari 339 juta penumpang sepanjang tahun 2025 menjadi 437 juta penumpang pada 2030.
“Kalau kami lihat, kenaikan volume penumpang KRL, terutama di Jabodetabek ini, akan menjadi 437 juta pada tahun 2030,” ujar Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (9/2).
Ia menyampaikan, kenaikan rata-rata penumpang per tahun sekitar 4%. Apabila dilihat dari realisasi 2024 sebesar 328 juta penumpang, realisasi penumpang pada 2025 naik sebesar 3,35%.
Dengan volume penumpang yang diproyeksikan meningkat menjadi 437 juta orang pada 2030, Bobby memperkirakan pada tahun tersebut, KRL akan melayani sekitar 2 juta orang per hari.
“Saat ini, 1,1 juta (penumpang) per hari, dengan di bulan Juni–Juli kemarin itu naik sampai 1,3 juta (penumpang),” kata Bobby.
Pada akhir tahun 2025, lanjut Bobby, jumlah penumpang per hari berada di kisaran 1,2–1,25 juta per hari. Kemudian, berdasarkan proyeksi volume penumpang, jika diasumsikan tidak terdapat pengadaan sarana hingga 2030, maka diperkirakan tingkat kepadatan saat jam sibuk atau peak hour mencapai enam kali lipat dari kepadatan saat ini.
“Sehingga, apabila tidak dilakukan penambahan sarana, tidak semua penumpang dapat terangkut dan tentunya berisiko pada aspek keselamatan,” tuturnya.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kenaikan penumpang KRL pada 2030, Bobby menilai pengadaan sarana KRL dibutuhkan untuk menjamin keselamatan dan meningkatkan kenyamanan penumpang.
Saat ini, KAI memiliki 780 unit dari JR EAST (usia 34–41 tahun), 128 unit dari Tokyo Metro (usia 34–41 tahun), 132 unit KRL CRRC CLI 125 (usia kurang dari 1 tahun), dan 48 unit KRL INKA CLI 225 (usia kurang dari 1 tahun).
Sebanyak 908 unit telah berusia setidaknya 30 tahun. Dengan begitu, Bobby menilai diperlukan penggantian sarana yang akan memasuki masa konservasi pada tahun-tahun yang akan datang. KAI sendiri menargetkan tambahan 11 rangkaian kereta atau trainset baru dari PT Industri Kereta Api atau PT INKA (Persero) mulai beroperasi sebelum Juli 2026.
Bobby sendiri memaparkan, telah ditandatangani kontrak pengadaan KRL baru sebanyak 192 unit atau 16 rangkaian kereta pada 9 Maret 2023 (Addendum 18 Desember 2023), antara PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dengan PT INKA. Nilai kontrak pengadaan KRL baru tersebut sebesar Rp3,85 triliun.
Dari 16 rangkaian kereta tersebut, Bobby menyampaikan sebanyak 5 rangkaian telah datang, dengan rincian 4 rangkaian kereta telah beroperasi pada 2025 dan 1 rangkaian kereta dalam masa uji coba pada Desember 2025. “Trainset yang saat ini dalam uji dan segera kami operasikan,” kata Bobby.
Peak Hour
Asal tahu saja, saat ini, menurut Bobby, satu gerbong kereta rel listrik (KRL) dipadati oleh sekitar 300 penumpang saat peak hour atau jam sibuk. “Perlu digarisbawahi, pada saat ini, satu gerbong pada peak hour itu penumpangnya sekitar 300 orang,” ucap Bobby.
Apabila dilihat dari ukuran gerbong dengan luas sekitar 60 meter persegi, lanjut dia, maka dalam 1 meter persegi dipadati oleh 5 orang. Dia menyampaikan, kepadatan tersebut akan terus bertambah dan mencapai 6 kali lipatnya pada 2030 apabila armada KRL tak segera ditambah.
“Kepadatan penumpang pada KRL mengakibatkan penurunan tingkat kenyamanan penumpang dan peningkatan risiko terhadap keamanan penumpang,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan stasiun-stasiun yang menjadi titik kepadatan penumpang, yakni Stasiun Bogor, Stasiun Depok, dan Stasiun Bekasi untuk stasiun-stasiun yang berada di luar Jakarta.
Sedangkan, untuk stasiun di Jakarta, terdapat empat stasiun yang menurutnya sangat padat, yakni Stasiun Sudirman, Stasiun Manggarai, Stasiun Tanah Abang, dan Stasiun Sudirman Baru. Ketika menyampaikan paparan, Bobby mengambil contoh kepadatan KRL yang dihadapi oleh penumpang Green Line atau jalur Rangkasbitung.
“Memang saat ini, kereta yang ke sana (Rangkasbitung) itu headway-nya masih 10–15 menit. Belum bisa kami perpendek headway-nya karena memang ada permasalahan sistem dari kelistrikan, elektrifikasinya, dan juga signaling-nya,” ujarnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Bobby menyampaikan pada 2026, KAI akan meningkatkan elektrifikasi 3 ribu kV menjadi 4 ribu kV. “Kami juga akan upgrade signaling system-nya,” kata Bobby.
Tinggalkan Komentar
Komentar