periskop.id - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan adanya bantuan kemanusiaan dari diaspora Aceh di Malaysia yang hingga kini masih tertahan karena belum mendapatkan izin masuk dari pihak Bea dan Cukai.

‎Tito menjelaskan, terdapat sekitar 500.000 warga Aceh yang bekerja di Malaysia dan memiliki hubungan keluarga dengan masyarakat di tanah air. Selain rutin mengirimkan bantuan uang kepada keluarga masing-masing, komunitas diaspora tersebut juga menggalang bantuan dalam bentuk barang kebutuhan pangan.

‎"Mereka selain membantu keluarganya masing-masing, bantuan uang, tapi mereka juga mengumpulkan barang-barang pangan terutama. Mereka sudah siap barangnya dikirim dari Port Klang di Kuala Lumpur, akan dikirim ke pelabuhan di Lhokseumawe, pelabuhan Krueng Geukueh namanya," kata Tito dalam Rakor Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/2).

‎Tito menegaskan bantuan tersebut bukan merupakan kerja sama antar-pemerintah (government to government/G2G), melainkan murni berasal dari komunitas masyarakat diaspora yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan warga di Aceh.

‎"Nah kemudian ini bukan G to G, tapi dari komunitas masyarakat di sana yang ada hubungan keluarga yang mereka bekerja di Malaysia," jelas Tito. 

‎Lebih lanjut, Tito juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar bantuan tersebut dapat diterima, sepanjang tidak mengandung barang-barang terlarang seperti narkotika, senjata api, maupun barang berbahaya lainnya.

‎"Bapak Presiden menyampaikan silakan diterima sepanjang jangan sampai ada barang-barang terlarang seperti narkoba, senjata api, dan lain-lain," tutup Tito.