periskop.id - Fenomena generasi muda yang memilih untuk tidak memiliki anak atau childfree kini menjadi perhatian serius pemerintah. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN meluncurkan Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai salah satu solusi.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa meski angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia saat ini berada di level ideal 2,1, tren childfree tetap perlu diantisipasi. 

“Kita bicara tentang adanya ketakutan beberapa warga kita untuk mempunyai anak, sehingga muncul yang kita sebut dengan childfree. Tentu kami sebagai kementerian harus punya jalan keluar untuk memastikan supaya yang cemas-cemas itu tidak cemas, salah satunya adalah program-program yang berkenaan dengan Tamasya, atau Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai bukti negara hadir,” ujarnya dikutip dari Antara, Rabu (25/2).

Data Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak per 20 Februari 2026 mencatat sudah ada 3.730 Tamasya yang beroperasi di seluruh Indonesia. Program ini menyediakan layanan penitipan anak, sehingga orang tua tetap bisa bekerja tanpa harus berhenti untuk mengurus anak.

Wihaji menekankan bahwa pembangunan kependudukan tidak hanya soal pengendalian jumlah, tetapi juga perencanaan kualitas. 

“Hal-hal yang menjadi prioritas kita dalam pembangunan kependudukan yakni kesehatan reproduksi. Kita pilih lagi yang prioritas, di daerah mana TFR (masih tinggi) untuk diberikan kontrasepsi,” jelasnya.

Selain itu, Kemendukbangga tengah menyusun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) untuk memastikan generasi Indonesia tumbuh lebih berkualitas. Edukasi kesehatan reproduksi, jaminan sosial, lapangan kerja, serta layanan kesehatan ibu dan anak menjadi faktor penting dalam menjawab kecemasan kaum muda.

Menurut Wihaji, ada tiga alasan utama yang mendorong anak muda memilih childfree: kecemasan psikologis, ekonomi, dan kesehatan fisik. 

“Tentu, tiga kecemasan ini harus saya jawab. Melalui Tamasya, mereka yang takut ketika nanti punya anak, atau bagaimana mengurus anak tanpa harus berhenti kerja, saya siapkan tempat penitipan anak, yang barangkali tidak bisa mengasuh anak, kita siapkan tempat mengasuh anak,” katanya.

Fenomena childfree sendiri bukan hanya terjadi di Indonesia. Jepang, misalnya, menghadapi krisis fertilitas dengan survei terbaru menunjukkan hampir 49,4% warganya tidak ingin memiliki anak. Negara-negara Eropa juga mengalami penurunan angka kelahiran drastis, sehingga pemerintah mereka harus mengeluarkan kebijakan insentif kelahiran.