periskop.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendukung rencana Presiden RI Prabowo Subianto menjadi juru damai konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Dukungan kelembagaan ini tetap mensyaratkan pertimbangan matang atas kondisi internal bangsa Indonesia sebelum mengambil langkah mediasi.

"Ya, saya mendorong Pak Presiden (Prabowo) untuk menjadi juru damai," kata Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis kepada MUI Digital, Senin (2/3).

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini mengingatkan kembali pentingnya penjagaan prinsip diplomasi bebas aktif. Langkah mediasi kepala negara di kancah global pantang melampaui batasan kebijakan luar negeri tersebut.

"Jadi saya dukung Pak Presiden untuk berperan bebas aktif untuk mendamaikan," tegasnya.

Konstitusi negara memiliki amanat sangat kuat guna menghapuskan segala bentuk penjajahan. Ajaran agama Islam juga menempatkan posisi pendamai sebagai tugas terhormat berganjar penghargaan dari Sang Pencipta.

"Termasuk juga harus menyebarkan perdamaian kepada seluruh alam semesta," ujarnya.

Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya mengonfirmasi kesediaan presiden terbang langsung menuju ibu kota Teheran. Kepala negara siap memfasilitasi dialog guna meredam ketegangan pemicu gangguan stabilitas regional.

"Presiden Indonesia bersedia melakukan perjalanan ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulis Kementerian Luar Negeri RI melalui akun X @Kemlu_RI.

Eskalasi Memanas, MUI Minta RI Mundur dari Board of Participation

MUI turut menyoroti efektivitas peran Amerika Serikat dalam Board of Participation (BoP) terkait penyelesaian konflik Palestina. Lembaga ini mempertanyakan keseriusan strategi diplomasi tersebut dalam mewujudkan perdamaian secara adil dan merata.

Situasi geopolitik saat ini justru dinilai hanya memperkuat ketimpangan arsitektur keamanan di kawasan Timur Tengah. Pihak MUI menduga ada motif strategis membatasi dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Para ulama secara tegas mendesak pemerintah Indonesia segera mencabut keanggotaan negara dari BoP. Keterlibatan dalam instrumen pengelolaan konflik tersebut terbukti sangat tidak efektif membawa kedamaian sejati.

MUI Keluarkan Tausiyah Respons Konflik AS dan Iran di Timur Tengah

Majelis ini resmi menerbitkan sepuluh poin tausiyah di Jakarta guna merespons eskalasi militer kawasan Timur Tengah. Dokumen bernomor Kep-28/DP-MUI/III/2026 tersebut keluar bertepatan dengan momen umat Islam sedunia menjalankan ibadah puasa suci Ramadhan.

Poin awal tausiyah ini menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan militer. Ulama mendoakan almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Sang Pencipta sebagai sosok syahid.

MUI mengutuk keras serangan militer Israel sokongan Amerika Serikat akibat melanggar nilai kemanusiaan dan ketertiban dunia. Sebaliknya, lembaga ini menilai serangan balasan Iran ke sejumlah pangkalan Teluk murni sebagai bentuk pembelaan diri sesuai hukum internasional.

Lembaga perwakilan ulama ini meminta umat Islam dunia memperbanyak doa serta rutin melaksanakan salat Qunut Nazilah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) wajib mengambil langkah maksimal menghentikan peperangan mematikan ini demi kedamaian global.