Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia berada di jalur yang tepat dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Ini karena konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan tidak memihak blok mana pun.
Prabowo mengatakan, situasi dunia saat ini dipenuhi ketegangan dan konflik di berbagai kawasan, seperti di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, meskipun Indonesia secara geografis berada jauh dari pusat konflik tersebut, dampaknya tetap bisa dirasakan karena dunia kini semakin terhubung.
"Bangsa kita, negara kita berada dalam jalur yang sudah benar. Kita berada di jalur tidak memihak. Kita selalu berada di jalur bebas aktif, non-blok," kata sebagaimana dikutip dalam tayangan langsung di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (9/3).
Presiden menilai kondisi global tersebut menjadi pengingat, pentingnya Indonesia menjaga sikap politik luar negeri yang independen dan tidak terikat pada kepentingan blok tertentu. Menurutnya, Indonesia tetap menghormati semua negara dan kekuatan dunia, sekaligus menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak tanpa harus memihak dalam konflik internasional.
Prabowo mengatakan sikap tersebut juga sejalan dengan nilai kebangsaan Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman. "Kita menghormati semua kekuatan, kita menghormati semua negara. Itulah Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri kita menghormati semua bangsa, menghormati semua agama, menghormati semua ras, menghormati semua kelompok etnis," bebernya. .
Ia menambahkan, pendekatan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia mampu menjaga stabilitas dan hidup damai, di tengah keberagaman ratusan kelompok etnis yang ada di Tanah Air.
"Inilah yang membuat Indonesia sekarang menikmati kondisi yang damai. Kita bisa hidup berdampingan ratusan kelompok etnis tapi kita bisa rukun," imbuh Prabowo.
Siaga 1
Sementara itu, Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Dankodaeral) III Laksamana Muda TNI Uki Prasetia mengatakan, pihaknya akan memperkuat pengamanan wilayah laut Jakarta sesuai dengan perintah siaga 1 dari panglima TNI, melalui telegram yang beredar beberapa waktu lalu.
"Eskalasi di laut jelas akan dilaksanakan penebalan (pengamanan) pada tempat-tempat tertentu, sektor tertentu yang sudah kita prioritaskan, yaitu objek vital nasional," kata Uki saat ditemui di Markas Kodaeral III, Jakarta Utara, Senin.
Uki menjelaskan penambahan pengamanan itu tidak hanya untuk mengantisipasi dampak konflik di timur tengah saja, melainkan juga untuk menjaga arus lalulintas kapal penumpang selama arus mudik di masa Lebaran.
"Kami laksanakan untuk penebalan tiap-tiap titik, terutama kemarin juga ada permintaan dari PT Pelindo dan PT Pelni, untuk melakukan penebalan terutama di pelabuhan-pelabuhan dan tempat-tempat tertentu," ujar Uki.
Saat ditanya berapa jumlah kapal ataupun personel yang akan dikerahkan untuk menjaga laut Jakarta, Uki tidak menjelaskan secara rinci. Sebelumnya, beredar informasi di tengah masyarakat soal Telegram Panglima TNI degan Nomor TR/283/2026.
Telegram itu berisi instruksi siaga 1 kepada seluruh jajaran TNI untuk mengantisipasi eskalasi konflik di Timur Tengah, terdapat tujuh poin instruksi yang tertera dalam telegram tersebut.
Salah satu poinnya yakni Panglima Komando Utama Operasi (Pangkotamaops) TNI menyiagakan personel dan alutsista di jajarannya dan melaksanakan patroli di objek vital (obvit) strategis dan sentra perekonomian. Hal itu termasuk di bandara, pelabuhan laut/sungai, stasiun kereta, dan terminal bus, serta kantor PLN.
Menyikapi beredarnya telegram tersebut, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah Sabtu (7/3), mengatakan, TNI memiliki tugas utama melindungi negara dan masyarakat dari ancaman negara asing.
"TNI bertugas secara profesional dan responsif, yang diwujudkan dengan senantiasa memelihara kemampuan dan kekuatan agar selalu siap operasional. Juga siap siaga mengantisipasi perkembangan di lingkungan strategis internasional, regional, maupun nasional," kata Aulia menjawab konfirmasi soal siaga 1 TNI.
Tinggalkan Komentar
Komentar