Periskop.id - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) DKI Jakarta kembali menemukan dua jasad korban yang tertimbun longsoran gunungan sampah, di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

"Pukul 12.05 WIB satu korban atas nama Jussova Situmorang berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia," kata Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari dalam keterangannya di Jakarta, Senin (9/3).

Selanjutnya pada pukul 17.50 WIB Tim SAR gabungan kembali menemukan korban yang teridentifikasi bernama Hardianto dalam kondisi meninggal dunia, di pinggir kali tertumpuk timbunan sampah.

"Keduanya langsung dibawa menuju RS Polri Kramat Jati untuk proses identifkasi," jelasnya. 

Desiana menambahkan saat ini pihaknya masih terus melakukan pendataan jumlah korban berdasarkan keterangan saksi dan keluarga yang kehilangan keluarganya.

Ia juga menjelaskan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mencari korban longsor bersama 336 personel gabungan, dengan mengerahkan alat berat. Termasuk pengerahan pasukan K9 untuk mencari tanda-tanda adanya korban.

"Selain itu pencarian juga dilakukan dengan menggunakan Drone Thermal untuk penyisiran melalui udara dengan mendeteksi panas tubuh," kata Desiana.

Berikut data terakhir korban longsoran sampah di TPST Bantargebang:

Jumlah Korban : 13 orang

Data Korban Selamat
1. Budiman (L)
2. Johan (L)
3. Safifudin ( L)
4. Slamet
5. Ato
6. Dofir

Data Korban Meninggal Dunia
1. Enda Widayanti (P, 25) (pemilik warung)
2. ⁠Sumine (P, 60) (pemilik warung)
3. ⁠Dedi Sutrisno (L) (sopir truck)
4. Irwan supriatin (L) (sopir Truk).
5. Jussova Situmorang (P, 38)
6. Hardianto

Data Korban dalam Pencarian
1. Riki

Evaluasi Pengelolaan TPST

Sementara itu, Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI segera mengevaluasi menyeluruh pengelolaan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang,, setelah terjadinya longsor yang mengakibatkan lima orang meninggal dunia.

"Saya meminta Pemprov DKI segera melakukan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan dan keamanan di Bantargebang. Keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan fasilitas sebesar ini," kata Kenneth di Jakarta, Senin.

Menurut dia, evaluasi penting dilakukan terhadap sistem keamanan, manajemen penumpukan sampah, hingga standar keselamatan bagi para pekerja yang beraktivitas di kawasan TPST Bantargebang. Kenneth juga menyampaikan duka cita yang mendalam atas peristiwa longsor yang terjadi di TPST Bantargebang dan mengakibatkan enam orang meninggal dunia.

Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi peringatan serius mengenai kondisi pe,ngelolaan sampah di Jakarta yang semakin mengkhawatirkan.

"Saya turut berduka cita yang mendalam atas peristiwa longsor yang terjadi di TPST Bantargebang," ujarnya.

TPST Bantargebang, kata dia, selama ini menampung sebagian besar sampah dari Jakarta dengan volume yang sangat besar setiap harinya. Kondisi tersebut membuat beban timbunan sampah terus meningkat dari waktu ke waktu.

Untuk itu, Pemprov DKI perlu mengevaluasi pengelolaan. Menurutnya, tanpa penataan yang serius dan sistem pengelolaan yang lebih modern, risiko bencana seperti longsor, kebakaran, pencemaran lingkungan hingga ancaman keselamatan bagi para pekerja dan masyarakat sekitar akan terus terjadi.

Anggota Komisi C DPRD DKI tersebut menilai, peristiwa ini harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan besar terhadap sistem pengelolaan sampah di Jakarta. Selama ini, pengelolaan sampah masih sangat bergantung pada metode penumpukan atau landfill yang semakin hari semakin penuh.

Menurut dia, beberapa langkah strategis yang perlu segera dilakukan antara lain memperkuat program pengurangan sampah dari sumbernya melalui pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

Selain itu, pemerintah juga diminta memperluas jaringan bank sampah di tingkat RW dan kelurahan, serta meningkatkan edukasi masyarakat agar sampah organik dan anorganik dapat dipisahkan sejak awal. "Dengan cara seperti itu, volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang dapat ditekan secara signifikan," ujarnya.

Di sisi lain, Kenneth juga mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi seperti waste to energy, refuse derived fuel (RDF), serta fasilitas pengolahan kompos untuk sampah organik.