Periskop.id - Pemerintah Aceh menargetkan ribuan korban bencana alam banjir bandang yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh, bisa menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh pemerintah sebelum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

"Target kita sebelum Idulfitri, seluruh masyarakat sudah masuk ke hunian sementara (Huntara) dan menerima dana tunggu hunian (DTH)," kata Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir didampingi Bupati Aceh Barat, Tarmizi di Meulaboh, Senin (9/3).

Ia mengatakan pemerintah menargetkan seluruh pengungsi sudah dapat meninggalkan tenda darurat dalam waktu dekat dalam bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan satgas yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri, guna mempercepat pemindahan pengungsi dari tenda pengungsian ke huntara yang saat ini masih terus dibangun.

M Nasir menyebutkan, saat ini progres pembangunan huntara di Provinsi Aceh dilaporkan telah mencapai 60%. Pemerintah juga berkomitmen menyelesaikan proses ini sebelum masa transisi menuju pemulihan berakhir pada 29 April mendatang.

Setelah fase huntara selesai, kata dia, pemerintah akan melanjutkan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi untuk membangun hunian tetap bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Sebelumnya, Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh hingga Januari 2026 lalu mencatat, sebanyak 91.962 jiwa dari 24.426 kepala keluarga (KK) terdampak banjir dan longsor Aceh masih bertahan di lokasi pengungsian sejak akhir November 2025 lalu.

Berdasarkan data Posko, secara keseluruhan, bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh berdampak pada 2.584.067 jiwa atau 670.826 KK. Dalam peristiwa tersebut, tercatat 561 orang meninggal dunia dan 30 orang dilaporkan hilang.

Untuk pengungsi yang masih bertahan terbanyak di Kabupaten Aceh Utara mencapai 33.261 jiwa atau 9.242 KK. Mereka tersebar di 210 titik pengungsian. Kemudian Kabupaten Gayo Lues dengan 18.944 jiwa atau 5.571 KK di 7 titik, disusul Pidie Jaya sebanyak 14.794 jiwa (4.037 KK) yang tersebar di 38 titik pengungsian.

Sementara itu, Aceh Tamiang ada 6.052 jiwa atau 707 KK pengungsi tersebar di 513 titik. Disusul Aceh Tengah dengan 5.306 jiwa (1.075 KK) di 61 titik, serta Bireuen 4.897 jiwa (1.397 KK) di 59 titik pengungsian.

Wilayah lain yang masih mencatat pengungsian antara lain Aceh Timur 3.862 jiwa (1.056 KK) di 53 titik, Nagan Raya 2.472 jiwa (817 KK) di enam titik, serta Bener Meriah dengan 2.116 jiwa yang tersebar di 39 titik pengungsian. Ada pun Kabupaten Pidie melaporkan 137 jiwa (30 KK) di dua titik dan Kota Lhokseumawe sebanyak 119 jiwa (37 KK).

Di sisi lain, dari 18 kabupaten/kota terdampak bencana sebelumnya, tujuh daerah dilaporkan tidak lagi memiliki titik pengungsian. Antara lain, Aceh Selatan, Subulussalam, Langsa, Aceh Barat, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Aceh Besar.

Percepatan Penyelesaian Huntara
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat ini memfokuskan upaya percepatan penyelesaian sisa 2.418 unit hunian sementara (huntara), dari total kebutuhan 4.189 unit bagi penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Senin (9/3) malam mengatakan, percepatan pembangunan huntara dilakukan melalui kolaborasi intensif antara pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan.

BNPB bersama Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, serta mitra kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, MER-C, Relief Box, Dedikasi Foundation, dan Global Peace Chain Indonesia, terus mempercepat proses pembangunan hunian tersebut.

"Pembangunan huntara saat ini telah memasuki tahap penyelesaian akhir dan diproyeksikan rampung sepenuhnya pada pekan kedua Maret 2026," ucapnya. 

Dengan akselerasi tersebut, ia menyebut bahwa BNPB optimistis seluruh penyintas dapat menempati hunian sementara yang lebih layak menjelang Hari Raya Idulfitri tahun ini.

Selain itu BNPB melaporkan, personel TNI secara bertahap melakukan pembongkaran tenda-tenda darurat yang sebelumnya digunakan sebagai tempat pengungsian. Hal ini seiring dengan mulai berpindahnya warga ke bangunan huntara.

Langkah tersebut dilakukan untuk menata kembali kawasan pengungsian setelah warga menempati hunian yang lebih permanen. Menurut Abdul, aktivitas pembongkaran berlangsung sejak Minggu (8/3) di sejumlah titik, antara lain di kawasan Kantor DPRK, Kampung Karang Bundar, serta Desa Durian dan Desa Benua.

Di Kecamatan Karang Baru, dari 142 unit huntara yang telah selesai dibangun, sebanyak 129 unit di antaranya sudah mulai ditempati oleh warga. Selain penyediaan tempat tinggal, pemerintah juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas selama masa transisi.

Setiap unit huntara dilengkapi dengan perlengkapan dasar seperti kasur, kompor beserta tabung gas, peralatan tidur, hingga kipas angin. Selain itu, bantuan paket sembako untuk kebutuhan sekitar 24 hari ke depan juga disalurkan, guna menjamin ketahanan pangan warga selama masa pemulihan pascabencana sekaligus Lebaran Idulfitri.