periskop.id - Pedagang di beberapa wilayah Indonesia mengeluhkan naiknya harga plastik yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan impor bahan baku plastik yang mengalami gangguan akibat perang yang terjadi di Timur Tengah.
Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengatakan bahwa kenaikan harga plastik tersebut mencapai 50% dari harga biasanya. Ia mengatakan kenaikan harga tersebut terjadi secara bertahap yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Sebelum Ramadan, harga plastik masih berada di rentang normal, kisaran Rp10.000. Namun, lambat laun harganya terus mengalami kenaikan hingga sebanyak 50%.
“Jauh sebelum memasuki Ramadan itu, masih 10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp500, naik Rp700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50%,” kata Reynaldi.
Kenaikan ini turut dipengaruhi oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik dari Timur Tengah. Apalagi, bahan baku utama plastik adalah nafta yang merupakan turunan dari minyak bumi. Kondisi tersebut semakin memperkuat kenaikan harga plastik di Indonesia.
Pedagang Terpaksa Potong Keuntungan
Sejumlah pedagang plastik di pasar terpaksa memangkas margin keuntungan demi menjaga daya beli masyarakat. Salah satunya dirasakan pedagang di Kota Padang yang mengeluhkan lonjakan harga.
Meliatrisinta, seorang pedagang plastik, mengungkapkan bahwa harga gelas plastik ukuran 473 mililiter yang sebelumnya dijual Rp24.000 per 50 buah kini naik menjadi Rp29.000. Kenaikan juga terjadi pada gelas ukuran 400 mililiter, dari Rp14.000 menjadi Rp21.000.
Kondisi itu memaksanya menekan keuntungan agar pelanggan tetap mampu membeli, terlebih banyak di antaranya merupakan anak sekolah dasar dengan uang jajan terbatas.
Situasi serupa juga dialami pedagang makanan di Jakarta. Sismiati, penjual seblak di Jakarta Timur, mengaku terbebani oleh kenaikan harga plastik dan stirofoam. Apalagi, ia harus mengemas dagangannya hingga tiga lapis. Ia menyebut, harga plastik yang sebelumnya Rp20.000 per 100 lembar kini melonjak menjadi Rp40.000.
“Sebelum puasa itu harganya masih Rp20.000 (isi 100). Nah pas puasa kemarin naik jadi Rp25.000. Pas lebaran kemarin Rp35.000, kemarin naik lagi ada yang Rp40.000,” ucap Sismiati.
Akibat kenaikan harga tersebut, ia pun terpaksa harus tetap mempertahankan harga agar masyarakat tetap bisa membeli dagangannya.
"Kasihan mereka nggak bisa beli. Jadi aku tetap enggak menaikkan (harga). Pedagang harus mengalah karena melihat masyarakat juga kebingungan. Mereka gaji enggak naik, (tapi) semua harga serba naik,” katanya.
Penyebab Harga Plastik Naik
Plastik pada dasarnya diproduksi dari nafta, yaitu salah satu turunan minyak bumi yang banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah. Konflik antara Iran dengan AS-Israel memengaruhi pasokan tersebut sehingga berdampak pada ketersediaan bahan baku plastik.
Per 1 April 2026, harga nafta tercatat melonjak hingga 917 USD per ton, naik signifikan dibandingkan Februari 2026 yang berada di kisaran 630 USD per ton.
Nafta sendiri menjadi bahan dasar bagi berbagai produk yang digunakan sehari-hari. Dari senyawa ini dihasilkan beragam bahan kimia, seperti butadiena yang dimanfaatkan dalam pembuatan sarung tangan karet dan ban.
Selain itu, nafta juga menghasilkan etilena yang digunakan untuk memproduksi polietilena, seperti bahan utama botol plastik, kontainer, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga. Turunan lainnya seperti propilena dimanfaatkan dalam pembuatan suku cadang otomotif, mainan, serta berbagai jenis kemasan.
Upaya Mencari Alternatif Lain
Para pelaku industri plastik kini mulai mencari alternatif pasokan bahan baku di luar Timur Tengah, seperti Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika Serikat. Namun, langkah ini tentu ada konsekuensinya tersendiri.
Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas), menjelaskan bahwa pengiriman bahan baku dari Timur Tengah umumnya hanya memakan waktu sekitar 15 hari. Sementara itu, pasokan dari wilayah lain bisa memerlukan waktu hingga 50 hari untuk tiba di Indonesia.
“Waktu pengiriman kalau dari Timur Tengah kan cukup sampai 15 hari. Kalau dari luar Timur Tengah, paling cepat itu 50 hari," katanya.
Selain mencari sumber pasokan baru, upaya lain yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan LPG sebagai bahan baku alternatif yang olahannya dapat menghasilkan resin plastik. Menurut Fajar, harga LPG umumnya cenderung lebih terjangkau pada periode Juni hingga Agustus.
“Tapi ada tantangan, LPG ini kan selama ini masih digunakan sebagai bahan bakar. Nah, sekarang mau kita gunakan sebagai bahan baku,” katanya.
Ia juga mendorong para pelaku usaha untuk mencari alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada plastik. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Memanfaatkan bahan daur ulang untuk menekan biaya sekaligus menjaga ketersediaan pasokan.
- Beralih ke kemasan berbahan kertas yang dipadukan dengan material lain.
- Mengoptimalkan ukuran kemasan tanpa mengurangi fungsi utamanya dalam melindungi produk.
Tinggalkan Komentar
Komentar