periskop.id - Cuaca ekstrem kembali menguji operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Senin. Hujan deras disertai potensi windshear, perubahan arah angin mendadak yang berbahaya bagi pesawat saat fase pendaratan, memaksa sejumlah penerbangan dialihkan demi keselamatan.
Assistant Deputy Communication and Legal PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Cabang Soekarno-Hatta, Yudistiawan, menegaskan bahwa keputusan pengalihan ini diambil untuk menjaga keselamatan penerbangan.
“Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah pergerakan penerbangan, khususnya pada fase pendaratan di Bandara Soetta,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (6/4).
Data dari Airport Operation Control Center (AOCC) mencatat 12 penerbangan dialihkan ke bandara lain. Selain itu, 14 penerbangan melakukan prosedur holding di udara, 13 penerbangan melakukan go around atau kembali naik setelah gagal mendarat, dan satu penerbangan kembali ke apron (Return to Apron/RTA).
“Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan operasional,” tambah Yudistiawan.
Koordinasi intensif dilakukan antara otoritas bandara, AirNav Indonesia, dan maskapai untuk memastikan operasional tetap terkendali. Meski sisi udara seperti runway, taxiway, dan apron dipastikan aman tanpa genangan, cuaca ekstrem sempat merusak atap Terminal 3 di area Boarding Lounge Gate 7.
“Cuaca ekstrem ini juga berdampak adanya gangguan di satu titik atap area Boarding Lounge Gate 7 Terminal 3,” jelasnya.
Fenomena windshear sendiri bukan hal baru di dunia penerbangan. Menurut Federal Aviation Administration (FAA), windshear dapat menyebabkan pesawat kehilangan kecepatan atau ketinggian secara tiba-tiba, sehingga bandara besar biasanya dilengkapi sistem deteksi khusus.
Bandara Soekarno-Hatta juga memiliki Low Level Windshear Alert System (LLWAS) yang membantu pilot dan pengatur lalu lintas udara mengantisipasi kondisi berbahaya.
Yudistiawan menambahkan, personel bandara siaga 24 jam untuk memantau infrastruktur. Jika ditemukan potensi gangguan, area segera disterilisasi dari penumpang maupun pekerja.
“Saat ini area tersebut dalam kondisi bersih dan situasi telah kembali kondusif, dengan operasional bandara tetap berjalan lancar,” katanya.
Tinggalkan Komentar
Komentar