Periskop.id - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjamin stok beras nasional mencukupi, di tengah potensi ancaman fenomena Godzilla El Nino yang melanda Indonesia pada 2026.
"Stok tadi pagi 4,7 juta ton dan itu tertinggi selama Republik Indonesia Merdeka," kata Mentan Andi Amran Sulaiman di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (14/4), seperti dilansir Antara.
Hal tersebut disampaikan Mentan saat meninjau langsung progres penanganan lahan pertanian yang terdampak bencana, di Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar.
Selain stok 4,7 juta ton di gudang Bulog, Mentan menyebut juga terdapat pasokan sebesar 12 juta ton di restoran, ditambah padi siap panen (standing crop) sekitar 11 juta ton. Secara akumulasi pasokan ini mencukupi untuk kebutuhan 10 bulan ke depan.
"Kekeringan itu enam bulan, jadi aman ,kan? Begitu cara menghitungnya," tuturnya.
Oleh karena itu, Mentan mengimbau masyarakat untuk tidak panik menyikapi adanya potensi ancaman fenomena Godzilla El Nino. Di saat bersamaan pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait juga terus mengupayakan antisipasi dampak fenomena alam tersebut agar tidak terlalu berdampak pada sektor pertanian.
Sebelumnya, Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas RI Medrilzam saat berkunjung ke Kota Padang mengingatkan, pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak Godzilla El Nino yang berpotensi besar melanda Indonesia pada 2026.
Lebih Kering
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan musim kemarau tahun 2026 berpotensi bersifat lebih kering jika dibandingkan dengan nilai rata-ratanya selama periode 30 tahun terakhir.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab menjelaskan, selain lebih kering, musim kemarau tahun ini diprakirakan akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.
"Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun," kata Fachri dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76 Stasiun Klimatologi Jawa Barat "Observing Today, Protecting Tomorrow" di Jakarta, Selasa.
Fachri meluruskan informasi di ruang publik belakangan ini yang menyebutkan kemarau 2026 sebagai yang paling ekstrem. Bahkan sejumlah pihak menamai dengan sebutan yang terkesan sangat mengerikan Kemarau Godzila atau El-Nino Godzila.
BMKG, lanjutnya, tidak menggunakan istilah tersebut, kata dia, dan menilai fenomena yang digambarkan itu tidak sepenuhnya benar, cenderung berlebihan untuk disampaikan kepada publik. Jika dibandingkan tahun per tahun, terangnya, kemarau tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih dahsyat, tetapi kondisi tahun ini diprediksi memang lebih kering dibandingkan tahun 2023.
Kondisi kemarau tahun ini menurutnya dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026. Kehadiran fenomena inilah yang berpengaruh pada berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah Indonesia
"Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya," jelasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar