Periskop.id - Taman Nasional Kutai atau TN Kutai di Kalimantan Timur menjadi salah satu benteng penting pelestarian satwa liar di Pulau Kalimantan. Kawasan konservasi ini tercatat menjadi habitat bagi 324 spesies fauna, termasuk sejumlah satwa endemik dan terancam punah yang membutuhkan perlindungan khusus.

Kepala Balai Taman Nasional Kutai Syaiful Bahri mengatakan, kawasan TN Kutai terus dioptimalkan sebagai ruang hidup bagi berbagai jenis fauna. Tidak hanya melindungi satwa yang masih mudah dijumpai, pengelola juga memprioritaskan pemantauan terhadap satwa langka yang populasinya rentan terganggu oleh perubahan habitat.

Advertisement

"Kami mencatat keanekaragaman fauna di Taman Nasional Kutai sebanyak 324 spesies, terdiri atas 90 jenis mamalia, 196 jenis kupu-kupu, dan 38 jenis fauna goa," kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai Syaiful Bahri di Samarinda, Kamis (11/6). 

Dari ratusan fauna tersebut, tiga spesies menjadi perhatian utama Balai TN Kutai, yakni orangutan Kalimantan timur laut atau Pongo pygmaeus morio, bekantan atau Nasalis larvatus, serta banteng liar Kalimantan atau Bos javanicus lowi. Ketiganya merupakan satwa penting yang keberadaannya menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan Kalimantan.

Orangutan Kalimantan timur laut, misalnya, membutuhkan bentang hutan yang luas dan relatif terhubung untuk mencari makan, membuat sarang, serta berkembang biak. Bekantan bergantung pada ekosistem riparian, hutan rawa, dan mangrove. Sementara banteng liar Kalimantan membutuhkan ruang jelajah yang aman dari perburuan, fragmentasi habitat, dan gangguan manusia.

Untuk menjaga keberadaan satwa-satwa tersebut, Balai TN Kutai mulai mengandalkan teknologi pemantauan di lapangan. Dua instrumen utama yang digunakan adalah drone thermal dan kamera jebak atau camera trap. Teknologi ini membantu petugas memantau satwa tanpa harus selalu melakukan kontak langsung di habitatnya.

Kamera Jebak
Syaiful mengatakan, penggunaan kamera jebak membutuhkan waktu karena satwa liar perlu beradaptasi dengan keberadaan alat pemantau. Namun, teknologi itu terbukti membantu pengelola menemukan kembali jejak satwa yang sebelumnya sulit terpantau.

"Walaupun membutuhkan waktu hingga bulan ketiga agar hewan terbiasa dan mulai terekam, instrumen kamera jebak tersebut sangat membantu dalam menemukan kembali satwa langka, sebagai contoh kucing hutan jenis macan dahan yang sebelumnya disangka telah tiada," ucap Syaiful.

Selain macan dahan, kamera pemantau juga merekam pergerakan burung tokhtor Kalimantan. Alat tersebut turut memastikan keberadaan burung kuau yang sempat ditemukan di wilayah Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan TN Kutai masih menyimpan keanekaragaman hayati penting. Pada saat yang sama, data pemantauan juga menjadi dasar bagi pengelola untuk menentukan strategi perlindungan, mulai dari patroli kawasan, pemetaan habitat, hingga penentuan area prioritas konservasi.

Balai TN Kutai menyadari bahwa upaya pelestarian satwa tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu, pengelola menggandeng sejumlah lembaga non-pemerintah untuk memperkuat program konservasi. Salah satu kolaborasi dilakukan bersama Yayasan Jejak Pulang dari Samboja, terutama untuk memperkuat konservasi orangutan.

"Fokus utama kolaborasi tersebut saat ini adalah melakukan kajian terkait kelayakan habitat di kawasan hutan TNK sebagai titik pelepasliaran bagi orangutan yang telah siap dikembalikan ke alam bebas," paparnya.

Kajian kelayakan habitat menjadi tahapan penting sebelum orangutan dilepasliarkan. Pengelola perlu memastikan kawasan tujuan memiliki ketersediaan pakan, tutupan hutan, minim gangguan manusia, serta cukup aman untuk mendukung proses adaptasi orangutan setelah kembali ke alam.

Selain kerja sama untuk orangutan, Balai TN Kutai juga menjalin kolaborasi dengan Yayasan Orangutan Indonesia atau Yayorin. Kerja sama ini difokuskan pada pendampingan perlindungan sisa populasi banteng Kalimantan di kawasan TN Kutai.

Banteng Kalimantan menjadi salah satu satwa yang keberadaannya semakin penting untuk dipantau. Populasi yang tersisa membutuhkan perlindungan habitat dan pengawasan intensif karena satwa besar seperti banteng sangat rentan terhadap tekanan perburuan, konflik ruang, dan perubahan tutupan lahan.

Dalam konteks konservasi, keberadaan TN Kutai memiliki nilai strategis karena kawasan ini berada di tengah bentang alam Kalimantan Timur yang juga terus berkembang. Wilayahnya mencakup Kota Bontang, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kabupaten Kutai Timur. Posisi tersebut membuat pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan koordinasi lintas wilayah serta dukungan masyarakat di sekitar hutan.

Warga Lokal
Syaiful mengatakan, pelibatan warga lokal menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan. Balai TN Kutai mengembangkan pendekatan pariwisata minat khusus dengan menggandeng Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi penjaga kawasan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

"Pelibatan masyarakat diwujudkan melalui pengembangan pariwisata minat khusus yang menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk menjadikan warga sebagai garda terdepan pelindung hutan sekaligus penggerak ekonomi daerah lewat program Perhutanan Sosial," ungkap Syaiful.

Model pelibatan masyarakat ini penting karena konservasi tidak cukup hanya mengandalkan patroli dan larangan. Warga yang tinggal di sekitar kawasan perlu mendapat ruang untuk memperoleh manfaat ekonomi yang sejalan dengan perlindungan alam. Dengan begitu, hutan dan satwa liar tidak dipandang sebagai penghalang aktivitas ekonomi, melainkan sebagai aset ekologis yang dapat dijaga bersama.

TN Kutai sendiri merupakan kawasan pelestarian alam seluas 193.753,42 hektare. Kawasan ini memiliki tujuh tipe ekosistem, dengan dominasi hutan dipterokarpa seluas 145.745,46 hektare. Hutan dipterokarpa merupakan salah satu ekosistem penting di Kalimantan karena menjadi habitat berbagai jenis mamalia, burung, serangga, dan tumbuhan khas hutan hujan tropis dataran rendah.

Profil resmi kawasan konservasi Kementerian Kehutanan juga mencatat TN Kutai memiliki kekayaan hayati yang besar. Kawasan ini disebut menjadi habitat bagi lebih dari separuh jenis mamalia Borneo dan memiliki 11 dari 13 spesies primata Kalimantan. Selain itu, TN Kutai juga dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi burung di Kalimantan.

Kekayaan hayati tersebut membuat TN Kutai memiliki fungsi ekologis yang besar. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat hidup satwa liar, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem, menyimpan cadangan karbon, melindungi sumber air, dan menjadi ruang penelitian serta pendidikan konservasi.

Namun, besarnya potensi keanekaragaman hayati juga diikuti tantangan yang tidak ringan. Pengelola kawasan harus menghadapi risiko gangguan habitat, perburuan, perubahan tutupan lahan, serta tekanan dari aktivitas manusia di sekitar kawasan. Karena itu, penggunaan teknologi pemantauan, kerja sama dengan lembaga konservasi, dan pelibatan masyarakat menjadi kunci agar perlindungan satwa tidak berhenti pada pendataan.

Dengan 324 spesies fauna yang tercatat, TN Kutai menjadi salah satu kawasan penting bagi masa depan konservasi satwa Kalimantan. Keberhasilan menjaga orangutan, bekantan, banteng liar, macan dahan, dan berbagai fauna lain akan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan, perlindungan habitat, serta kemampuan membangun hubungan yang seimbang antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.