periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terbaru soal musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Lembaga itu juga mendorong masyarakat menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, terutama terkait ketersediaan air, potensi kekeringan, dan risiko kebakaran hutan serta lahan.

Berdasarkan perhitungan awal Juni 2026, El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027. BMKG mencatat peluang intensitasnya menyentuh kategori Moderat mencapai 98%, sementara peluang kategori Kuat berada di angka 62%.

Advertisement

"BMKG memperkirakan puncak Musim Kemarau terjadi pada Juli-September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. Di saat yang sama, peluang El Nino mencapai kategori moderat hingga kuat, yang dapat memengaruhi kondisi cuaca dan iklim selama musim kemarau," tulis BMKG dalam unggahan Instagram @infobmkg, Kamis (18/6).

BMKG membagi jadwal puncak kemarau 2026 ke dalam tiga kelompok berdasarkan Zona Musim (ZOM). Masing-masing mencakup wilayah yang berbeda di seluruh Indonesia.

Puncak kemarau Juli diprediksi melanda 8 ZOM atau sekitar 12,26% wilayah nasional. Cakupannya meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, NTT bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat bagian tengah, Papua Barat Daya bagian selatan, dan Papua bagian timur.

Agustus menjadi bulan dengan cakupan terluas, yakni 369 ZOM atau 48,84% wilayah nasional. Wilayah yang masuk kelompok ini antara lain Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Papua.

Sementara itu, puncak kemarau September mencakup 169 ZOM atau 25,41% wilayah. Daerah-daerahnya meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

BMKG juga menegaskan, meski El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027, dampak langsungnya bagi Indonesia hanya akan terasa selama musim kemarau berlangsung.

"Meskipun begitu, fenomena ini hanya akan memberi dampak langsung bagi wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026," tulis BMKG.

Untuk menekan dampak kemarau, BMKG merilis rekomendasi lintas sektor. Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas hemat air. Sektor sumber daya air diminta merevitalisasi waduk serta memperbaiki jaringan pipa air bersih, sementara sektor energi perlu memastikan kapasitas air bendungan mencukupi untuk operasional PLTA. Di sektor kesehatan, pemerintah daerah wajib menyiapkan respons cepat guna mengantisipasi polusi udara pemicu ISPA.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan, lembaganya terus aktif mendampingi berbagai pihak di daerah agar siap menghadapi kondisi iklim saat ini.

"BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah. Seperti Pemerintah Daerah, Forkopimda, BPBD, dan semua pihak yang membutuhkan informasi yang lebih detail dan cara memitigasi serta beradaptasi terkait kondisi iklim yang terjadi saat ini," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.