Periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara distribusi Program Makan Bergizi Gratis selama libur panjang sekolah. Langkah strategis ini ditaksir mampu menghemat uang negara hingga lebih dari Rp3 triliun.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional sekaligus Juru Bicara BGN Agustina Arumsari menjelaskan, pembekuan operasional tersebut sejalan dengan penerbitan regulasi terbaru. Keputusan itu diambil untuk menata ulang sistem manajerial sekaligus menekan pemborosan sumber daya pemerintah.

Advertisement

"Kebijakan yang kami ambil adalah kami benar-benar tidak mendistribusikan Makan Bergizi Gratis dengan maksud untuk standardisasi tata kelola operasional dan efisiensi sumber daya," tutur Agustina dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/6).

Ia memaparkan, kalender libur pendidikan formal yang ditetapkan otoritas terkait bergulir sejak 22 Juni hingga 13 Juli 2026. Momentum jeda aktivitas akademik ini dimanfaatkan penuh oleh instansinya untuk membenahi standar pelayanan secara nasional.

Ia turut menyoroti kelemahan aturan lama yang selalu membayarkan insentif Rp6 juta per hari kepada seluruh Satuan Pelayanan Program Gizi. Model pembayaran rata ini dinilai merugikan karena volume sasaran penerima sering kali tidak mencapai target maksimal.

Penutupan keran dana diberlakukan tanpa pandang bulu terhadap seluruh dapur mitra yang menganggur selama periode liburan. Prinsip kerja logis diterapkan, di mana penyedia yang tidak melayani asupan siswa tidak akan menerima sepeser pun uang rakyat.

"Di dalam SE ini menegaskan dengan tidak didistribusikannya MBG, maka seluruh SPBG yang tidak beroperasi tidak akan mendapat insentif," tegasnya.

BGN telah menghitung rinci proyeksi penghematan dari penyetopan subsidi rutin tersebut. Total 27.820 unit pelayanan dikalikan insentif harian selama 18 hari rehat sekolah menghasilkan akumulasi dana yang sangat masif.

"Kita sudah bisa melakukan efisiensi insentif SPBG itu sebesar Rp3 triliun 4 miliar 560 juta. Lumayan angkanya ya," rinci Agustina.

Penyetopan dana ini dieksekusi secara otomatis melalui sistem perbankan guna meminimalisasi celah kecurangan. Pihak manajemen menahan aliran saldo ke rekening virtual mitra pengelola makanan sebagai metode kontrol berlapis.

"Dengan kita tidak mengirimkan top up di dalam virtual account, itu otomatis SPBG tidak bisa beroperasional," pungkas Agustina.