periskop.id - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari memaparkan hasil riset dampak positif program Makan Bergizi Gratis.

Riset tersebut dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Advertisement

Hasil riset menunjukkan intervensi pangan tersebut secara nyata berhasil memperbaiki kualitas asupan nutrisi anak-anak sekolah.

Menurutnya, perubahan positif yang sangat mencolok terlihat pada melonjaknya tingkat konsumsi buah-buahan di kalangan siswa penerima manfaat.

Qodari menjelaskan bahwa pasokan pangan bergizi tersebut secara langsung mendongkrak kebiasaan makan buah yang kaya vitamin dan serat.

"Kalau kita bicara Vitamin C, bicara buah bagus untuk pencernaan, ternyata anak-anak kita dulu itu sedikit sekali yang makan buah. Mayoritas nggak makan buah, sekarang sudah naik 58 persen dari 26 persen ke 84 persen," kata Qodari kepada wartawan di Jakarta, Kamis (18/6).

Ia melanjutkan, tren perbaikan gizi ini juga ditunjukkan oleh peningkatan konsumsi protein hewani yang sangat signifikan.

Berdasarkan data riset yang sama, angka konsumsi protein kelompok siswa tersebut melesat dari 65% menjadi 90%.

"Ini kan bagus. Kita ingin sepak bola Indonesia maju kan, badannya gede, tinggi kaya pemain Jepang kan, badannya sudah gede, tinggi, otaknya cerdas, gizinya bagus. Jangan lagi kita dibilang bangsa yang IQ-nya kurang. Itu dari mana? Dari protein," ujar Qodari.

Dirinya juga menyampaikan bahwa program ini efektif mengatasi persoalan mendasar siswa yang sering menahan lapar saat jam pelajaran berlangsung.

Kondisi kelaparan tersebut dinilai menjadi pemicu utama merosotnya konsentrasi belajar anak di kelas.

Sebelum program ini berjalan, riset mencatat ada sekitar 56% murid yang terpaksa mengikuti kegiatan belajar-mengajar dalam keadaan perut kosong. Namun, situasi tersebut dilaporkan langsung membaik setelah kebijakan makan gratis diimplementasikan.

"Besar itu penurunannya," kata Qodari.

Di sisi lain, jumlah siswa yang berada dalam kondisi kenyang saat menyerap materi pelajaran di sekolah dilaporkan melonjak dari 43% menjadi 84%. Angka ini disebut sebagai salah satu bukti konkret keberhasilan program yang belum banyak diketahui publik.

"Ini manfaat yang orang belum tahu," kata dia.

Selain berfokus pada kesehatan anak, kebijakan ini juga disebut membawa dampak multiplikasi ekonomi yang masif bagi sektor usaha mikro.

Qodari mengungkapkan bahwa sebanyak 86% pemasok logistik program ini melaporkan lonjakan omzet usaha mereka.

Penyediaan bahan baku tersebut nyatanya didominasi oleh pelaku usaha kecil di daerah. Struktur mitra penyuplai ini tercatat terdiri dari 62% UMKM lokal, 18% koperasi, serta 14% UMKM di tingkat provinsi.

"Jadi, sebetulnya banyak aspek positif dari MBG ini. Jangan lihat sisi negatifnya saja. Sisi negatifnya kita koreksi, sisi positifnya terus kita tingkatkan," tutup Qodari.