Periskop.id - TNI Angkatan Udara meresmikan Skuadron Udara 18 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Satuan baru ini disiapkan sebagai rumah operasional pesawat Dassault Falcon 8X, jet buatan Prancis yang digunakan untuk mendukung penerbangan VIP dan VVIP negara.
Peresmian Skuadron Udara 18 dilakukan langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, Kamis (18/6). Kehadiran skuadron baru ini menjadi bagian dari penguatan organisasi TNI AU, terutama dalam memastikan dukungan penerbangan kenegaraan berjalan lebih aman, andal, dan profesional.
Tonny menegaskan, tugas penerbangan VIP dan VVIP bukan sekadar mengangkut pejabat atau tamu penting negara. Menurut dia, setiap misi membawa tanggung jawab besar karena menyangkut kepercayaan negara terhadap TNI AU.
"Dukungan penerbangan VIP dan VVIP merupakan amanat kehormatan yang menuntut profesionalisme, keamanan, serta tanggung jawab yang tinggi. Setiap misi membawa kepercayaan negara sekaligus mencerminkan kualitas pengabdian TNI Angkatan Udara dalam mendukung tugas-tugas kenegaraan,” ujar Tonny dalam siaran pers resmi TNI AU yang diterima di Jakarta.
Dengan pembentukan Skuadron Udara 18, TNI AU ingin memperkuat kesiapan satuan yang secara khusus menangani layanan penerbangan bagi tamu penting kenegaraan dan pejabat tinggi negara. Skuadron ini berada di bawah Wing Udara 1.1 Angkut dan berpangkalan di Lanud Halim Perdanakusuma.
Tonny menilai, pembentukan satuan baru ini tidak hanya bermakna sebagai penambahan struktur organisasi. Lebih jauh, Skuadron Udara 18 juga diharapkan meningkatkan profesionalisme personel, kualitas pemeliharaan pesawat, kesiapan operasi, serta standar keselamatan dalam setiap penerbangan.
Dalam upacara tersebut, Tonny juga mengukuhkan Letkol Pnb Rachmad Syaputra sebagai Komandan Skuadron Udara 18. Ia mendapat kepercayaan untuk memimpin satuan baru yang mengawaki armada Falcon 8X.
TNI AU menyatakan, seluruh kebutuhan fasilitas dan operasional pesawat Falcon 8X telah disiapkan. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan, kesiapan tersebut mencakup aspek pendukung operasional agar pesawat dapat menjalankan misi secara optimal.
Menurut keterangan TNI AU, terdapat enam pesawat Falcon 8X yang berada di satuan tersebut. Seluruhnya dipastikan dalam kondisi siap untuk mendukung tugas penerbangan kenegaraan dan kebutuhan pertahanan udara Indonesia.
Jet Bisnis Jarak Jauh
Falcon 8X merupakan jet bisnis jarak jauh produksi Dassault Aviation, Prancis. Pesawat ini dikenal memiliki kemampuan terbang lintas benua, kabin yang dapat dikonfigurasi untuk kebutuhan VIP/VVIP, serta daya jelajah panjang. Berdasarkan spesifikasi pabrikan, Falcon 8X mampu menjangkau sekitar 6.450 nautical mile atau 11.945 kilometer dan dapat mengangkut 12 hingga 16 penumpang, tergantung konfigurasi kabin.
Kemampuan jarak jauh tersebut membuat Falcon 8X relevan untuk misi kenegaraan, terutama ketika pejabat negara harus bergerak cepat ke berbagai wilayah dalam dan luar negeri. Selain itu, pesawat ini juga memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan yang relatif pendek, sehingga lebih fleksibel digunakan pada berbagai bandara.
Sebelum Skuadron Udara 18 diresmikan, armada Falcon 8X telah lebih dulu memperkuat TNI AU melalui Skuadron Udara 17 di Lanud Halim Perdanakusuma. Pada 2022, Kementerian Pertahanan menyerahkan pesawat Falcon 7X dan Falcon 8X kepada TNI AU untuk mendukung mobilitas pimpinan TNI.
Saat itu, Prabowo Subianto yang masih menjabat Menteri Pertahanan menjelaskan fungsi pesawat tersebut sebagai pesawat komando dan pengendalian bagi unsur pimpinan.
"Dua pesawat yang kami sebut pesawat kodal, komando pengendalian ini, diperuntukkan untuk unsur pimpinan agar dapat dengan cepat bergerak untuk melaksanakan fungsi kepemimpinannya mendukung markas besar TNI dan markas besar tiga angkatan. Jadi, pimpinan TNI, pimpinan angkatan, bisa lebih memiliki kecepatan bergerak," kata Prabowo usai meresmikan kedua pesawat tersebut secara simbolis sekaligus di Hanggar Skadron Udara 17, Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu.
Pada 2026, penguatan armada TNI AU berlanjut. Presiden Prabowo Subianto meninjau sejumlah alat utama sistem persenjataan baru di Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 Mei 2026. Alutsista tersebut mencakup enam pesawat tempur Rafale, empat Falcon 8X, satu Airbus A400M, radar GCI GM403, Smart Weapon Hammer, dan rudal Meteor.
Dengan demikian, peresmian Skuadron Udara 18 dapat dilihat sebagai kelanjutan dari proses modernisasi dan penataan organisasi TNI AU. Setelah armada bertambah, TNI AU membutuhkan satuan yang lebih fokus untuk mengelola kesiapan pesawat, awak, teknisi, dan dukungan operasi.
Skuadron Khusus
Dalam konteks pertahanan, pesawat seperti Falcon 8X memang tidak berperan sebagai pesawat tempur. Namun, pesawat VIP/VVIP dan komando pengendalian tetap memiliki fungsi strategis. Mobilitas cepat bagi pimpinan negara dan unsur komando penting dalam situasi kenegaraan, operasi militer, diplomasi pertahanan, serta penanganan krisis.
Selain itu, keberadaan skuadron khusus juga membantu pemisahan fungsi operasional. Pesawat yang dipakai untuk dukungan kenegaraan membutuhkan standar pengamanan, prosedur penerbangan, pemeliharaan, dan kesiapan kru yang ketat. Dengan satuan tersendiri, TNI AU dapat memperkuat spesialisasi dan akuntabilitas dalam pengelolaan armada Falcon 8X.
Peresmian Skuadron Udara 18 menjadi sinyal bahwa modernisasi TNI AU tidak hanya menyangkut pembelian pesawat baru, tetapi juga kesiapan organisasi yang mengoperasikannya. Tanpa personel terlatih, fasilitas memadai, dan prosedur yang disiplin, tambahan armada tidak akan memberi dampak maksimal.
Bagi TNI AU, pekerjaan berikutnya adalah memastikan Skuadron Udara 18 benar-benar mampu menjaga standar keselamatan dan kesiapan armada. Sebab, dalam penerbangan VIP/VVIP, kegagalan kecil dapat berdampak besar, baik terhadap keselamatan penumpang maupun citra negara.
Dengan berdirinya Skuadron Udara 18, Falcon 8X kini memiliki satuan yang lebih khusus untuk mendukung tugas kenegaraan. Kehadirannya mempertegas peran Lanud Halim Perdanakusuma sebagai salah satu pusat utama operasi penerbangan penting negara sekaligus basis modernisasi armada udara TNI AU.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar