periskop.id - Jeffrey Hendrik ditunjuk sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk masa jabatan 2026–2030 berdasarkan Surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nomor SR-10/D.04/2026 tertanggal 17 Juni 2026 tentang Penetapan Calon Anggota Direksi PT BEI periode 2026–2030.

Penetapan ini sekaligus mengukuhkan Jeffrey sebagai pemimpin baru BEI setelah sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Sementara Direktur Utama sejak Januari 2026 dan Direktur Pengembangan BEI pada periode 2022–2026.

Advertisement

Dalam dokumen riwayat hidup yang tercantum dalam lampiran surat OJK tersebut, Jeffrey Hendrik merupakan Warga Negara Indonesia yang lahir di Tebing Tinggi pada 6 September 1972. Ia merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Trisakti tahun 1995, setelah menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Tebing Tinggi, SMP F. Tendean Tebing Tinggi, dan SD F. Tendean Tebing Tinggi.

Selain pendidikan formal, Jeffrey juga memiliki rekam jejak pendidikan non-formal yang cukup luas, mulai dari pelatihan strategi dan perencanaan organisasi di Oxford Management Centre pada November 2025 hingga berbagai pelatihan terkait keuangan syariah, inovasi keuangan digital, anti penyuapan, serta penerapan program anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di sektor jasa keuangan pada periode 2021–2022. Ia juga mengikuti program pendidikan berkelanjutan bagi direksi perusahaan efek yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI).

Jeffrey memiliki pengalaman panjang di industri pasar modal Indonesia. Ia mengawali karier di PT Zone Pratama pada 1994–1996, kemudian melanjutkan sebagai Corporate Finance di PT Transpacific Securindo pada 1996–1999. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Phintraco Sekuritas pada 1999–2022 sebelum bergabung dengan BEI.

Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik dalam wawancara cegat seusai acara "Pemberian Penghargaan kepada Anggota Bursa Pemenang Most Active Structured Product Securities Company dan Penghargaan Khusus Investor Reward Program 2025" di Gedung BEI, Jakarta, Senin (24/11/2025). ANTARA/ Muhammad Heriyanto/am. ANTARA/Muhammad Heriyanto

Di lingkungan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey menjabat sebagai Direktur Pengembangan pada 2022–2026 sebelum kemudian dipercaya sebagai Pejabat Sementara Direktur Utama sejak Januari 2026. Dalam periode ini, ia juga terlibat dalam berbagai penguatan ekosistem pasar modal, termasuk pengembangan infrastruktur perdagangan dan inisiatif perluasan pasar.

Selain itu, Jeffrey juga berperan dalam pengembangan perdagangan karbon di Indonesia, termasuk keterlibatannya dalam peluncuran Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) sejak 2022. Ia berkontribusi dalam pengembangan infrastruktur, integrasi dengan Sistem Registri Nasional, serta penguatan ekosistem perdagangan karbon dan inisiatif ESG seperti Net Zero Incubator. Ia juga mengikuti sejumlah forum internasional, termasuk Conference of the Parties (COP30) di Belém pada November 2025 serta studi komparatif carbon pricing di Inggris pada 2022 dan 2024 melalui kerja sama Indonesia–UK PACT.

Di luar aktivitas profesional, Jeffrey tercatat aktif dalam berbagai organisasi, termasuk Kelompok Kerja Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah sejak 2024, Joint Sustainable Finance Working Group (JSFWG) Industry Advisory Panel, serta pernah menjadi anggota Task Force Keuangan Berkelanjutan OJK pada 2021–2022. Ia juga memiliki keterlibatan dalam Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dan Komite Perdagangan dan Penyelesaian Transaksi Efek BEI pada periode sebelumnya.