Periskop.id - Gangguan kecemasan (anxiety) di kalangan remaja dan dewasa muda saat ini dilaporkan semakin meningkat tajam. Berdasarkan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat ada lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia yang hidup dengan gangguan kesehatan mental.
Di antara sekian banyak jenis gangguan, kecemasan dan depresi menjadi kasus yang paling umum ditemukan di semua negara. Masalah ini terbukti memengaruhi warga dari segala usia serta berbagai tingkat pendapatan, bahkan dalam kondisi terburuk dapat memicu tindakan untuk mengakhiri hidup.
Melihat fakta bahwa kesehatan mental remaja telah menjadi tantangan global yang semakin mendesak, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) bergerak menciptakan sebuah inovasi baru. Mereka fokus pada upaya pencegahan atau preventif dalam menghadapi krisis kesehatan mental yang melanda generasi muda.
Tim mahasiswa lintas disiplin ilmu ini beranggotakan Ikhlasul Amal dari Fakultas Biologi, Qorina Nisrina Hafshah dari Fakultas Teknologi Pertanian, Zikra Fataha Al Mutansir dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, serta Diva Nadiartalika dan Athar Rosyad Partadireja yang keduanya berasal dari Fakultas Psikologi.
Salah satu produk nyata yang berhasil mereka kembangkan dinamakan CalmBar yang merupakan sebuah makanan ringan fungsional berupa snack bar yang memadukan konsep hubungan nutrisi dengan sistem saraf (nutritional neuroscience) dengan teknik meredakan kecemasan melalui pancaindra (sensory grounding).
Produk makanan sehat ini diformulasikan menggunakan bahan-bahan alami lokal seperti kacang hijau, biji labu (pumpkin seed), tanaman Lemna minor (duckweed), kacang tanah, peppermint, madu, kismis, serta virgin coconut oil (VCO).
Pilihan bahan-bahan tersebut bukan tanpa alasan karena kaya akan kandungan protein nabati, magnesium, zat besi, antioksidan, serta senyawa bioaktif seperti GABA, triptofan, dan mentol. Seluruh kandungan ini memiliki potensi besar dalam mendukung fungsi sistem saraf, menjaga stabilitas suasana hati, serta membantu proses regulasi emosi anak muda.
“Kami mengembangkan sebuah model inovatif yang menggabungkan pendekatan pangan fungsional dan sistem metakognitif digital untuk membantu generasi muda membangun kemampuan regulasi diri secara lebih komprehensif,” ujar Amal, dikutip dari laman resmi UGM Kamis (2/7).
Dikolaborasikan dengan Teknologi
Amal menjelaskan lebih lanjut bahwa gangguan kesehatan mental pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor asupan nutrisi saja.
Menurutnya, pada era digital seperti sekarang, banyak remaja mengalami tekanan psikologis berat akibat intensitas paparan media sosial, adanya perbandingan sosial dengan kehidupan orang lain, serta kecenderungan merasa dirinya selalu diperhatikan dan dinilai oleh orang sekitar.
Fenomena psikologis ini dikenal dengan istilah spotlight effect, yang sering kali menjadi pemicu utama munculnya rasa kecemasan sosial yang berkelanjutan bagi remaja.
Untuk menjawab tantangan era digital tersebut, tim mahasiswa UGM ini merancang sebuah sistem berbasis aplikasi ponsel bernama SELF-SCAN, yang memiliki kepanjangan Self-Scan: A Youth-Driven Ecological Metacognitive System for Addressing the Global Youth Anxiety Crisis in the Digital Era.
Aplikasi ini didesain khusus guna membantu setiap individu untuk memahami pola pikir, kondisi emosi, serta pemicu kecemasan yang sedang mereka alami secara langsung (real-time).
Dengan menggunakan pendekatan Ecological Momentary Assessment (EMA), sistem digital ini mampu memantau dinamika psikologis penggunanya dalam aktivitas kehidupan sehari-hari lalu memberikan intervensi atau solusi instan yang paling sesuai dengan kondisi psikologis yang sedang dialami saat itu.
Penghargaan Internasional
Kedua inovasi ini dirancang sebagai satu kesatuan pendekatan yang saling melengkapi dalam mengelola kecemasan. CalmBar berperan aktif dalam mendukung regulasi emosi melalui pasokan nutrisi fisik dan pengalaman sensoris yang menenangkan.
Di sisi lain, aplikasi SELF-SCAN memperkuat pengguna untuk membangun kesadaran metakognitif agar mereka mampu mengenali, mengevaluasi, serta mengelola pola pikir buruk yang menjadi pemicu kecemasan.
Mengenai sistem kerja ini, Amal selaku ketua tim menegaskan esensi dari inovasi mereka.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu seseorang merasa lebih baik secara sesaat, tetapi juga membantu mereka memahami dirinya sendiri. Kesehatan mental bukan hanya tentang mengatasi gejala, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenali dan mengelola proses berpikir serta respons emosional secara mandiri,” ungkapnya.
Berkat keunikan pendekatan tersebut, kedua inovasi ini sukses memborong penghargaan di kancah internasional. Tim UGM berhasil meraih Silver Medal Theme Sub Health, Silver Medal Sub Theme Food, serta Favorite Poster Theme Sub Food dalam ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30 sampai 31 Mei 2026.
Ke depan, tim mahasiswa ini berharap inovasi CalmBar dan SELF-SCAN tidak berhenti di tahap lomba saja, tetapi dapat terus berlanjut ke tahap penelitian lanjutan, pembuatan prototipe, hingga implementasi komersial secara nyata di tengah masyarakat demi membentuk generasi digital yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya.
Tinggalkan Komentar
Komentar