Periskop.id – Kementerian Pertahanan menjajaki pengadaan helikopter multiperan AW149 buatan Leonardo untuk memperkuat kemampuan penerbangan TNI Angkatan Laut. Helikopter kelas menengah itu dapat membawa hingga 19 prajurit dan memiliki jangkauan terbang maksimum sekitar 913 hingga 1.009 kilometer, bergantung pada mesin serta konfigurasi bahan bakarnya.

Namun, kerja sama antara Kemhan, Leonardo, dan PT ESystem Solutions belum memasuki kontrak pembelian. Para pihak baru menandatangani Letter of Intent atau LoI yang menjadi dasar penjajakan pasokan dan dukungan helikopter untuk kebutuhan TNI AL.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menegaskan jumlah unit, nilai kontrak, dan jadwal pengadaan belum ditetapkan.

"Saat ini yang telah ditandatangani adalah Letter of Intent sebagai bagian dari tahapan penjajakan kerja sama," kata Rico di Jakarta, Kamis (23/7).

Kesepakatan awal tersebut tidak hanya mencakup peluang pengadaan helikopter. Kemhan dan Leonardo juga menjajaki pengembangan kemampuan bantuan teknis, pemeliharaan, penyelesaian akhir, serta pelatihan di Indonesia. Skema itu ditujukan untuk memperkuat dukungan sepanjang usia pakai alutsista sekaligus meningkatkan kapasitas industri pertahanan nasional.

Apabila dilanjutkan menjadi kontrak, AW149 direncanakan mendukung misi pencarian dan pertolongan, penanggulangan bencana, serta operasi dari pangkalan darat maupun kapal. Leonardo menyatakan helikopter tersebut dapat digunakan untuk transportasi taktis, dukungan pasukan, evakuasi medis, SAR, dan combat search and rescue.

Kabin AW149 Muat hingga 19 Prajurit

AW149 merupakan helikopter militer multiperan generasi terbaru dengan bobot maksimum lepas landas 8.600 kilogram. Helikopter ini memiliki panjang keseluruhan 17,57 meter, tinggi 5,07 meter, serta diameter rotor utama 14,60 meter.

Kabinnya dibuat luas tanpa sekat permanen agar dapat diubah sesuai kebutuhan misi. Dalam konfigurasi angkut pasukan, AW149 mampu membawa maksimal 16 prajurit dengan perlengkapan berat atau 19 prajurit dengan perlengkapan ringan.

Pintu geser berukuran besar dipasang di kedua sisi badan helikopter. Desain tersebut mempercepat proses naik-turun pasukan, pemuatan logistik, evakuasi korban, serta operasi menggunakan tali dan alat pengangkat ketika helikopter melayang.

Selain kursi pasukan, kabin dapat dikonfigurasi untuk membawa tandu, peralatan medis, barang kebutuhan logistik, dan perangkat misi lainnya. Persenjataan maupun sistem pendukung juga dapat dipasang sesuai kebutuhan dan konfigurasi yang disepakati dengan pengguna.

Kecepatan Jelajah 294 Kilometer per Jam

Leonardo menawarkan dua pilihan mesin untuk AW149, yakni dua General Electric CT7-2E1 atau dua Safran Aneto-1K. Kedua konfigurasi dilengkapi auxiliary power unit Safran e-APU berdaya 60 kilowatt.

Berdasarkan lembar spesifikasi terbaru Leonardo, kecepatan jelajah maksimum AW149 mencapai 294 kilometer per jam. Sementara batas kecepatan yang tidak boleh dilampaui atau never-exceed speed tercatat 313 kilometer per jam.

Jarak dan durasi penerbangan berbeda menurut mesin yang digunakan. Varian bermesin General Electric memiliki jangkauan maksimum sekitar 1.009 kilometer dan daya tahan terbang hingga lima jam lima menit. Sementara varian Safran dapat mencapai sekitar 913 kilometer dengan daya tahan maksimal empat jam 28 menit.

Angka tersebut dihitung dalam kondisi pengujian tertentu, menggunakan tangki bahan bakar standar, tangki bawah lantai, dan tangki tambahan, serta tanpa cadangan bahan bakar. Jarak operasional nyata dapat berubah karena muatan, cuaca, profil penerbangan, dan perlengkapan misi.

Dibekali Sistem Perlindungan Tempur

AW149 dirancang untuk beroperasi di lingkungan pertempuran. Leonardo menyebut rotor, badan pesawat, dan sejumlah komponen penting memiliki toleransi balistik. Helikopter juga menggunakan tangki bahan bakar yang dapat menutup sendiri ketika terkena kerusakan, struktur dan kursi penyerap energi, serta roda pendaratan yang dirancang mengurangi dampak benturan.

Gearbox utama helikopter diklaim dapat tetap bekerja selama 50 menit meskipun kehilangan pelumas. Sistem perlindungan dapat dilengkapi perangkat peringatan ancaman, pertahanan mandiri, lapisan pelindung tambahan, serta persenjataan di dalam kabin maupun titik pemasangan eksternal.

Konfigurasi akhir untuk Indonesia belum ditentukan. Jenis sensor, persenjataan, sistem komunikasi, perlindungan elektronik, hingga kemampuan operasi dari kapal akan bergantung pada kebutuhan TNI AL dan hasil negosiasi kontrak.

Rico juga belum mengonfirmasi jumlah unit maupun kemungkinan penempatan AW149 pada kapal tertentu.

"Pada prinsipnya, setiap pengadaan alutsista dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap kebutuhan operasional TNI, keunggulan teknologi, dukungan logistik dan pemeliharaan sepanjang siklus hidup alutsista serta peluang pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan industri pertahanan nasional," ucap dia.

Polandia Sudah Memesan 32 Unit

AW149 telah digunakan oleh sejumlah operator militer. Polandia, misalnya, menandatangani kontrak senilai 8,25 miliar zloty atau sekitar 1,76 miliar euro untuk membeli 32 unit pada 2022. Paket itu turut mencakup logistik, pelatihan, simulator, dan pembangunan lini produksi lokal dengan pengiriman pada periode 2023–2029.

Dua unit pertama diserahkan kepada Angkatan Darat Polandia pada Oktober 2023, sekitar 15 bulan setelah kontrak ditandatangani. Helikopter tersebut dipersiapkan untuk mengangkut pasukan, memberikan dukungan udara, mengevakuasi korban, menjalankan pencarian dan pertolongan tempur, serta membawa logistik.

Pengalaman Polandia menunjukkan pengadaan AW149 dapat disertai pembangunan kemampuan produksi dan pemeliharaan dalam negeri. Model serupa kini turut dijajaki Indonesia melalui pengembangan dukungan teknis, pelatihan, dan kapasitas industri lokal.

Meski demikian, LoI tidak otomatis mengikat pemerintah untuk membeli AW149. Kepastian jumlah helikopter, nilai pengadaan, konfigurasi, pembiayaan, dan jadwal penyerahan baru dapat diketahui apabila penjajakan tersebut dilanjutkan menjadi kontrak resmi.