Periskop.id – Kementerian Agama akan menggelar Gerakan Bersih-Bersih Masjid Nasional atau Geber Masjid secara serentak pada 10 Agustus 2026. Program ini menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus mendorong pengelolaan rumah ibadah yang bersih, nyaman, dan ramah lingkungan.
Kegiatan nasional tersebut dipusatkan di Masjid Fatahillah, Balai Kota Jakarta, pada pukul 08.00 hingga 11.30 WIB. Pelaksanaannya melibatkan jajaran Kementerian Agama di daerah, Kantor Urusan Agama, penyuluh agama, pengurus masjid, dan masyarakat.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan peringatan kemerdekaan perlu diisi dengan kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Gerakan ini menjadi bagian dari upaya kita memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia dengan aksi nyata menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid sebagai pusat ibadah dan pemberdayaan umat,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Rabu (5/8).
Pada hari pertama pendaftaran, Kemenag mencatat 611 masjid telah bergabung, dengan jumlah terbanyak berasal dari Jawa Timur sebanyak 297 masjid.
Jumlah tersebut kemudian meningkat tajam. Berdasarkan pembaruan langsung pada laman Sistem Informasi Masjid Kemenag hingga Rabu malam, sebanyak 3.676 masjid dari 34 provinsi telah mendaftar. Jawa Barat menjadi provinsi dengan peserta terbanyak mencapai 1.497 masjid, disusul Jawa Timur sebanyak 932 masjid.
Tidak Hanya Menyapu dan Membersihkan Lantai
Geber Masjid tidak hanya berisi kegiatan membersihkan lantai, karpet, tempat wudu, toilet, dan lingkungan sekitar rumah ibadah. Program ini juga mencakup pemilahan sampah organik dan anorganik, penghijauan, pengurangan plastik sekali pakai, serta penghematan air dan listrik.
“Program ini mengusung semangat mewujudkan masjid yang bersih, asri, dan nyaman bagi seluruh jamaah sekaligus mendukung Program Kemenag ASRI,” kata Abu.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat mengatakan praktik ramah lingkungan perlu diterapkan dalam pengelolaan masjid sehari-hari. Dengan begitu, kebersihan tidak hanya hadir ketika kegiatan nasional digelar, tetapi menjadi kebiasaan pengurus dan jemaah.
“Masjid yang bersih, asri, dan nyaman akan memberikan pengalaman ibadah yang lebih baik sekaligus mencerminkan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi kebersihan. Kami berharap setelah kick off pada 10 Agustus nanti, semangat ini terus berlanjut di seluruh Indonesia sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan,” ujar Arsad.
Peserta dapat mendaftarkan masjid melalui laman resmi SIMAS Kemenag dengan mengisi nama dan alamat masjid, identitas ketua dewan kemakmuran masjid, nomor kontak, serta perkiraan jumlah pengurus dan jemaah yang terlibat. Kemenag juga menyiapkan sertifikat bagi peserta yang mengikuti gerakan tersebut.
Berpotensi Menjangkau Ratusan Ribu Masjid
Gerakan nasional ini memiliki potensi jangkauan luas. Data SIMAS Kemenag mencatat terdapat 317.209 masjid dan 391.918 musala yang telah terdaftar resmi di seluruh Indonesia. Totalnya mencapai 709.127 rumah ibadah yang tersebar di 38 provinsi.
Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah masjid dan musala terdaftar terbanyak, yakni 172.981 unit. Sementara sebanyak 264.607 masjid di Indonesia tercatat berdiri di atas tanah berstatus wakaf.
Besarnya jumlah tersebut membuat masjid dinilai mempunyai posisi strategis untuk mengedukasi masyarakat mengenai kebersihan dan kelestarian lingkungan. Perubahan sederhana seperti mengurangi botol plastik, mengatur penggunaan air wudu, memisahkan sampah, dan merawat pepohonan dapat memberikan dampak jika diterapkan secara konsisten.
Kemenag sebelumnya telah mengembangkan 1.507 masjid percontohan ramah lingkungan sebagai bagian dari agenda ekoteologi. Program lain mencakup pembangunan KUA berkonsep bangunan hijau, hutan wakaf, serta gerakan penanaman pohon yang melibatkan komunitas keagamaan.
“Masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan umat dan kesadaran ekologis,” ujar Abu Rokhmad.
Kemenag juga menjalin kerja sama dengan Muslim Association for Islamic Climate Action untuk mengembangkan masjid ramah lingkungan berbasis energi terbarukan, termasuk pemanfaatan tenaga surya. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan masjid mulai diarahkan melampaui urusan kebersihan fisik menuju penggunaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Diharapkan Tidak Berhenti sebagai Seremoni
Abu menilai keberhasilan Geber Masjid tidak cukup diukur dari banyaknya rumah ibadah yang dibersihkan pada satu hari. Dampaknya harus terlihat dari perubahan kebiasaan pengurus dan masyarakat setelah kegiatan berakhir.
“Kami berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya bersama dalam merawat masjid. Masjid yang bersih dan nyaman akan membuat jamaah semakin khusyuk beribadah sekaligus memperkuat fungsi masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan,” tutur Abu Rokhmad.
Keterlibatan masyarakat juga dinilai penting karena pengurus masjid memiliki keterbatasan tenaga dan sumber daya. Gotong royong dapat membangun rasa kepemilikan sekaligus mempertemukan warga melalui kegiatan sosial menjelang peringatan kemerdekaan.
Dengan pelaksanaan serentak di berbagai wilayah, Geber Masjid diharapkan tidak hanya membuat rumah ibadah lebih bersih menjelang HUT ke-81 RI. Gerakan tersebut juga menjadi pintu masuk untuk membangun masjid yang lebih sehat, hemat energi, mampu mengelola sampah, dan aktif mengedukasi masyarakat mengenai kepedulian terhadap lingkungan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar