Periskop.id - Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan, rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ritual keagamaan. Menurutnya, rumah ibadah juga harus menjadi pusat pelayanan kemanusiaan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Agama tidak berhenti pada ritual. Rumah ibadah harus menjadi pusat pelayanan kemanusiaan. Dari sini lah nilai kasih sayang, kebajikan, dan persaudaraan tumbuh dan dirasakan secara nyata oleh masyarakat,” ujar Romo Syafi’i dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/2). 

Romo Syafi'i menekankan, kehadiran rumah ibadah harus mampu memperkuat solidaritas, mengurangi penderitaan, dan merawat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.

Peran rumah ibadah sebagai pusat pelayanan kemanusiaan sejalan dengan paradigma beragama yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni menjadikan agama sebagai kekuatan pemersatu dan penopang ketahanan sosial nasional.

“Inilah wajah agama yang kami dorong di Kementerian Agama,” serunya. 

Rumah ibadah sebagai pusat layanan keagamaan itu tercermin di Vihara Mahavira Graha, Jakarta. Kala itu, Romo Syafi'i menyaksikan langsung pembagian sekitar 4.000 parcel dan angpau Imlek yang diinisiasi Asosiasi Buddhist Center Indonesia dalam menyambut Imlek.

Ia menyebut, pembagian ribuan parsel dan angpau Imlek itu bukan sekadar bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga wujud tanggung jawab sosial umat beragama terhadap lingkungan sekitarnya.

Bagi dia, praktik keberagamaan yang berdampak sosial merupakan fondasi penting dalam membangun harmoni dan persatuan bangsa. Wamenag mengapresiasi peran Vihara Mahavira Graha yang secara konsisten menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan melalui aksi nyata

“Pemberian angpau dan bingkisan cinta kasih bukan hanya membagi parcel, tetapi merawat sesuatu yang jauh lebih penting, yakni persaudaraan dan persatuan bangsa. Di tengah ketegangan global, Indonesia memilih jalan yang berbeda,” tuturnya.

Peran Masjid Untuk Pemudik
Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta jajarannya untuk menggerakkan rumah ibadah, khususnya masjid di jalur mudik, untuk menjadi oase kemanusiaan yang memberikan kenyamanan bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang.

“Kami mengimbau daerah-daerah yang dilawati para pemudik, ada sekitar 6 ribu masjid di seluruh Indonesia itu supaya nanti hari-hari tertentu, baik itu hari mudik nasional ataupun mudik keagamaan, itu dibuka,” ujar Menag, Senin.

Nasaruddin Umar mengatakan, Ramadan juga harus menjadi momentum penguatan ibadah yang dibarengi dengan empati dan solidaritas sosial lintas unsur masyarakat. Bahkan, ia mendorong agar pengurus masjid tidak hanya membuka untuk ibadah atau istirahat saja. Tetapi, dapat juga memberikan hidangan buka puasa bagi mereka yang menepi.

“Bahkan, kalau perlu pada mudik Lebaran nanti, para pengurus masjid itu bukan saja membuka pintunya, tetapi memberikan buka puasa terhadap jamaah yang mungkin mampir,” tuturnya. 

Menag mengingatkan esensi agama adalah mencintai sesama. Prinsip kemanusiaan universal (humanity) menjadi fondasi dalam memberikan bantuan sosial, terutama di bulan suci.

"Jangan melihat agamanya orang yang kehausan dan kelaparan. Artinya, agama apapun yang sedang kelaparan itu, beri makan. Allah memuliakan anak cucu Adam, Tuhan tidak mengatakan memuliakan orang Islam (saja), tidak. Siapapun merasa anak cucu Adam, apapun agamanya, etniknya, warna kulitnya, beri bantuan," kata Menag.