Iklan
Nasional

Gunung Lokon Catat 321 Gempa Vulkanik Dangkal, Status Tetap Waspada

Gunung Lokon mencatat 321 gempa vulkanik dangkal pada 1-15 September 2026. Badan Geologi mempertahankan status Level II Waspada dengan radius bahaya 1,5 km

Gunung Lokon Catat 321 Gempa Vulkanik Dangkal, Status Tetap Waspada
Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. dok. Badan Geologi
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, masih didominasi gempa vulkanik dangkal. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat 321 gempa vulkanik dangkal sepanjang 1-15 September 2026, tetapi hasil evaluasi menyatakan aktivitas gunung tersebut belum menunjukkan peningkatan yang mengharuskan perubahan status.

Selain gempa vulkanik dangkal atau VB, instrumen pemantauan juga merekam 12 gempa embusan, satu tremor nonharmonik, 12 gempa vulkanik dalam atau VA, satu gempa tektonik lokal, 79 gempa tektonik jauh, serta dua tremor menerus dengan amplitudo 0,5-10 milimeter.

"Pengamatan instrumental, kegempaan terekam sebanyak 12 kali gempa embusan, satu kali tremor nonharmonik, 321 kali gempa vulkanik dangkal, serta 12 kali gempa vulkanik dalam," kata Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam evaluasi aktivitas yang dibagikan Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Lokon Armando Manguleh.

Meski jumlah gempa vulkanik dangkal cukup tinggi, Badan Geologi mempertahankan Gunung Lokon pada Level II atau Waspada. Evaluasi dilakukan berdasarkan kombinasi data kegempaan, visual, deformasi dan indikator aktivitas lainnya, bukan sekadar jumlah satu jenis gempa.

Kondisi serupa sebelumnya juga terlihat pada periode Mei. Badan Geologi saat itu mencatat 54 gempa vulkanik dangkal pada 1-15 Mei 2026 dan tetap mempertahankan status Level II karena data visual maupun seismik belum menunjukkan peningkatan aktivitas secara menyeluruh.

321 Gempa Bukan Berarti 321 Kali Letusan

Gempa vulkanik dangkal berbeda dengan erupsi. Jenis gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas atau pergerakan fluida dan magma pada bagian relatif dangkal di bawah gunung api.

Literatur Badan Geologi menjelaskan gempa vulkanik dangkal atau tipe B umumnya berasal dari kedalaman yang lebih dekat dengan permukaan dibanding gempa vulkanik dalam. Kemunculannya dapat berkaitan dengan proses perekahan batuan dan pergerakan fluida vulkanik.

Karena itu, catatan 321 gempa VB tidak berarti Gunung Lokon mengalami 321 letusan dalam dua pekan. Pengamatan visual pada 1-15 September juga menunjukkan aktivitas permukaan masih didominasi embusan. Asap kawah berwarna putih tipis teramati dengan ketinggian maksimum sekitar 500 meter di atas kawah.

Data Real-time Seismic Amplitude Measurement atau RSAM menunjukkan energi kegempaan cenderung meningkat sejak 24 Agustus hingga 15 September. Namun, menurut evaluasi Badan Geologi, kenaikan tersebut terutama berasal dari aktivitas gempa permukaan.

Secara keseluruhan, aktivitas seismik masih didominasi gempa vulkanik dangkal, sedangkan gempa vulkanik dalam relatif jarang terekam.

Ancaman Utama Gas Beracun dan Erupsi Freatik

Meski status tidak naik, masyarakat tetap diminta mewaspadai karakter Gunung Lokon yang memungkinkan terjadinya erupsi freatik secara tiba-tiba. Erupsi freatik dapat terjadi ketika panas dari magma berinteraksi dengan sistem hidrotermal atau air di bawah permukaan sehingga menghasilkan tekanan uap. Badan Geologi sebelumnya menegaskan tipe letusan tersebut dapat muncul tanpa didahului peningkatan aktivitas yang sangat signifikan.

Ancaman lainnya adalah gas vulkanik berbahaya yang sewaktu-waktu dapat keluar dari Kawah Tompaluan. Pada Agustus 2026, Pos PGA Lokon bahkan melaporkan kemunculan sinar api di dasar kawah yang dinilai menunjukkan suplai magma berada relatif dekat dengan permukaan. Namun, status gunung ketika itu tetap Waspada.

Ketua Pos PGA Lokon Armando Manguleh saat itu mengatakan:

"Itu yang kami khawatirkan (erupsi freatik). Kami harap radius bahaya tetap dipatuhi," ujar Armando.

Ancaman erupsi freatik dan gas beracun juga telah berulang kali disebut dalam evaluasi Badan Geologi sepanjang 2026. Pada akhir Mei, misalnya, kegempaan Lokon masih didominasi gempa vulkanik dangkal dan otoritas tetap meminta masyarakat tidak mendekati Kawah Tompaluan.

Radius 1,5 Kilometer Tetap Ditutup

Berdasarkan evaluasi hingga 15 September 2026, masyarakat, wisatawan dan pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan, yang menjadi pusat aktivitas Gunung Lokon.

Radius tersebut telah berlaku sejak status gunung diturunkan dari Level III atau Siaga menjadi Level II pada 21 Oktober 2025. Ketika masih berstatus Siaga, zona terlarang mencapai 2,5 kilometer.

Riwayat tersebut menunjukkan kegempaan Gunung Lokon dapat berubah dengan cepat. Pada 2 September 2025, Badan Geologi pernah merekam 143 gempa vulkanik dangkal hanya dalam sehari, disertai 72 gempa embusan dan 15 gempa vulkanik dalam. Kondisi itu ikut mendorong kenaikan status menjadi Level III sehari kemudian.

Setelah aktivitas berangsur menurun, status akhirnya dikembalikan menjadi Waspada pada Oktober 2025.

Perbandingan tersebut sekaligus menunjukkan mengapa jumlah gempa tidak dapat dibaca secara terpisah. Badan Geologi menggunakan perkembangan frekuensi, energi, deformasi, aktivitas gas dan visual untuk menentukan apakah tekanan vulkanik benar-benar meningkat.

Waspadai Lahar saat Hujan Deras

Selain bahaya langsung dari kawah, masyarakat yang berada di sekitar sungai berhulu di Gunung Lokon juga diminta mewaspadai potensi lahar ketika hujan deras berlangsung lama.

Material vulkanik lepas di lereng dapat terbawa air hujan dan bergerak melalui alur sungai. Rekomendasi kewaspadaan lahar telah menjadi bagian dari imbauan resmi Badan Geologi untuk Gunung Lokon, terutama saat memasuki periode hujan.

Jika terjadi letusan dan hujan abu, masyarakat disarankan tetap berada di dalam rumah. Warga yang harus berada di luar rumah diminta menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut serta kacamata untuk mengurangi paparan abu pada mata.

Gunung Lokon sendiri merupakan salah satu gunung api aktif yang dipantau intensif di Sulawesi Utara. Pada 9 September, Lokon bersama Gunung Soputan dan Gunung Awu sama-sama berada pada Level II atau Waspada, dengan masyarakat diminta mematuhi rekomendasi masing-masing gunung.

Dengan 321 gempa vulkanik dangkal tercatat dalam setengah bulan, aktivitas internal Gunung Lokon tetap membutuhkan pemantauan ketat meski belum dinilai meningkat secara menyeluruh. Badan Geologi meminta masyarakat tidak menjadikan status Waspada sebagai tanda bahwa kawasan kawah aman dikunjungi karena erupsi freatik dan pelepasan gas beracun tetap dapat terjadi secara tiba-tiba.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Geologi Kementerian ESDM, Gunung, dan Sulawesi Utara dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.