Periskop.id - Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) menetapkan aturan baru terkait kuota kunjungan wisatawan ke Taman Nasional (TN) Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kini jumlah pengunjung dibatasu hanya 1.000 wisatawan per hari.

"Aturan tersebut sudah berlaku sejak tanggal 1 April 2026 dan sudah berjalan," kata Koordinator Urusan Kehumasan, Kerjasama dan Pelayanan Perijinan Balai TN Komodo Maria Rosdalima Panggur, Kupang, Selasa (14/4).

Maria mengatakan, penerapan aturan baru itu tujuannya untuk mengurangi tekanan yang besar terhadap ekologi yang ada di TN Komodo. Pasalnya setiap tahun jumlah kunjungan wisatawan di daerah itu tinggi. “Dikhawatirkan dapat memberikan tekanan terhadap ekologi,” serunya.

BTNK mencatat, jumlah kunjungan wisata di TN Komodo pada 2025 mencapai 429.509 pengunjung. Jumlah wisatawan mancanegara rata-rata mencapai 68% dibandingkan dengan jumlah wisatawan domestik.

Jumlah tersebut, menurutnya telah melampaui daya dukung daya tampung wisata di seluruh kawasan. Baik daratan dan perairan yaitu sebesar 366.108 pengunjung per tahun maupun berdasarkan kajian tahun 2022 sebanyak 378.870 pengunjung per tahun.

Daya Dukung
Angka pengunjung yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung ini, merupakan kumulatif nilai daya dukung dan daya tampung wisata pada pulau besar dan wilayah perairan.

Daya dukung Pulau Komodo tahun 2018 sebanyak 187.245 orang/ tahun. Lalu, Pulau Rinca sebanyak 44.165 orang, Pulau Padar sebanyak 17.885. Sedangkan daya dukung dan daya tampung wisata perairan pada 23 dive site yaitu sebanyak 116,813 pengunjung per orang.

"Peningkatan jumlah kunjungan memberikan dampak peningkatan ekonomi regional yang signifikan namun di lain sisi memberikan tekanan yang besar pada ekologi," imbuhnya. 

Dia menambahkan, intensitas aktivitas manusia yang tinggi dapat menyebabkan perubahan demografi dan penurunan perilaku respon kewaspadaan pada satwa komodo.

Pada wilayah perairan, justru terjadi degradasi kesehatan terumbu karang. Kemudian juga lonjakan pengunjung yang tinggi dalam waktu yang singkat, tanpa diimbangi pengelolaan destinasi yang komprehensif dari aspek pengelolaan dan kebijakan menyebabkan terjadinya kelebihan turis di kawasan TN Komodo.

BTNK mengatakan, walaupun diberikan kuota, namun pihaknya memprediksi setidaknya jumlah kunjungan wisatawan tahun 2026 akan sama dengan tahun 2025.

Dalam periode uji coba, pelaku wisata menyarankan agar alokasi kuota kapal pesiar (cruise-ship) dipisahkan dari alokasi wisata reguler. Jika melihat angka kunjungan cruiset ahun 2025 yaitu sekitar 35.000 atau 8% dari total kunjungan maka tahun 2026, jumlah kunjungan akan diprediksi sekitar 400.000 kunjungan.

"Namun demikian, Balai Taman Nasional Komodo akan tetap memantau dampak penerapan kebijakan pengaturan kunjungan yang baru ini pada ekologi, ekonomi, sosial dan aspek pengelolaan TN Komodo itu sendiri," pungkasnya.