periskop.id - Presiden Prabowo Subianto sudah melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Senin (13/4/2026). Pertemuan itu dilakukan di Istana Kremlin yang penuh keakraban.
Saat menjamu Presiden Prabowo, Presiden Putin menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungannya ke Rusia. Prabowo pun membalas hal yang sama dengan mengucapkan terima kasih karena bersedia menjamu dan menyempatkan waktu untuk bertemu meskipun dalam keadaan sibuk.
Indonesia dan Rusia sendiri sudah lama menjalin hubungan baik selama 76 tahun sejak tahun 1950. Kedua terus menjalin hubungan dengan selalu menjaga kehormatan dan kepentingan bersama.
Oleh karena itu, pertemuan keduanya menjadi sangat penting untuk saling memenuhi kebutuhan di tengah situasi geopolitik yang sedang tidak kondusif. Pertemuan tersebut juga menjadi upaya untuk memperkuat kerja sama strategis antara kedua pihak.
Pertemuan Prabowo dan Putin
Prabowo Subianto dan Vladimir Putin melakukan pertemuan di Istana Kremlin pada Senin (13/4/2026). Menurut Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, pertemuan keduanya berlangsung selama lima jam.
Ia berkata, pertemuan kedua kepala negara tersebut diawali dengan pertemuan bilateral selama dua jam. Lalu, pertemuan dilanjutkan secara empat mata selama tiga jam.
Pertemuan tersebut, menurut Teddy, merupakan bagian dari penguatan kerja sama strategis di tengah keadaan geopolitik saat ini yang tidak menentu. Keduanya banyak membahas berbagai poin, salah satunya berkaitan dengan bidang energi dan sumber daya mineral.
Kesepakatan Kedua Negara
Pertemuan kedua kepala negara tersebut menghasilkan beberapa poin. Teddy mengatakan, kedua pemimpin membahas tentang kerja sama di bidang energi, salah satunya terkait ketersediaan minyak. Pembahasan tersebut bertujuan untuk menjamin ketersediaan pasokan minyak.
Kerja sama tersebut cukup masuk akal, mengingat Rusia sebagai negara produsen minyak dan gas dengan kapasitas besar di dunia. Ditambah, Indonesia juga sudah tergabung menjadi anggota BRICS dan Rusia turut menjadi bagian dari organisasi tersebut.
Teddi mengatakan, kedua negara juga membahas kerja sama di luar sektor energi, khususnya komitmen dalam menjalin kerja sama di bidang yang berdampak langsung dengan pembangunan nasional. Contohnya, seperti kerja sama di bidang pendidikan, riset teknologi, pertanian, dan investasi.
Rusia merupakan salah satu negara yang memiliki kekuatan besar dalam bidang sumber daya alam sehingga Rusia menjadi mitra yang cukup penting bagi Indonesia dalam meningkatkan pembangunan jangka panjang.
Prabowo mengatakan bahwa Putin selalu mendukung Indonesia dalam memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan bidang strategis. Prabowo menambahkan bahwa pertemuan keduanya juga berkonsultasi terkait perubahan kondisi geopolitik dunia yang saat ini sedang terjadi.
Apakah Kesepakatan Keduanya Cukup Menguntungkan Indonesia?
Menurut Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), lembaga think tank yang berfokus pada permasalahan energi dan lingkungan, Fabby Tumiwa, beranggapan bahwa langkah mengambil minyak dari Rusia merupakan keputusan yang masuk akal.
Apalagi posisi Rusia sebagai negara produsen besar minyak dan gas di dunia. Tapi, menurutnya, hal yang harus diwaspadai adalah permintaan Rusia kepada Indonesia sebagai timbal balik kerja sama minyak.
Karena sebelumnya, Indonesia sudah melakukan tindakan serupa dengan Amerika Serikat. Saat itu, Amerika memanfaatkan kerja sama tersebut dengan menggunakan perjanjian dagang untuk menekan Indonesia. Jika Indonesia tidak teliti, maka Rusia berpotensi memanfaatkan hal serupa sebagai alat geopolitik.
“Ingat, pemerintah Amerika Serikat menggunakan perjanjian dagang untuk menekan. Itu menjadi alat geopolitik. Saya kira pemerintah Rusia juga akan melakukan hal yang sama,” ujar Fabby.
Tanggapan serupa juga datang dari Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputra. Ia memberikan wanti-wanti kepada pemerintah Indonesia dalam upaya kerjasama minyak dengan Rusia.
Menurutnya, Rusia sendiri saat ini masih diberikan sanksi oleh Uni Eropa karena tindakan invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022. Apabila membeli minyak dari Rusia, Indonesia berpotensi mendapatkan sanksi turunan.
Ia mempertanyakan usaha Indonesia dalam memenuhi stabilitas minyak. Menurutnya, Rusia tidak cukup bisa diandalkan karena masih berperang dengan Ukraina. Terlebih, banyak kilang minyak milik Rusia yang dihancurkan oleh Ukraina.
“Dan untuk apa? Apakah tidak ada jalan lain? Karena Rusia juga tidak bisa diandalkan sebab masih fokus berperang dengan Ukraina, dan banyak kilangnya diserang oleh Ukraina,” kata Radityo.
Tinggalkan Komentar
Komentar