Periskop.id - Industri kedirgantaraan Indonesia kembali mencatatkan langkah strategis di panggung internasional.
Melansir Naval News pada Kamis (9/4), perusahaan teknologi pertahanan asal Yunani, SCYTALYS (bagian dari EFA GROUP), resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat posisi kedua perusahaan di sektor pesawat patroli maritim melalui integrasi sistem pengawasan mutakhir.
Penandatanganan kesepakatan bersejarah ini dilakukan dalam ajang bergengsi Singapore Airshow 2026 oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, bersama Presiden SCYTALYS, Dimitris Karantzavelos.
Fokus utama dari kemitraan ini adalah penggunaan teknologi SCYTALYS pada varian pengawasan maritim pesawat kebanggaan Indonesia, N219 dan CN235.
Transformasi Menjadi Node C4ISR yang Berorientasi Jaringan
Inti dari kerja sama ini adalah integrasi sistem Mission Integration and Management System Airborne (MIMS Airborne) milik SCYTALYS ke dalam platform pesawat PTDI. MIMS Airborne merupakan sistem Command and Control (C2) modular canggih yang dibangun dengan arsitektur terbuka.
Teknologi ini memiliki kemampuan luar biasa untuk mengelola berbagai sensor dan subsistem penting secara real-time yang meliputi radar, sistem sensor EO/IR, serta sistem intelijen elektronik berupa ESM/ELINT.
Selain itu, sistem tersebut juga mengintegrasikan navigasi aeronautika serta komunikasi taktis dan strategis untuk menghasilkan gambaran operasional yang terpadu dan akurat.
Dengan integrasi MIMS Airborne, pesawat N219 dan CN235 akan bertransformasi menjadi node C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) yang sepenuhnya berorientasi jaringan.
Sistem ini akan menghasilkan Common Operational Picture (COP) yang terintegrasi, sehingga meningkatkan efektivitas operasional secara signifikan saat melakukan patroli di wilayah perairan.
Membuka Peluang Baru di Pasar Asia Pasifik
Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyatakan optimisme tinggi terhadap kolaborasi ini. Ia menjelaskan bahwa langkah ini bukan hanya soal peningkatan teknologi, tetapi juga soal daya saing global.
“Kerja sama ini akan meningkatkan kemampuan operasional pesawat N219 dan CN235 serta membuka peluang baru bagi produk unggulan PTDI melalui solusi misi khusus yang kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan operasional pengguna,” jelas Arif.
Di sisi lain, Presiden SCYTALYS, Dimitris Karantzavelos, menegaskan bahwa kemitraan dengan PTDI adalah batu pijakan penting bagi ekspansi perusahaannya di wilayah Asia Pasifik.
“Penandatanganan MoU dengan PTDI merupakan langkah penting untuk semakin memperkuat kehadiran internasional SCYTALYS serta mengembangkan solusi misi yang inovatif,” jelasnya.
Ia juga menyoroti keandalan teknologi yang mereka miliki saat diintegrasikan dengan platform pesawat buatan Indonesia:
“Integrasi sistem MIMS Airborne ke dalam pesawat N219 dan CN235 menegaskan keunggulan teknologi kami serta kemampuan kami dalam menghadirkan solusi misi khusus yang andal, interoperabel, dan sesuai kebutuhan," ungkap Karantzavelos.
Terakhir, ia mengungkapkan optimisme mengenai potensi pertumbuhan bisnis di kawasan regional melalui kemitraan ini:
“Kerja sama ini juga membuka peluang baru bagi ekspansi SCYTALYS di pasar Asia-Pasifik, dan kami menantikan kelanjutan kemitraan yang dinamis dan menjanjikan ini,” ungkap Karantzavelos.
Profil SCYTALYS
SCYTALYS didirikan pada tahun 1993 di Yunani dan telah dikenal luas sebagai pemimpin dalam pengembangan perangkat lunak pertahanan.
Dengan dukungan 110 karyawan yang mayoritas merupakan insinyur berkeahlian tinggi, perusahaan ini beroperasi di tiga lokasi internasional utama: Yunani, Amerika Serikat, dan Singapura.
Hingga saat ini, SCYTALYS telah melayani pelanggan di 14 negara dengan rekam jejak panjang dalam mendukung Angkatan Bersenjata Yunani. Spesialisasi mereka mencakup desain dan pengembangan solusi di bidang Tactical Data Links, sistem C4I, pengawasan, pengintaian, hingga teknologi simulasi.
Tinggalkan Komentar
Komentar