Periskop.id - Menjelang Iduladha yang jatuh pada Rabu (27/5), potensi ekonomi kurban 2026 kembali menjadi perhatian.
Selain sebagai ibadah tahunan umat Islam, kurban juga memiliki dimensi sosial yang besar karena menjadi salah satu sarana distribusi protein hewani kepada masyarakat, terutama kelompok yang jarang mengonsumsi daging.
Institute for Demographic and Affluence Studies atau IDEAS dalam laporan Policy Brief Mei 2026: Peta Ekonomi Kurban 2026 menilai potensi kurban nasional secara agregat terlihat cukup memadai.
Total potensi daging kurban pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 99,29 juta kilogram atau 99,29 ribu ton. Sementara kebutuhan daging untuk mustahik diperkirakan sekitar 99,18 juta kilogram.
Dengan perbandingan tersebut, secara nasional terdapat surplus sangat tipis sekitar 114,9 ton, dengan rasio kecukupan sekitar 100,12%. Artinya, jika dilihat di tingkat nasional, ketersediaan daging kurban tampak hampir mencukupi.
Namun, IDEAS menekankan bahwa gambaran agregat ini tidak otomatis berarti distribusi daging merata di seluruh daerah.
Masalah utama justru terlihat pada ketimpangan distribusi secara spasial. Surplus daging kurban terkonsentrasi di sedikit kota dan kabupaten tertentu, sementara banyak daerah lain masih mengalami defisit.
Dengan kata lain, secara nasional stok daging tampak cukup, tetapi di tingkat lokal masih banyak wilayah yang kekurangan.
IDEAS mencatat, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, sekitar 343 daerah atau sekitar dua pertiga wilayah masih berada di bawah ambang kecukupan distribusi 80%.
Rinciannya, terdapat 163 daerah dengan defisit parah karena kecukupan distribusi kurban berada di bawah 20%. Lalu, 107 daerah masuk kategori sangat defisit dengan kecukupan 20% sampai 50%, dan 73 daerah berada dalam kategori defisit pada rentang 50% sampai 80%.
Sementara itu, hanya sekitar 45 daerah yang berada dalam zona cukup atau seimbang, dengan kecukupan 80% sampai 120%.
Sebanyak 126 daerah lainnya masuk kategori sangat surplus, yakni di atas 120%. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan kurban 2026 bukan sekadar jumlah total hewan atau daging, melainkan bagaimana daging tersebut dapat menjangkau daerah yang paling membutuhkan.
Dalam laporan tersebut, IDEAS juga menetapkan 35 daerah prioritas tebar kurban dengan kriteria cukup ketat. Daerah yang masuk kategori ini memiliki persentase penduduk Muslim di atas 20%, kecukupan distribusi kurban di bawah 5%, dan defisit daging kurban lebih dari 30 ton.
Artinya, daerah-daerah tersebut tidak hanya kekurangan daging kurban, tetapi mengalami kegagalan kecukupan daging kurban yang sangat serius.
Di sisi lain, surplus daging kurban terbesar banyak terkonsentrasi di wilayah regional Jawa, terutama kawasan urban, metropolitan, daerah dengan kapasitas ekonomi rumah tangga yang lebih besar, serta daerah dengan basis kelas menengah Muslim yang kuat.
Daerah dengan surplus tertinggi antara lain Kota Jakarta Utara sekitar 3.879,25 ton, Kota Depok sekitar 3.644,94 ton, Kabupaten Sleman sekitar 3.639,37 ton, Kota Jakarta Barat sekitar 3.188,32 ton, Kota Jakarta Selatan sekitar 2.730,45 ton, dan Kota Jakarta Timur sekitar 2.346,11 ton.
Selain itu, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Surabaya, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bantul, Kota Batam, dan Kabupaten Blitar juga disebut sebagai wilayah lumbung potensi daging kurban.
Namun, di saat yang sama, daerah lain di Pulau Jawa masih mengalami defisit besar. Kabupaten Bangkalan menjadi wilayah dengan defisit daging kurban terbesar di regional Jawa, yakni sekitar 981,35 ton, disusul Kabupaten Sampang sekitar 907,59 ton.
Temuan ini menunjukkan bahwa defisit daging kurban tidak hanya terjadi di wilayah minoritas Muslim atau daerah terpencil. Defisit juga muncul di daerah dengan jumlah penduduk Muslim besar, padat penduduk, dan memiliki banyak mustahik. Karena itu, masalah distribusi menjadi faktor penting dalam memastikan manfaat kurban benar-benar merata.
Di Sumatera, persoalan yang muncul disebut lebih struktural. Potensi daging kurban di wilayah ini diperkirakan sekitar 9.671,20 ton, sedangkan kebutuhannya mencapai 22.258,72 ton. Dengan demikian, defisit regional Sumatera mencapai sekitar 12.587,53 ton.
Defisit ekstrem tampak kuat di Sumatera Selatan dan Lampung. Banyuasin mengalami defisit sekitar 377,92 ton, Musi Rawas 353,22 ton, Musi Banyuasin 283,43 ton, sementara Lampung Timur menjadi salah satu titik rawan terbesar dengan defisit 473,60 ton dan kecukupan hanya 3,50%.
IDEAS juga mencatat Tanggamus mengalami defisit 373,97 ton, Tulang Bawang defisit 211,66 ton, dan Tulang Bawang Barat defisit 174,50 ton. Kondisi ini memperlihatkan bahwa daerah agraris dan kabupaten luas juga bisa mengalami kekurangan daging kurban apabila potensi lokal tidak mampu mengejar besarnya kebutuhan.
Beberapa kota seperti Medan, Pekanbaru, Padang, Binjai, Dumai, dan Batam memang memiliki surplus. Namun, surplus tersebut belum cukup untuk menutup kekurangan luas di kabupaten/kota sekitar.
Karena itu, IDEAS menilai perlu ada model distribusi berbasis simpul kota, yakni daerah surplus menjadi pusat pengumpulan dan pemotongan hewan kurban, lalu dagingnya disalurkan ke daerah defisit terdekat agar distribusi lebih merata dan realistis secara logistik.
Di luar Jawa, ketimpangan juga masih tajam. Nusa Tenggara memiliki kebutuhan sekitar 3.367,48 ton, tetapi potensinya hanya sekitar 1.625,32 ton, sehingga defisitnya lebih dari 1.742,16 ton. Defisit terbesar terutama terjadi di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Bima, dan Lombok Utara.
Kalimantan relatif lebih moderat dengan rasio kecukupan sekitar 65%, tetapi tetap mengalami defisit daging kurban sebanyak 1.548,7 ton. Defisit terutama terjadi karena kebutuhan besar di beberapa kota dan kabupaten, seperti Banjarmasin, Samarinda, Kapuas, dan Tanah Laut.
Sulawesi juga mengalami defisit sekitar 2.622,89 ton, meskipun terdapat kantong surplus seperti Makassar, Bulukumba, Kendari, Mamuju, dan Kolaka.
Sementara itu, kawasan Maluku-Papua secara angka absolut lebih kecil, tetapi sangat rentan dari sisi distribusi karena banyak daerah memiliki tingkat kecukupan sangat rendah dan tantangan geografis yang membuat biaya logistik jauh lebih mahal.
IDEAS menilai potensi ekonomi kurban 2026 tidak bisa hanya dibaca dari besarnya nilai ekonomi atau tonase nasional. Yang lebih penting adalah membaca ketimpangan antara daerah surplus dan daerah defisit. Secara nasional, daging kurban tampak cukup, tetapi secara lokal banyak wilayah masih sangat kekurangan.
Karena itu, strategi kurban 2026 sebaiknya tidak hanya mengejar peningkatan jumlah hewan.
Pemerataan membutuhkan arsitektur distribusi yang lebih kuat, mulai dari pemetaan daerah surplus, pemotongan terstandar di hub kota, pengiriman ke daerah defisit prioritas, hingga koordinasi antarlembaga agar surplus tidak menumpuk di kota-kota besar sementara daerah dengan kebutuhan tinggi tetap kekurangan.
Dengan desain distribusi yang lebih baik, IDEAS menilai kurban dapat bertransformasi dari aktivitas konsumsi keagamaan tahunan menjadi mekanisme pemerataan pangan protein yang lebih efektif.
Kurban tidak hanya menjadi ritual ibadah, tetapi juga instrumen sosial untuk memperluas akses masyarakat terhadap daging dan protein hewani, terutama bagi kelompok miskin, rentan, dan wilayah defisit pangan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar