periskop.id - Saham Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terpantau melaju di zona merah pada perdagagangan hari ini, Sealsa 26 Mei 2026. Saham BBRI turun 2,52 ke level 3.090 saat berita ditulis. Dalam sepekan, saham BBRI naik 0,98%, namun turun 15,22% sejak awal tahun atau secara year to date (YTD).
Secara teknikal, CGS International Sekuritas merekomendasikan spec buy pada saham BBRI dengan support 3.110, cutloss jika break di bawah 3.050.
“Jika tidak break di bawah 3110, potensi naik ke 3230-3290 short term,” ulas CGS, Selasa (26/5).
Sebelumnya, BRI mengumumkan kinerja yang tetap solid hingga April 2026 di tengah tekanan biaya pencadangan kredit dan dinamika suku bunga yang masih tinggi.
BRI membukukan kinerja positif sepanjang empat bulan pertama 2026 dengan laba bersih individual mencapai Rp15,89 triliun hingga April 2026. Kinerja tersebut ditopang penguatan bisnis intermediasi, perbaikan struktur pendanaan, serta terjaganya profitabilitas di tengah tekanan biaya kredit.
Berdasarkan laporan keuangan bulanan per 30 April 2026, total aset BRI tercatat sebesar Rp2.067,5 triliun dengan penyaluran kredit mencapai Rp1.376,35 triliun. Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh menjadi Rp1.496,30 triliun yang terdiri dari giro Rp455,48 triliun, tabungan Rp603,72 triliun, dan deposito Rp437,09 triliun.
Pertumbuhan kredit yang tetap kuat tersebut turut menopang pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) menjadi Rp39,37 triliun. Capaian itu didorong pendapatan bunga sebesar Rp53,50 triliun, sementara beban bunga turun menjadi Rp14,12 triliun.
Perbaikan struktur imbal hasil tersebut tercermin pada rasio net interest margin (NIM) yang berada di level 6,22% selama periode Januari–April 2026 dan 6,11% secara bulanan per April 2026.
Dari sisi intermediasi, rasio loan to deposit ratio (LDR) BRI meningkat ke level 91,98% per April 2026. Rasio tersebut mencerminkan likuiditas yang mulai mengetat seiring pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibanding penghimpunan dana. Meski demikian, level LDR tersebut masih berada dalam rentang yang relatif sehat bagi industri perbankan.
Di tengah kompetisi perebutan dana pihak ketiga, struktur pendanaan BRI tetap ditopang dana murah yang kuat. Rasio current account saving account (CASA) terjaga di level 70,79% dengan total dana murah mencapai Rp1.059,20 triliun. Tingginya CASA menjadi salah satu faktor utama yang menjaga biaya dana perseroan tetap kompetitif.
Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) BRI tercatat sebesar 2,39%, sedangkan return on equity (ROE) berada di level 15,87%. Kedua rasio tersebut menunjukkan kemampuan perseroan menjaga tingkat pengembalian aset maupun modal tetap solid di tengah tekanan biaya pencadangan.
Sementara itu, biaya kredit atau cost of credit (CoC) berada di level 3,24% selama periode empat bulan pertama 2026 dan 3,33% secara bulanan per April 2026. Tingkat CoC tersebut masih tergolong terjaga mengingat portofolio pembiayaan BRI yang dominan berada di segmen mikro dan UMKM.
BRI juga mencatat beban penurunan nilai aset keuangan (impairment) sebesar Rp14,63 triliun hingga April 2026. Di sisi lain, pendapatan berbasis komisi dan fee masih tumbuh moderat menjadi Rp6,88 triliun, memperlihatkan kontribusi fee based income yang tetap stabil terhadap kinerja perseroan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar