Periskop.id - Indonesia disebut mulai mengarahkan modernisasi kekuatan udara melalui rencana pengadaan jet M-346F buatan Leonardo, perusahaan kedirgantaraan asal Italia. Pesawat bermesin kembar ini diproyeksikan untuk mengisi kebutuhan tempur ringan sekaligus pelatihan pilot TNI Angkatan Udara.
Mengutip European Defence Review pada Minggu (14/6), Indonesia memilih M-346F pada akhir 2025. Pilihan tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan surat niat atau letter of intent di Singapore Air Show pada Februari 2026 bersama Leonardo.
Dalam laporan tersebut, Indonesia awalnya disebut akan mengakuisisi 18 unit M-346F. Namun, jumlah itu kemudian meningkat menjadi 36 unit. Jet asal Italia tersebut dilaporkan mengalahkan sejumlah pesaing, termasuk TAI Hurjet dari Turki dan FA-50 buatan Korean Aerospace Industries dari Korea Selatan.
Bagian dari Modernisasi TNI AU
Pengadaan M-346F disebut menjadi bagian dari proses modernisasi yang sedang berlangsung di TNI AU. Program ini melibatkan perusahaan kedirgantaraan pertahanan PT E-Systems yang ditugaskan untuk mengakuisisi pesawat latih generasi baru sebagai kontraktor pertahanan resmi Indonesia.
Menurut European Defence Review, PT E-Systems Solutions Indonesia juga akan mendukung aspek pemeliharaan, logistik, dan penerbangan taktis. Peran tersebut masuk dalam pengembangan Air Warfare Centre TNI AU yang baru dibentuk.
Air Warfare Centre dapat dipahami sebagai pusat pengembangan kemampuan perang udara. Dalam praktiknya, fasilitas seperti ini biasanya digunakan untuk mendukung pelatihan, pengujian taktik, integrasi sistem, hingga pengembangan kemampuan operasional pesawat tempur.
M-346F Akan Dilengkapi Sistem Buatan Indonesia
Laporan yang sama menyebutkan bahwa PT E-Systems Solutions Indonesia tidak hanya berperan dalam pengadaan dan dukungan teknis. Perusahaan tersebut juga disebut akan mengintegrasikan sejumlah sistem buatan dalam negeri ke M-346F.
Menurut sumber manajemen senior PT E-Systems yang dikutip European Defence Review, perusahaan akan mengintegrasikan Self Protection Jammer rancangan Indonesia sendiri. Sistem ini berfungsi sebagai perlindungan elektronik untuk membantu pesawat menghadapi ancaman, misalnya gangguan radar atau sistem pemandu senjata lawan.
Selain itu, PT E-Systems juga disebut akan mengintegrasikan dan menguji rudal jarak pendek udara ke udara Diehl IRIS-T. Rudal jenis ini dirancang untuk pertempuran udara jarak dekat, terutama ketika pesawat harus menghadapi target musuh dalam radius yang relatif pendek.
Sistem lain yang akan dikembangkan adalah data-link lokal untuk distribusi penargetan dan cueing. Secara sederhana, data-link memungkinkan pesawat, pusat komando, atau platform lain saling bertukar informasi secara cepat. Dengan sistem ini, data target dapat dibagikan ke pesawat lain sehingga operasi udara menjadi lebih terkoordinasi.
PT E-Systems juga disebut akan mengintegrasikan rudal jelajah ringan MK-V Delta buatan dalam negeri. Jika terealisasi, langkah ini dapat memperkuat kemampuan M-346F sebagai pesawat tempur ringan yang tidak hanya digunakan untuk latihan, tetapi juga untuk misi serangan terbatas.
Ikut Uji Radar AESA Grifo E600
European Defence Review juga melaporkan bahwa PT E-Systems Solutions akan ikut serta dalam uji penerbangan dan kualifikasi radar Airborne Electronically Scanned Array atau AESA Grifo E600 terbaru dari Leonardo.
Radar Grifo E600 disebut bebas dari ketentuan International Traffic in Arms Regulations atau ITAR. Dalam industri pertahanan, status bebas ITAR dapat menjadi faktor penting karena berkaitan dengan fleksibilitas ekspor, integrasi, dan penggunaan komponen tanpa keterikatan langsung pada aturan ekspor senjata Amerika Serikat.
Uji penerbangan dan kualifikasi radar tersebut disebut akan menggunakan flight test bed milik perusahaan. Flight test bed merupakan pesawat atau platform yang digunakan untuk menguji sistem baru sebelum diterapkan lebih luas pada armada operasional.
Disebut Lebih Mampu dari F-16C/D Block 52 TNI AU
Dengan rencana integrasi radar dan sistem persenjataan tersebut, M-346F disebut akan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan sebagian pesawat tempur yang saat ini masih digunakan TNI AU.
European Defence Review menyebut langkah ini membuat M-346F lebih mampu dibandingkan 23 unit F-16C/D Block 52 TNI AU yang masih bertahan. Pesawat F-16 tersebut diketahui masih menggunakan radar APG-68(V) versi lama dan diperoleh Indonesia dalam periode 2012 hingga 2018.
Perbandingan ini terutama berkaitan dengan sistem avionik, radar, integrasi senjata, dan dukungan taktis terbaru. Meski M-346F berasal dari platform pesawat latih lanjut dan tempur ringan, integrasi sistem modern dapat membuatnya memiliki peran operasional yang lebih luas.
Kontrak Dijadwalkan Ditandatangani Awal Juli
Kontrak pengadaan M-346F disebut dijadwalkan akan ditandatangani di Jakarta pada awal Juli. Penandatanganan itu akan dilakukan antara Leonardo dan PT E-Systems Solutions atas nama Kementerian Pertahanan Indonesia.
Tahap pertama pengadaan mencakup 12 unit M-346F. Pesawat tersebut direncanakan tiba pada awal 2028. Kehadiran M-346F akan menggantikan BAE Systems Hawk Mk 109/209 yang masih bertahan sejak pengiriman pada era 1990-an.
Sementara itu, tahap kedua akan mencakup 24 unit tambahan. Kontrak tahap kedua ini disebut akan dilakukan pada Februari 2027. Jika seluruh rencana berjalan sesuai laporan tersebut, total M-346F yang akan diakuisisi Indonesia mencapai 36 unit.
Gantikan Hawk dan Perkuat Pelatihan Pilot
Rencana pengadaan M-346F menjadi penting karena TNI AU masih mengoperasikan BAE Systems Hawk Mk 109/209 yang usianya sudah cukup tua. Pesawat Hawk tersebut telah digunakan sejak pengiriman pada dekade 1990-an.
Dalam konteks pertahanan udara, pesawat seperti M-346F dapat mengisi dua fungsi sekaligus. Pertama, sebagai pesawat latih lanjut untuk menyiapkan pilot sebelum mengoperasikan jet tempur utama. Kedua, sebagai pesawat tempur ringan yang dapat digunakan untuk misi tertentu, terutama jika sudah dilengkapi radar, rudal, sistem perlindungan elektronik, dan data-link modern.
Dengan konfigurasi tersebut, M-346F berpotensi menjadi salah satu elemen penting dalam regenerasi kemampuan udara Indonesia. Selain mendukung pelatihan pilot, pesawat ini juga dapat memperkuat kesiapan tempur ringan TNI AU.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar