Periskop.id - Tembaga telah menjadi salah satu komoditas paling krusial di era transisi energi hijau saat ini. Namun, keberadaan sumber daya ini tidak tersebar merata di seluruh permukaan bumi. 

Berdasarkan data terbaru dari U.S. Geological Survey (USGS) tahun 2026, cadangan tembaga dunia sangat terkonsentrasi di beberapa wilayah tertentu saja.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa lima negara teratas yakni Chile, Australia, Peru, Republik Demokratik Kongo (DRC), dan Rusia menguasai lebih dari setengah total pasokan tembaga dunia yang telah diketahui saat ini. 

Dominasi ini menempatkan wilayah Amerika Latin, Afrika, dan Eurasia sebagai pusat gravitasi pertambangan tembaga global.

Rincian Peringkat Cadangan Tembaga Global

Chile masih mengukuhkan posisinya sebagai raja tembaga dunia dengan cadangan mencapai 180 juta ton. Posisi kedua ditempati oleh Australia yang memiliki cadangan sekitar 100 juta ton. 

Sementara itu, Peru, Republik Demokratik Kongo, dan Rusia bersaing ketat dengan cadangan yang berada di kisaran 80 hingga 85 juta ton.

Menariknya, Indonesia berhasil mengamankan posisi dalam jajaran sepuluh besar pemilik cadangan tembaga terbesar di dunia. Dengan total cadangan sebesar 21 juta ton, Indonesia memiliki jumlah yang setara dengan Zambia dan sedikit mengungguli Kazakhstan.

Berikut adalah tabel lengkap rincian cadangan tembaga global dalam satuan juta ton (Mt):

PeringkatNegaraCadangan (Juta Ton/Mt)
1Chile180
2Australia100
3Peru85
4Republik Demokratik Kongo (DRC)80
5Rusia80
6Meksiko53
7Amerika Serikat47
8China41
9Polandia33
10Indonesia21
11Zambia21
12Kazakhstan20
13Kanada7
14India2
Negara Lainnya210
TotalDunia (Dibulatkan)980

Potensi Sumber Daya yang Belum Tereksplorasi

Selain cadangan yang sudah terbukti, USGS juga melakukan penilaian mendalam terhadap sumber daya tembaga global yang belum diekstraksi. 

Penilaian terbaru menunjukkan bahwa hingga 2015, terdapat sumber daya teridentifikasi yang mengandung 1,5 miliar ton tembaga yang masih mengendap di dalam bumi.

Jika angka tersebut digabungkan dengan total produksi masa lalu yang sebesar 600 juta ton, maka total sumber daya teridentifikasi mencapai 2,1 miliar ton. Namun, potensi sebenarnya jauh lebih besar dari angka tersebut. 

Para ahli memperkirakan masih ada sekitar 3,5 miliar ton sumber daya tembaga yang belum ditemukan dan tersebar di berbagai belahan dunia.

Ketergantungan dunia pada tembaga diprediksi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan teknologi kendaraan listrik dan infrastruktur energi terbarukan. 

Konsentrasi cadangan pada segelintir negara ini menjadikan stabilitas politik dan kebijakan pertambangan di negara-negara tersebut sebagai faktor penentu bagi kelangsungan industri teknologi global di masa depan.