Periskop.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mengkaji kemungkinan mengalihfungsikan sejumlah lahan perkebunan teh yang sudah tidak produktif di Bandung, Jawa Barat, menjadi area tanam bawang putih. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sekitar 100 ribu hektare (ha) lahan demi mengejar target swasembada bawang putih.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memaparkan, bawang putih hanya bisa dibudidayakan di kawasan dataran tinggi dengan kondisi iklim tertentu, sehingga pencarian lahan yang tepat menjadi tantangan tersendiri dalam program ini.

Advertisement

"Kalau menanam bawang putih untuk memenuhi kebutuhan nasional, ini kurang lebih 100 ribu hektare. Tantangannya yang pertama adalah mencari tempat, karena bawang putih tidak bisa ditanam di semua lokasi, harus di daerah tinggi," kata Sudaryono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (17/6).

Sentra pengembangan bawang putih yang sudah berjalan saat ini tersebar di Sembalun, Nusa Tenggara Barat (NTB), Temanggung, Jawa Tengah, serta Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Namun, untuk memenuhi target swasembada, pemerintah masih membutuhkan tambahan lahan dalam skala besar.

Kementan pun mulai menggandeng sejumlah BUMN di sektor pangan dan perkebunan, yakni Perum Bulog, ID Food, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN), untuk ikut mendukung pengembangan komoditas tersebut.

"Sudah didiskusikan dengan asosiasi petani bawang, Perum Bulog, ID Food, dan juga PTPN. Jadi BUMN terlibat. Offtaker pembibitan ini adalah ID Food dan Bulog," ujar Sudaryono.

Dalam skema yang tengah digodok, PTPN tidak sekadar menyediakan lahan, melainkan turut terlibat langsung dalam proses budi daya di lokasi yang dinilai sesuai. Salah satu kawasan yang masuk pembahasan adalah perkebunan teh di Bandung yang sebagian areanya sudah tidak beroperasi, termasuk melalui koordinasi dengan Gubernur Jawa Barat.

"Kita sedang bicara dengan Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, bagaimana di daerah Bandung sana itu kebun teh ada sebagian yang sudah tidak beroperasi, kemudian bisa kita konversi menjadi lahan untuk bawang putih," ucap Sudaryono.

Ia menegaskan, ketersediaan lahan sebenarnya bukan hambatan terbesar dalam program ini. Pemerintah disebut sudah memetakan potensi dataran tinggi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan 100 ribu hektare tersebut.

"Kementerian Pertanian sudah identifikasi. Mencari 100 ribu hektare lahan itu sebetulnya bukan hal yang sulit karena kita memang punya tempatnya," ujar Sudaryono.

Tantangan terbesarnya justru ada pada penyediaan bibit. Lebih dari 90% kebutuhan bawang putih nasional saat ini masih dipenuhi melalui impor, sehingga kapasitas pembibitan domestik perlu dibangun secara bertahap.

"Kalau bibit dari luar langsung ditanam untuk 100 ribu hektare belum tentu tumbuh optimal. Harus ada penyesuaian agroklimat dan proses penangkaran terlebih dahulu," ujar Sudaryono.

Proses penangkaran bibit itulah yang membuat swasembada bawang putih diperkirakan memerlukan waktu tiga hingga empat tahun untuk terealisasi. Selama periode itu, pemerintah berencana menekan ketergantungan pada impor secara bertahap sembari terus mendorong produktivitas petani lokal.

"Sembari berjalan ini, nanti kuota impornya Insyaallah akan terus kita kurangi, dengan mendorong produktivitas dalam negeri kita," pungkas Sudaryono.