periskop.id - Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyoroti rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengevaluasi papan pemantauan khusus dengan skema full call auction (FCA) yang ditargetkan rampung pada kuartal II-2026.

Sebelumnya, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut peninjauan menyeluruh ini merespons langsung dinamika perubahan lanskap industri keuangan. Pemodal saat ini semakin vokal menuntut peningkatan transparansi transaksi di lantai bursa.

Merespons hal tersebut Nafan mengatakan. langkah evaluasi tersebut merupakan kebijakan yang relevan dan strategis, terutama dari sisi transparansi dan penguatan kepercayaan investor. Skema FCA selama ini memang dirancang untuk saham-saham dengan kriteria tertentu, termasuk yang memiliki volatilitas tinggi atau likuiditas rendah.

Namun, dalam praktiknya masih terdapat tantangan, khususnya terkait mekanisme pembentukan harga (price discovery) dan keterbukaan informasi kepada pelaku pasar.

"Ini juga perlu dievaluasi ya kan kenapa? karena itu terkait dengan transparansi. Karena rata-rata investor retail itu belum begitu teredukasi dengan FCA," katanya Senin (23/2)

Ia menjelaskan, dalam sistem FCA terdapat dinamika bid dan offer yang tidak sepenuhnya terlihat seperti pada perdagangan reguler. Bagi investor ritel yang belum sepenuhnya memahami mekanisme tersebut, kondisi ini berpotensi menimbulkan kebingungan, terlebih jika dikombinasikan dengan likuiditas yang terbatas.

Akibatnya, investor bisa kesulitan menentukan momentum masuk maupun keluar pasar.
Karena itu, evaluasi dinilai penting agar mekanisme perdagangan di papan pemantauan khusus dapat berjalan lebih optimal, transparan, dan efisien.

Selain itu menurutnya, jika penyempurnaan kebijakan mampu meningkatkan kualitas price discovery serta memperjelas informasi indicative equilibrium price dan volume, maka kepercayaan investor berpotensi meningkat secara signifikan.

Nafan menilai, apabila evaluasi ini menghasilkan perbaikan konkret dan implementasinya berjalan efektif, sentimen pasar bisa terdongkrak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mendapat dukungan dari saham-saham yang likuid, berfundamental kuat, dan lebih transparan. Arus dana diperkirakan akan lebih selektif mengalir ke emiten dengan kinerja solid, bukan sekadar saham yang bergerak karena spekulasi jangka pendek.

"Jika sudah dievaluasi dan diterapkan harusnya bisa menjadi sentiment positif sentiment positif bagi indeks, IHSG karena dipengaruhi oleh kenaikan saham-saham yang likuid saham-saham yang likuid yang benar-benar transparan ini kan juga berkaitan dengan kepercayaan investor yang meningkat," terang dia.

Selanjutnya, pembenahan mekanisme FCA juga diyakini dapat menekan praktik saham spekulatif yang kerap diwarnai pola pump dan dump. Dengan sistem yang lebih transparan dan pengawasan yang diperkuat, potensi pergerakan harga ekstrem tanpa dukungan fundamental diharapkan bisa diminimalkan.

"Mengurangi dampak daripada saham-saham gorengan. Tentunya juga bisa mengurangi pump and dump damp atau pegangkan harga saham yang menaik atau turun bebas," jelas dia.

Di tengah rencana evaluasi tersebut, investor disarankan untuk tetap selektif. Fokus pada saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas memadai. Nafan mengatakan penerapan manajemen risiko dan disiplin terhadap strategi investasi menjadi kunci agar tetap adaptif menghadapi dinamika pasar hingga target evaluasi kuartal II-2026 terealisasi.

"Jika investor yang menyikapi rencana evaluasi ya itu lah harus cermati saham-saham berfundamental solid jadi bisa selektif dan jangan lupa untuk menerapkan risk management yang baik," pungkasnya