iklan periskop
Saham

KOSPI dan Kosdaq Menguat, Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Angkat Sentimen Pasar

Saham Korea menguat usai AS usulkan gencatan senjata ke Iran. Won ikut menguat, sementara harga minyak global turun.

4 bulan yang lalu · 3 mnt baca
KOSPI dan Kosdaq Menguat, Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Angkat Sentimen Pasar
Seorang pedagang mata uang berjalan melewati papan elektronik yang menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan di ruang transaksi sebuah bank, di Seoul, Korea Selatan (5/11/2020). ANTARA/REUTERS/Kim Hong-Ji/aa. (REUTERS/KIM HONG-JI)
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Pasar saham Korea Selatan menguat pada Rabu, dengan indeks utama KOSPI dan Kosdaq sama-sama naik. Penguatan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan kepada Iran.

Melansir The Korea Times, Rabu (25/3), mata uang won juga ikut menguat terhadap dolar AS. Nilai tukar dibuka lebih rendah dibandingkan sesi sebelumnya, seiring meningkatnya harapan meredanya ketegangan geopolitik yang mendorong minat investor terhadap aset berisiko dan menopang mata uang lokal.

Berdasarkan data Bursa Korea, indeks acuan KOSPI dibuka di level 5.680,33, naik 126,41 poin atau 2,28%. Pada penutupan, indeks berada di 5.642,21, menguat 88,29 poin atau 1,59% dibandingkan sesi sebelumnya.

Sementara itu, indeks Kosdaq juga mengalami kenaikan. Indeks dibuka naik 11,87 poin atau 1,06% ke level 1.133,31, dan terus menguat hingga ditutup di 1.159,55. Angka tersebut naik 38,11 poin atau 3,40% dari sesi sebelumnya.

Di pasar valuta asing domestik Seoul, won dibuka di level 1.493 per dolar AS, menguat 2,2 won. Namun pada penutupan, nilai tukar berada di 1.499,7 per dolar AS, atau melemah 4,5 won dibandingkan sesi sebelumnya.

Sebelumnya pada Selasa, won sempat menguat ke level 1.495,2 per dolar AS, setelah bangkit dari posisi terendah dalam 17 tahun di level 1.517,3. Penguatan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda kemungkinan serangan terhadap Iran selama lima hari.

Di Amerika Serikat, pasar saham justru ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Ketidakpastian yang masih berlangsung terkait ketegangan di Timur Tengah—melibatkan Washington, Tel Aviv, dan Teheran menekan sentimen investor.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,18%, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,37% dan 0,84%.

Namun setelah penutupan pasar, kabar mengenai usulan gencatan senjata dari AS mendorong kontrak berjangka Nasdaq naik hampir 1% dalam perdagangan setelah jam bursa.

Harga minyak global juga mengalami penurunan. CNBC melaporkan bahwa minyak Brent sebagai acuan global turun sekitar 6% menjadi 98,31 dolar AS per barel dalam perdagangan Asia. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sekitar 5% ke 87,65 dolar AS per barel. 

Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak ke 104,49 dolar AS per barel setelah Iran membantah adanya negosiasi dengan AS. Media Israel Channel 12, mengutip tiga sumber anonim, melaporkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah mengajukan rencana gencatan senjata selama satu bulan dengan 15 syarat.

The New York Times juga menyebutkan bahwa proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator. Meski demikian, banyak pihak menilai Iran kemungkinan besar tidak akan menerima usulan tersebut, sehingga ketidakpastian konflik masih akan berlanjut.

Analis Kiwoom Sekuritas Ji-young, mengatakan bahwa munculnya kerangka jalan keluar yang lebih jelas merupakan perkembangan penting. Namun, ia menilai mempertahankan posisi netral atau bahkan overweight pada saham domestik masih menjadi strategi yang wajar, meski volatilitas akibat konflik masih berlangsung.


 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai KOSPI, kosdaq, dan Geopolitik Global dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.