Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mendorong proyek-proyek migas strategis di Indonesia lebih banyak melibatkan insinyur dan barang modal dari dalam negeri.
Langkah itu dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperbesar dampak ekonomi bagi industri nasional.
Menurutnya, selama ini belanja modal di sektor migas dan petrokimia masih didominasi mesin, komponen kelistrikan, serta jasa rekayasa dari luar negeri.
Airlangga menilai sinergi antarkementerian dan lembaga diperlukan agar porsi pekerjaan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dapat lebih banyak dikerjakan industri nasional.
"Kita ingin agar pekerjaan ini diambil oleh engineers-engineers Indonesia. Kemudian beberapa alat yang juga sudah kita siap, tentunya di Indonesia sudah punya wellhead, sudah punya valve, punya pressure vessel dan juga chemicals project ataupun product. Sehingga tentu ini diharapkan kemampuan dan juga multiplier effect dari project betul-betul bisa dimanfaatkan oleh industri dalam negeri," ujar Airlangga dalam acara Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Summit di Jakarta, Rabu (22/7).
Ia menjelaskan, kemampuan industri nasional sebenarnya telah berkembang untuk memasok berbagai kebutuhan proyek migas. Menurutnya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan agar investasi yang masuk mampu memberikan efek berganda lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Selain mendorong penggunaan produk lokal, Airlangga juga meminta proyek-proyek strategis, termasuk proyek Andaman di lepas pantai Aceh, menjadikan Aceh sebagai laying down area. Menurutnya, langkah itu akan membuka peluang penyerapan tenaga kerja sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.
"Jadi inilah kesempatan yang hanya bisa kita panen 3 sampai 4 tahun ke depan. Sesudah itu dunia berubah lagi. Oleh karena itu kita manfaatkan dan kita kerja keras. Dan kuncinya adalah kemampuan daripada engineering dan capital goods, barang modal di Indonesia," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga mengapresiasi target belanja produk dalam negeri Pertamina yang mencapai lebih dari Rp500 triliun. Menurutnya, komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat industri nasional melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Ia juga menilai situasi global yang masih penuh ketidakpastian membuat diversifikasi energi menjadi kebutuhan penting. Menurut Airlangga, implementasi B50 dan rampungnya proyek RDMP di Balikpapan telah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.
“Kita lihat bahwa ketidakpastian dan ketidakprediksian dunia ini masih terus berjalan. Oleh karena itu bagi Pertamina menjadi penting untuk mencari sumber-sumber diversifikasi energi. Terima kasih juga dengan implementasi B50 dan selesainya RDMP di Balikpapan, maka ketergantungan terhadap solar menjadi hilang. Jadi kita sudah bisa produksi sendiri,” tuturnya.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan pemerintah tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dan mendukung sektor produktif melalui penyediaan Pertalite serta Solar. Ia menyebut kebijakan harga khusus Solar sebesar Rp15.000 per liter bagi kapal nelayan berukuran 30-200 GT menjadi salah satu bentuk keberpihakan pemerintah.
“Karena infrastruktur untuk ekonomi yang pertama energi, yang kedua energi, yang ketiga energi. Mau itu industri, mau itu digitalisasi, semuanya yang pertama energi dulu, kemudian infrastruktur berikut adalah listrik, baru kita bisa bangun mulai industri dan yang lain. Jadi ini adalah bedrock Indonesia adalah Pertamina,” tutup Airlangga.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar