banner-sheroes-yoga
Saham

Laba CBUT Naik di Q1 2026, B50 dan Pabrik Baru Jadi Katalis

Meski pendapatan sedikit terkoreksi di awal 2026, laba bersih CBUT justru naik. Kebijakan B50 dan pabrik Refinery baru berkapasitas 1.500 TPD dinilai jadi pendorong utama.

Laba CBUT Naik di Q1 2026, B50 dan Pabrik Baru Jadi Katalis
Wilayah operasional PT Citra Borneo Utama Tbk. Foto: PT Citra Borneo Utama Tbk.dok
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) membuka 2026 dengan kinerja yang menjanjikan. Kebijakan mandatori biodiesel B50 disebut bakal menjadi katalis utama pertumbuhan perusahaan tahun ini.

Direktur Utama CBUT Rorry Christian Tobing mengungkapkan, laba bersih perseroan pada kuartal pertama 2026 naik ke Rp46 miliar. Ini terjadi meski pendapatan sedikit terkoreksi 0,52% menjadi Rp3,38 triliun, tertekan fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian geopolitik.

"Efisiensi operasional yang ketat dan fokus kami pada produk hilir bernilai tambah tinggi membuat margin laba usaha tumbuh 19,02 persen menjadi Rp89 miliar," kata Rorry dalam Public Expose CBUT, Kamis (11/6).

Capaian awal tahun itu melanjutkan tren positif sepanjang 2025. Pendapatan CBUT sepanjang tahun lalu tumbuh 43% menjadi Rp13,9 triliun, didorong perbaikan refining margin dan kontribusi kuat produk minyak goreng kemasan bermerek Hanau.

Untuk memperkuat momentum tersebut, CBUT tengah menyelesaikan pembangunan pabrik Refinery & Fractionation II berkapasitas 1.500 ton per hari. Fasilitas itu kini memasuki tahap commissioning dan diharapkan beroperasi penuh pada Juli 2026.

Pabrik baru tersebut akan melengkapi kapasitas produksi yang sudah berjalan, yakni 2.500 TPD untuk lini refinery, Kernel Crushing Plant 600 TPD, serta Molding & Filling Plant 200 TPD. Rorry menyatakan penambahan ini membuka ruang produksi yang jauh lebih besar bagi perseroan.

"Dengan tambahan kapasitas 1.500 TPD, perseroan dapat meningkatkan volume produksi produk turunan seperti RBDPO, Olein, dan Stearin, sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain hilir terintegrasi," ujarnya.

Direktur CBUT Ronny Hertyanto Raharjo menilai program B50 yang bergulir sejak Juli 2025 memberikan dampak positif bagi industri sawit secara keseluruhan. Sebagai pemain hilir yang terintegrasi dengan induk usahanya, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), CBUT disebut memiliki kepastian pasokan untuk terus berproduksi sepanjang sisa 2026.

"Ini terlihat menjadi proyeksi yang menjanjikan bagi perseroan, karena situasi geopolitik dan permintaan yang terus meningkat. Tren harga kita masih berada di atas rata-rata industri sawit, jadi 2026 ini masih menjanjikan buat kita untuk mencapai target laba," tutur Ronny.

Program B50 juga dinilai bakal menciptakan tambahan permintaan CPO, terutama produk berbasis RBDPO, Stearin, dan Olein yang menjadi spesialisasi CBUT. Dorongan permintaan itu diperkirakan semakin kuat seiring beroperasinya pabrik baru di pertengahan tahun.

Ronny enggan merinci angka target pendapatan maupun laba bersih 2026. Namun, ia meyakini kinerja perseroan akan membaik, dengan laba bersih yang ditargetkan melampaui capaian tahun lalu. Keyakinan itu bertumpu pada hasil kuartal I-2026 yang solid, di mana laba bersih naik 19% secara tahunan.

"Ke depannya, operasional Refinery & Fractionation I maupun II yang akan kita operasionalkan pertengahan tahun ini, serta dimulainya program B50, pastinya juga akan menuju ke arah perbaikan laba yang kita harapkan di tahun 2026," pungkas Ronny.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), CPO, B50, dan sawit dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.