Periskop.id - Ketegangan geopolitik yang melibatkan perang antara pihak AS-Israel melawan Iran kini mulai berdampak nyata pada rantai pasok industri manufaktur global.
Industri makanan dan minuman (F&B) di Thailand saat ini tengah berada dalam kondisi waspada menyusul ancaman kenaikan harga dan kelangkaan bahan baku kemasan plastik.
Melansir laporan Bangkok Post pada Senin (23/3), sektor industri kemasan berpotensi menjadi bidang berikutnya yang terdampak serius oleh gangguan pasokan petrokimia. Hal ini diprediksi akan terus memburuk jika konflik di kawasan Timur Tengah tersebut tidak segera mereda.
Lonjakan Harga Bahan Baku Petrokimia
Direktur Public Private Partnership for Sustainable Plastic and Waste Management, Veera Kwanloetchit, mengungkapkan bahwa harga bahan baku plastik berbasis minyak bumi telah mengalami kenaikan signifikan.
Jenis bahan baku utama seperti polyethylene, polypropylene, dan low density polyethylene tercatat melonjak sebesar 30% hingga 40%.
Kenaikan ini memberikan tekanan besar pada biaya produksi barang-barang kemasan. Jenis plastik tersebut merupakan komponen vital dalam industri kemasan, terutama untuk pembungkus makanan (cling wrap), botol minuman, hingga wadah produk perawatan tubuh seperti sampo dan sabun mandi.
Dampak pada Produksi Mi Instan dan Konsumen
Krisis bahan baku ini mulai dirasakan oleh produsen besar. Veera menyebutkan bahwa salah satu merek mi instan ternama, Mama, telah mulai mengurangi volume produksinya.
“Produsen mi instan Mama mengurangi produksi sebagian karena bahan kemasan mulai langka,” ujarnya.
Kondisi ini diprediksi akan berdampak langsung pada kantong masyarakat luas. Konsumen yang membeli produk dengan kemasan plastik kemungkinan besar akan menghadapi harga jual yang lebih tinggi sebagai imbas dari kenaikan biaya bahan baku di tingkat hulu.
Veera menambahkan bahwa dalam skenario terburuk, jika produsen kemasan benar-benar tidak dapat memperoleh bahan baku plastik, maka seluruh lini produksi barang konsumsi akan terdampak secara signifikan.
Strategi Bahan Baku Lokal Sebagai Solusi
Di tengah ketidakpastian ini, beberapa perusahaan mencoba bertahan dengan strategi rantai pasok lokal. Döhler Asia Pacific, unit perusahaan asal Jerman yang memproduksi bahan alami untuk sektor F&B, menyatakan bahwa sejauh ini pasokan mereka belum terganggu secara masif oleh dampak perang.
Roman Kupper, Presiden Döhler Asia Pacific dan Döhler Natural Food and Beverage Ingredients (Bangkok), menjelaskan bahwa kunci ketahanan mereka terletak pada penggunaan bahan baku domestik.
“Kami menggunakan bahan baku dari negara tempat kami mengembangkan fasilitas produksi. Di Thailand, kami menggunakan produk lokal dan mendukung petani Thailand,” ujar Roman Kupper.
Menurutnya, strategi ini membantu perusahaan menghindari ketergantungan pada industri petrokimia yang saat ini sedang terhambat.
Meskipun lonjakan harga minyak dunia turut meningkatkan biaya logistik, Kupper menilai angka tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola. Hingga saat ini, perusahaan tersebut tetap menjalankan ekspor dari Thailand ke 160 negara.
“Industri makanan dan minuman sejauh ini masih berjalan relatif normal,” tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar