Periskop.id - Sebuah laporan komprehensif yang telah lama dinantikan mengenai dampak pandemi COVID-19 terhadap Jawatan Kesehatan Inggris (National Health Service/NHS) akhirnya resmi dipublikasikan.
Melansir BBC, Kamis (19/3), laporan setebal lebih dari 400 halaman tersebut membedah secara tajam berbagai kegagalan sistemis yang membuat layanan kesehatan Inggris berada di titik nadir. Dokumen tersebut mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa NHS hampir mengalami kolaps total pada puncak pandemi.
Kehancuran sistem kesehatan tersebut diklaim hanya berhasil dihindari berkat upaya luar biasa dan dedikasi tanpa batas dari para tenaga kesehatan yang bekerja melampaui kapasitas mereka.
Efisiensi Anggaran yang Menjadi Bumerang
Laporan investigasi ini menyoroti bahwa kebijakan pengetatan anggaran atau efisiensi yang dilakukan pemerintah Inggris selama satu dekade sebelum pandemi menjadi akar masalah. NHS memasuki masa krisis dalam kondisi rentan karena kekurangan tempat tidur dan tenaga medis yang signifikan.
Akibatnya, pada gelombang pertama, NHS tertatih tatih menangani lonjakan pasien. Di beberapa wilayah, pasokan oksigen bahkan dilaporkan hampir habis. Tekanan berat ini terus berlanjut dari satu gelombang ke gelombang berikutnya, menyebabkan penurunan kualitas perawatan.
Rasio perawat di unit perawatan intensif (ICU), yang seharusnya satu perawat untuk satu pasien, merosot tajam hingga satu perawat harus menangani empat pasien dalam kondisi kritis.
Kegagalan Pelayanan dan Penundaan Diagnosis
Keterbatasan kapasitas ini berdampak luas, tidak hanya bagi pasien COVID-19 tetapi juga pasien dengan kondisi medis lainnya. Laporan mencatat terjadinya penundaan panjang pada layanan ambulans, bahkan untuk kasus yang mengancam jiwa, hingga militer harus diterjunkan untuk memberi bantuan.
Dampak jangka panjang yang lebih fatal adalah terganggunya skrining kanker dan layanan non darurat. Banyak masyarakat yang takut memeriksakan diri saat mengalami gejala penyakit serius, yang menyebabkan diagnosis terlambat dan berujung pada kematian yang seharusnya bisa dicegah. Pembatalan operasi rutin seperti penggantian lutut dan pinggul juga disebut telah melemahkan kualitas hidup ribuan pasien.
Slogan "Tetap di Rumah" yang Disalahpahami
Salah satu temuan kunci yang cukup kontroversial adalah kritik terhadap kampanye pemerintah. Slogan populer "Tetap di Rumah, Lindungi NHS, Selamatkan Nyawa" (Stay Home, Protect the NHS, Save Lives) dinilai memberikan dampak negatif yang tidak diinginkan.
Alih-alih hanya mencegah kerumunan, imbauan ini justru memberikan kesan bahwa layanan kesehatan sedang tutup atau tidak beroperasi. Hal ini memicu penurunan drastis kunjungan ke unit gawat darurat untuk kondisi non-COVID, seperti serangan jantung.
Masyarakat merasa enggan mengakses rumah sakit karena tidak ingin dianggap menjadi beban bagi sistem kesehatan yang sedang berjuang.
Aturan Terlalu Ketat, Pasien Meninggal Tanpa Keluarga
Laporan ini juga mengecam kebijakan pembatasan kunjungan rumah sakit yang sangat ketat selama masa lockdown. Aturan tersebut menyebabkan banyak pasien meninggal dunia dalam kesepian tanpa didampingi oleh keluarga tercinta.
Keluarga yang ditinggalkan kini menderita trauma, rasa bersalah, dan amarah yang mendalam. Pasien rentan seperti ibu yang melahirkan serta penyandang disabilitas juga kehilangan sistem dukungan moral yang vital.
Laporan menyimpulkan bahwa aturan kaku seperti ini seharusnya dihindari di masa depan demi menjaga sisi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan. Selain itu, ditemukan pula penerapan perintah "jangan resusitasi" (do not resuscitate) yang tidak tepat pada lansia dan penyandang disabilitas intelektual.
Tenaga Medis Bekerja dalam Kondisi “Tidak Memadai”
Kondisi kerja tenaga medis selama pandemi digambarkan sangat tidak memadai. Kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan gaun pelindung sempat berada di level sangat rendah hingga persediaan hanya cukup untuk hitungan hari.
Panduan pengendalian infeksi pada awal pandemi juga dinilai cacat karena gagal mengakui penyebaran virus melalui udara (aerosol).
Akibatnya, banyak dokter dan perawat yang kini didiagnosis mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan kelelahan kerja akut (burnout) setelah bertugas dalam kondisi yang menyerupai zona perang.
Pelajaran Penting bagi Indonesia
Temuan dalam laporan ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi Indonesia dalam menghadapi potensi krisis kesehatan di masa depan.
Pertama, kesiapan sistem kesehatan tidak bisa dibangun secara instan saat krisis terjadi. Kapasitas rumah sakit, tenaga medis, dan logistik harus diperkuat jauh sebelum situasi darurat.
Kedua, komunikasi publik harus dirancang secara hati-hati. Pesan yang terlalu keras seperti “tetap di rumah” tanpa penjelasan yang seimbang dapat membuat masyarakat ragu untuk mencari bantuan medis.
Ketiga, kebijakan pembatasan harus mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Dukungan keluarga bagi pasien, terutama kelompok rentan, tetap menjadi kebutuhan penting.
Keempat, perlindungan tenaga kesehatan harus menjadi prioritas utama, termasuk ketersediaan alat pelindung dan dukungan kesehatan mental.
Pandemi menunjukkan bahwa sistem kesehatan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang keseimbangan antara kebijakan, komunikasi, dan empati.
Laporan COVID-19 di Inggris ini mengungkap bahwa bahkan sistem kesehatan besar seperti NHS dapat berada di ambang kolaps saat menghadapi krisis besar.
Berbagai kebijakan yang diambil selama pandemi memberikan pelajaran penting tentang pentingnya kesiapan, komunikasi yang tepat, serta perlindungan terhadap pasien dan tenaga kesehatan.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa menghadapi krisis kesehatan membutuhkan pendekatan yang komprehensif, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga sosial dan kebijakan publik.
Tinggalkan Komentar
Komentar