periskop.id - Pernah merasa harus terlihat “rapi” sebelum dianggap serius di tempat kerja?
Bukan sekadar soal estetika.
Seperti ada standar tak tertulis yang bekerja diam-diam: perempuan perlu tampil cukup presentable agar suaranya didengar. Padahal, kompetensi seharusnya bisa berdiri sendiri. Namun realitasnya tidak sesederhana itu.
Dalam banyak studi ketenagakerjaan global, termasuk laporan World Economic Forum, perempuan kerap tidak hanya dinilai dari performa, tetapi juga dari bagaimana mereka menampilkan diri di ruang publik. Penampilan menjadi semacam “nilai tambah” yang tidak pernah benar-benar disebutkan, tetapi nyata dirasakan.
Ekspektasi ini tidak hadir sebagai aturan tertulis, melainkan sebagai sesuatu yang dianggap wajar. Seolah natural, padahal tidak netral.
Kita tumbuh dengan narasi yang sama: perempuan yang rapi, cantik, dan well-groomed adalah perempuan yang “niat” bekerja. Ada asosiasi yang terus direproduksi tanpa banyak dipertanyakan. Sementara di sisi lain, laki-laki jarang menghadapi tekanan serupa dalam kadar yang sama. Perbedaan ini tidak selalu terlihat jelas, tetapi cukup konsisten untuk membentuk cara kita menilai.
Kerja Tambahan yang Tidak Pernah Diakui
Di titik ini, ada satu bentuk kerja yang sering luput disadari. Dalam kajian sosiologi, hal ini dikenal sebagai emotional labor, konsep yang diperkenalkan oleh Arlie Russell Hochschild dalam bukunya The Managed Heart pada 1983.
Emotional labor merujuk pada upaya mengelola ekspresi, sikap, bahkan tampilan diri demi memenuhi ekspektasi sosial. Artinya, bersiap ke kantor bukan hanya soal bekerja, tetapi juga soal mengelola persepsi.
Memilih outfit yang cukup profesional tetapi tidak terlalu mencolok, menggunakan makeup yang terlihat effortless namun tetap polished, menjaga ekspresi agar tetap ramah dan “tepat”, semua itu adalah kerja tambahan yang tidak pernah tertulis dalam job description. Dilakukan setiap hari, tetapi jarang diakui sebagai bagian dari kerja itu sendiri.

Organisasi seperti International Labour Organization juga menyoroti bahwa ketimpangan di dunia kerja tidak selalu berbentuk angka gaji atau posisi jabatan. Ia bisa hadir dalam bentuk ekspektasi sosial yang berbeda. Perempuan tidak hanya dituntut untuk bekerja dengan baik, tetapi juga untuk terlihat meyakinkan saat melakukannya.
Yang menarik, banyak perempuan akhirnya tidak hanya menghadapi standar ini, tetapi juga menginternalisasinya. Bukan semata karena ingin, tetapi karena terasa perlu. Dalam banyak ruang, terlihat rapi bukan lagi sekadar pilihan personal, melainkan strategi agar dianggap layak, agar kehadiran tidak diabaikan.
Ketika Cantik Menjadi “Modal Sosial”
Sebuah studi dalam jurnal PLoS One tahun 2018 mencoba menjawab pertanyaan yang tampak sederhana namun sebenarnya kompleks: mengapa perempuan ingin menjadi cantik. Penelitian berjudul “Why do women want to be beautiful?” ini melibatkan perempuan di Korea Selatan, China, dan Jepang, dan menggunakan metode kualitatif eksploratif melalui diskusi kelompok mendalam atau focus group interview.
Studi ini memperkenalkan konsep human beauty value atau HBV, yaitu alasan mendasar seseorang mengejar kecantikan, bukan sekadar bagaimana standar kecantikan itu terlihat.
Hasilnya menunjukkan bahwa keinginan untuk terlihat cantik tidak berdiri di satu alasan tunggal. Ada dorongan untuk unggul dalam persaingan sosial, ada keinginan untuk mengembangkan diri dan merawat diri, ada kebutuhan mengekspresikan identitas pribadi, dan ada juga upaya untuk merasa autentik sebagai diri sendiri. Namun, keempat motivasi ini tidak muncul dengan intensitas yang sama di setiap konteks sosial.

Di Korea Selatan, kecantikan sangat erat dengan kompetisi. Penampilan menjadi modal sosial yang bisa memengaruhi peluang kerja, relasi, hingga cara seseorang dinilai.
Dalam konteks ini, muncul fenomena halo effect, di mana orang yang dianggap menarik cenderung juga dianggap lebih pintar, lebih mampu, atau lebih layak meskipun belum tentu demikian. Tekanan yang tinggi ini bahkan dapat berdampak pada citra tubuh yang negatif hingga mendorong tindakan ekstrem seperti operasi kosmetik.
Di China, kecantikan lebih sering dimaknai sebagai bagian dari pengembangan diri. Merawat penampilan dianggap mencerminkan disiplin dan kemampuan mengelola diri, seiring dengan perubahan sosial dan meningkatnya peran perempuan dalam pendidikan dan dunia kerja.
Sementara di Jepang, kecantikan lebih banyak dipahami sebagai bentuk ekspresi diri. Standarnya tidak tunggal, dan perempuan memiliki ruang yang lebih luas untuk mendefinisikan kecantikan sesuai karakter dan gaya masing-masing.
Nilai autentisitas sebenarnya hadir di ketiga negara tersebut, tetapi tidak dominan. Ia cenderung berkembang di lingkungan yang lebih menerima keberagaman dan tidak terlalu menekan perempuan dengan standar yang seragam.
Studi ini juga menunjukkan bahwa dorongan untuk menjadi cantik tidak lepas dari perbandingan sosial, persaingan sosial, dan norma yang dibentuk masyarakat. Artinya, kecantikan bukan sekadar preferensi individu, melainkan hasil dari interaksi yang kompleks antara budaya, tekanan sosial, dan harapan kolektif.
Bias yang Halus, Tapi Konsisten
Dalam praktik sehari-hari, hal ini diperkuat oleh halo effect yang bekerja secara halus namun konsisten. Perempuan yang terlihat rapi dan menarik sering kali dianggap lebih kompeten, lebih mampu, dan lebih menyenangkan, meskipun penilaian tersebut belum tentu mencerminkan kemampuan sebenarnya.
Bias ini jarang disadari, tetapi berpengaruh nyata dalam dinamika penilaian di dunia kerja. Di sinilah batas antara “ingin” dan “harus” mulai kabur.
Standar sosial menciptakan ekspektasi, ekspektasi mendorong penyesuaian diri, dan penyesuaian diri yang dilakukan terus-menerus akhirnya terasa seperti kebutuhan. Tampil rapi bukan lagi sekadar pilihan personal, tetapi menjadi cara untuk memastikan bahwa kehadiran diakui.
Antara Pilihan dan Tekanan
Lalu, apakah salah ingin tampil baik? Tentu tidak.
Keinginan untuk tampil baik pada dasarnya merupakan hal yang wajar. Merawat diri, membangun rasa percaya diri, serta menjaga penampilan agar tetap rapi menjadi bagian dari keseharian banyak orang.

Dalam praktiknya, standar mengenai apa yang dianggap “baik” tidak selalu dirasakan secara setara. Dalam berbagai situasi, terdapat perbedaan ekspektasi yang memengaruhi bagaimana individu, khususnya perempuan, menyesuaikan diri baik secara emosional, sosial, maupun visual.
Hal ini tidak terlepas dari dinamika yang berkembang di lingkungan kerja, di mana sejumlah norma dan ekspektasi dapat terbentuk tanpa selalu dinyatakan secara eksplisit. Proses penyesuaian kemudian berlangsung secara bertahap, seiring dengan kebutuhan untuk menavigasi standar yang berlaku dalam konteks tersebut.
Dalam konteks ini, kecantikan tidak hanya dipahami sebagai aspek fisik, tetapi juga sebagai bagian dari konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh budaya, norma, serta ekspektasi yang berkembang di masyarakat.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar