Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia menunjukkan tren perbaikan dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan rilis Mei 2026, nilai IKG Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 0,402, menurun dari 0,421 pada 2024. 

Penurunan sebesar 0,019 poin ini mengindikasikan adanya perbaikan dalam ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, meskipun disparitas masih terjadi.

Secara historis, IKG Indonesia terus mengalami penurunan sejak 2020. Pada tahun tersebut, indeks tercatat sebesar 0,472, lalu menurun menjadi 0,465 pada 2021, 0,459 pada 2022, dan 0,447 pada 2023, sebelum mencapai 0,421 pada 2024 dan kembali turun pada 2025. 

Tren ini mencerminkan kemajuan bertahap dalam upaya mengurangi kesenjangan gender di berbagai sektor.

Salah satu faktor utama yang mendorong perbaikan ini adalah peningkatan kualitas kesehatan reproduksi. Laporan BPS mencatat penurunan angka persalinan yang dilakukan di luar fasilitas kesehatan (melahirkan tidak di faskes/MTF) menjadi 0,077, atau turun 0,017 poin dari tahun 2024. 

Selain itu, proporsi perempuan yang melahirkan anak pertama di usia kurang dari 20 tahun (melahirkan hidup pertama kurang dari 20 tahun/MHPK20) juga menurun ke angka 0,235, yang berarti berkurang 0,013 poin dibandingkan tahun lalu.

Di sektor pemberdayaan, terjadi perkembangan yang beragam. Kabar baik datang dari bidang pendidikan, di mana persentase perempuan berusia 25 tahun ke atas yang memiliki ijazah minimal SMA naik menjadi 38,35%, naik 0,71% poin dari tahun sebelumnya sehingga mempersempit kesenjangan dengan laki-laki (44,23%). 

Namun, tantangan masih terlihat pada keterwakilan politik. Persentase perempuan di kursi legislatif justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,18% poin menjadi 22,28%, yang menyebabkan kesenjangan gender di parlemen sedikit melebar.

Sementara itu, pada indikator pasar tenaga kerja, akses perempuan terhadap lapangan pekerjaan menunjukkan tren positif. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada tahun 2025 mencapai 56,63%, meningkat 0,21% poin dibanding tahun 2024. 

Meskipun masih tertinggal dibandingkan laki-laki yang mencapai 84,40%, penyempitan celah ini menandakan bahwa semakin banyak perempuan yang aktif berkontribusi dalam roda perekonomian nasional. Secara keseluruhan, meski ketimpangan masih nyata, Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih inklusif dan adil bagi seluruh gender.