Periskop.id – Struktur ketenagakerjaan di Jakarta menunjukkan pergeseran pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat, jumlah pekerja informal meningkat. Di saat yang sama angka pengangguran mengalami penurunan tipis.

Berdasarkan data BPS, jumlah pekerja informal di ibu kota mencapai 1,98 juta orang atau setara 38,13% dari total penduduk bekerja pada Februari 2026. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Peningkatan proporsi pekerja informal ini terutama didorong bertambahnya jumlah pekerja dengan status berusaha sendiri, yang memberikan perubahan jumlah pekerja yang paling banyak di antara status pekerjaan yang lainnya," kata Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto di Jakarta, Selasa (5/5). 

Dari total 5,2 juta orang yang bekerja di Jakarta, sekitar 23,48% di antaranya berstatus berusaha sendiri. Jumlah ini meningkat sekitar 20,75 ribu orang dibandingkan Februari 2025. Selain itu, kategori pekerja informal juga mencakup pekerja bebas serta pekerja keluarga yang tidak dibayar.

Di sisi lain, jumlah pekerja formal tercatat sebanyak 3,22 juta orang atau 61,87%, sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 62,05%.

Kadarmanto menjelaskan bahwa meskipun sektor formal masih mendominasi, tren peningkatan pekerja informal menunjukkan adanya dinamika ekonomi, terutama di sektor usaha mandiri dan ekonomi berbasis layanan.

Dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan besar dan eceran menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Jakarta, dengan kontribusi mencapai 22,4% atau sekitar 1,16 juta pekerja. "Ini sejalan dengan yang ada kontribusi pada ekonomi Jakarta," ungkap Kadarmanto.

Sektor lain yang juga menyerap banyak tenaga kerja adalah akomodasi dan makan minum dengan kontribusi sebesar 13,28%. Kedua sektor ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi dan mobilitas masyarakat di ibu kota.

Masih di Kisaran 6%
Di tengah peningkatan pekerja informal, BPS mencatat jumlah pengangguran di Jakarta mengalami penurunan tipis. Pada Februari 2026, jumlah pengangguran tercatat sebanyak 334 ribu orang, turun sekitar 4,54 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

"Turun sekitar 4,54 ribu orang dibandingkan Februari tahun 2025," kata Kadarmanto.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga menurun dari 6,18% pada Februari 2025 menjadi 6,03% pada Februari 2026. "Di bulan Februari tahun lalu, TPT menunjukkan angka sebesar 6,18%. Tingkat penurunan terbuka di Jakarta turun dari 6,18% menjadi 6,03% (Februari 2026)," tuturnya. 

Artinya, sekitar enam dari setiap 100 orang angkatan kerja di Jakarta masih belum mendapatkan pekerjaan.Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja di Jakarta mencapai 5,53 juta orang pada Februari 2026, meningkat sekitar 57,64 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara jumlah penduduk yang bekerja naik menjadi 5,2 juta orang, bertambah sekitar 62,18 ribu orang.

"Peningkatan penyerapan tenaga kerja terjadi pada pekerja penuh dan setengah pengangguran, sementara jumlah pekerja paruh waktu mengalami penurunan," ujar Kadarmanto.

Dari sisi gender, tingkat pengangguran laki-laki tercatat sebesar 6,54%, turun dari 6,77% pada 2025. Sementara itu, TPT perempuan juga turun tipis menjadi 5,28%. "Meskipun secara level, ini masih lebih rendah dibandingkan TPT laki-laki," serunya.

Sejatinya, fenomena meningkatnya pekerja informal di Jakarta sejalan dengan tren nasional. Data BPS sebelumnya menunjukkan sekitar 59% tenaga kerja di Indonesia masih berada di sektor informal (Sakernas 2025). Kondisi ini mencerminkan fleksibilitas pasar kerja, namun juga menjadi tantangan karena sektor informal umumnya memiliki perlindungan kerja yang lebih rendah.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, Jakarta menghadapi tantangan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan, tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga dari aspek perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja.