Periskop.id - Di tengah derasnya tren gaya hidup konsumtif di media sosial, muncul sebuah gerakan yang justru mengajak orang melakukan hal sebaliknya. Adalah Loud budgeting, sebuah cara baru untuk secara terbuka mengatakan bahwa kita sedang berhemat dan menolak spending untuk hal-hal yang bukan prioritas.
Jika dulu banyak orang merasa tidak enak menolak ajakan makan di restoran mahal, liburan mendadak, atau mengikuti tren belanja terbaru, kini semakin banyak perempuan yang memilih untuk lebih jujur pada lingkungan dan berkata “Maaf, aku lagi hemat.”
Ungkapan tersebut pun kini tak lagi dianggap memalukan, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengelola keuangan.
Istilah loud budgeting sendiri sebenarnya sudah mulai ramai diperbincangkan di TikTok pada awal 2024 dan kembali mendapatkan perhatian luas di berbagai media sosial. Berbeda dengan budaya fake rich atau gengsi finansial, tren ini justru mendorong seseorang untuk lebih percaya diri terhadap keputusan keuangannya.
Menolak pengeluaran yang tidak sesuai anggaran dipandang sebagai bentuk financial confidence, bukan tanda seseorang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Bagi banyak perempuan, tekanan sosial sering kali datang dari keinginan untuk selalu mengikuti lingkungan. Mulai dari nongkrong di kafe yang sedang viral, membeli produk kecantikan terbaru, menghadiri konser, hingga mengikuti tren fesyen. Tanpa disadari, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang dapat menggerus kondisi keuangan.
Fenomena tersebut juga dikenal sebagai social spending, yaitu pengeluaran yang didorong oleh kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial.
Kehadiran media sosial membuat tekanan tersebut semakin besar karena seseorang terus-menerus melihat aktivitas teman, influencer, maupun selebritas yang tampak selalu menikmati gaya hidup mewah.
Loud budgeting hadir sebagai cara baru untuk mematahkan tekanan tersebut. Kalian tidak perlu lagi membuat alasan seperti sedang sibuk atau tidak sehat ketika menolak ajakan. Sebaliknya, bisa dengan santai mengatakan bahwa uangnya sedang dialokasikan untuk tujuan lain, seperti dana darurat, investasi, uang muka rumah, biaya pendidikan, atau liburan yang memang sudah direncanakan.
Banyak pakar keuangan menilai pendekatan ini lebih sehat dibanding memaksakan diri demi menjaga citra. Ketika seseorang mampu mengkomunikasikan batas finansialnya secara terbuka, tekanan psikologis untuk terus mengikuti gaya hidup orang lain ikut berkurang.
Survei Bankrate di Amerika Serikat menunjukkan bahwa tekanan sosial masih menjadi salah satu penyebab utama masyarakat mengeluarkan uang di luar kemampuan mereka. Sementara berbagai riset perilaku konsumen juga menemukan bahwa media sosial dapat meningkatkan kecenderungan melakukan pembelian impulsif karena muncul fear of missing out (FOMO).
Bagi perempuan, loud budgeting juga menjadi bentuk penguatan literasi keuangan. Alih-alih mengejar validasi melalui barang bermerek atau tempat nongkrong yang sedang populer, fokus mulai bergeser pada tujuan finansial jangka panjang.
Terlepas dari semua output yang dicitrakan, loud budgeting bukan berarti hidup serba pelit atau tidak pernah menikmati hasil kerja keras. Inti dari konsep ini adalah membuat pengeluaran dengan lebih sadar dan terukur.
Jika seseorang memang sudah menganggarkan dana untuk hiburan atau belanja, maka tidak ada salahnya digunakan. Yang dihindari adalah pengeluaran spontan yang hanya muncul karena tekanan lingkungan.
Konsep tersebut juga sejalan dengan prinsip conscious spending, yakni mengeluarkan uang sesuai nilai dan prioritas pribadi. Dengan begitu, setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar memberikan manfaat, bukan sekadar memenuhi ekspektasi orang lain.
Menerapkan loud budgeting sebenarnya cukup sederhana;
- Pertama, tentukan tujuan keuangan yang ingin dicapai, misalnya membeli rumah, memiliki dana darurat, atau berinvestasi.
- Kedua, buat anggaran hiburan sehingga tetap bisa menikmati hidup tanpa mengganggu tabungan.
- Ketiga, berani mengatakan “tidak” pada ajakan yang memang berada di luar kemampuan finansial.
- Terakhir, berhenti membandingkan kondisi keuangan kita dengan orang lain di media sosial, karena apa yang dipamerkan belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Pada akhirnya, loud budgeting mengajarkan bahwa keberanian untuk berkata “aku lagi hemat” justru merupakan tanda seseorang memiliki kendali penuh atas keuangannya.
Di era ketika media sosial sering mendorong orang tampil serba sempurna, memilih hidup sesuai kemampuan bisa menjadi bentuk kemewahan yang sesungguhnya. Tak lagi soal terlihat kaya, tapi memiliki kebebasan finansial yang dibangun lewat keputusan-keputusan kecil setiap hari.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar