periskop.id - Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK kembali mengguncang industri teknologi global. Kali ini giliran Meta yang memangkas sekitar 8.000 karyawan di berbagai negara sebagai bagian dari restrukturisasi besar perusahaan menuju ekosistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
PHK massal tersebut disebut mewakili sekitar 10% dari total tenaga kerja Meta secara global. Langkah ini dilakukan ketika perusahaan milik Mark Zuckerberg itu menggelontorkan investasi sangat besar untuk pengembangan AI generatif, pusat data, chip komputasi, hingga organisasi internal berbasis otomatisasi.
Karyawan Singapura Jadi Gelombang Pertama
Melansir The Verge, menariknya, pemberitahuan PHK pertama kali dikirim kepada karyawan Meta di Singapura. Beberapa laporan menyebut pekerja di kantor regional Asia tersebut menerima email PHK sekitar pukul 04.00 pagi waktu setempat.
Singapura memang menjadi salah satu pusat operasional penting Meta di Asia Tenggara, terutama untuk divisi engineering, penjualan iklan digital, dan pengembangan produk regional. Karena itu, banyak pengamat menilai langkah ini menunjukkan bahwa restrukturisasi Meta tidak hanya menyasar divisi kecil, tetapi juga menyentuh pusat bisnis strategis perusahaan.
Sejumlah mantan pegawai Meta di Singapura turut membagikan pengalaman mereka di LinkedIn dan forum daring. Salah satu kisah yang viral datang dari seorang karyawan bernama Gary Tay yang telah bekerja hampir 10 tahun di Meta sebelum akhirnya terkena PHK. Ia mengaku sehari sebelum diberhentikan masih melatih pegawai baru di perusahaan tersebut.
Penyebab Meta Melakukan PHK Massal
Meta menjelaskan bahwa PHK dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus membuka ruang investasi yang lebih besar ke sektor AI. Dalam memo internal perusahaan, Mark Zuckerberg menilai AI merupakan teknologi paling penting untuk masa depan industri digital.
Perusahaan diperkirakan mengalokasikan belanja modal hingga US$115 miliar sampai US$135 miliar sepanjang 2026. Angka tersebut melonjak drastis dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$72 miliar. Dana itu digunakan untuk pembangunan data center AI, pembelian chip GPU performa tinggi, serta perekrutan talenta AI global.
Selain melakukan PHK, Meta juga memindahkan sekitar 7.000 pegawai lain ke unit-unit baru yang fokus pada pengembangan AI. Restrukturisasi tersebut membuat banyak proyek kini memakai model kerja lebih ramping dengan bantuan otomatisasi AI dan tim yang lebih kecil.
Beberapa analis melihat langkah Meta sebagai bagian dari tren industri teknologi global. Banyak perusahaan besar kini memilih memangkas tenaga kerja tradisional untuk mempercepat transformasi AI dan efisiensi bisnis digital.
Ekosistem AI Jadi Prioritas Utama Meta
Dalam beberapa tahun terakhir, Meta semakin agresif membangun ekosistem AI miliknya sendiri. Perusahaan kini mengembangkan berbagai layanan berbasis AI untuk Facebook, Instagram, WhatsApp, hingga perangkat wearable dan virtual reality.
Meta juga tengah memperkuat divisi “AI-native organization”, yakni struktur kerja yang dirancang agar sebagian besar proses bisnis dapat berjalan dengan bantuan AI. Model ini diyakini mampu mempercepat pengembangan produk sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang.
Perubahan strategi tersebut memunculkan kekhawatiran baru di industri teknologi. Banyak pekerja digital mulai khawatir bahwa AI bukan hanya alat bantu produktivitas, tetapi juga berpotensi menggantikan sejumlah posisi kerja manusia di masa depan.
Sebuah riset akademik terbaru bahkan menyebut persaingan investasi AI antarperusahaan dapat memicu “automation arms race”, yaitu perlombaan otomatisasi yang membuat perusahaan berlomba menggantikan tenaga kerja manusia demi efisiensi.
PHK Meta diperkirakan akan memberi efek domino ke industri teknologi global. Sebelumnya, sejumlah perusahaan besar seperti Amazon, Intel, LinkedIn, hingga Dell juga melakukan pengurangan tenaga kerja sambil meningkatkan investasi AI mereka.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar