periskop.id - Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba hingga 15 Mei 2026 mencapai Rp56 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 6,21% secara tahunan.
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa peningkatan tersebut tidak lepas dari dorongan program hilirisasi, khususnya melalui mulai beroperasinya sejumlah fasilitas pengolahan (smelter) yang tergabung dalam ekosistem MIND ID.
"Khusus untuk smelter tembaga PT Freeport di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Gresik, Jatim, kehadirannya menjadi salah satu tonggak penting untuk memperkuat kapasitas pemurnian konsentrat tembaga dalam negeri," kata Tri melansir Antara, Jumat (22/5).
Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Tri mengungkapkan bahwa realisasi PNBP minerba pada periode Januari hingga April 2026 sempat berada di level Rp48,95 triliun, sebelum akhirnya meningkat pada pertengahan Mei 2026.
Ia juga memaparkan bahwa terdapat tiga proyek smelter yang telah rampung dan mulai beroperasi, yakni milik PT Aneka Tambang Tbk di Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk di Sulawesi, serta smelter tembaga PT Freeport Indonesia di Gresik.
Secara keseluruhan, pemerintah mencatat ada 14 proyek smelter yang masuk dalam program hilirisasi mineral nasional. Rinciannya terdiri dari enam smelter nikel, enam smelter bauksit, satu smelter tembaga, dan satu smelter besi.
Dari jumlah tersebut, lima smelter telah selesai dibangun, sementara sembilan lainnya masih dalam proses penyelesaian. Total investasi yang telah terealisasi untuk program ini mencapai 7,8 miliar dolar AS.
Tri menambahkan bahwa kapasitas industri pengolahan mineral yang terbentuk dari proyek-proyek tersebut tergolong signifikan. Untuk smelter nikel terintegrasi, kapasitas input mencapai 24,9 juta ton per tahun dengan output produksi sebesar 924.780 ton per tahun.
Sementara itu, smelter tembaga memiliki kapasitas input dua juta ton per tahun dan mampu menghasilkan hingga 460 ribu ton katoda per tahun. Adapun smelter bauksit mencatat kapasitas input sebesar 19,6 juta ton per tahun dengan produksi alumina mencapai 7,4 juta ton per tahun.
"Angka tersebut menunjukkan bahwa basis industri pengolahan mineral mulai terbentuk," ujar Tri.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik smelter dalam program hilirisasi, tetapi juga memastikan aspek operasional berjalan optimal dan berdaya saing.
"Pemerintah tidak hanya melihat hilirisasi dari pembangunan fisik semata, tapi juga dari kesiapan operasi, kesinambungan bahan baku, pemenuhan lingkungan serta kepatuhan terhadap ketentuan perizinan," tuturnya.
Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Yusman, menyampaikan apresiasi atas capaian hilirisasi tersebut. Namun, ia juga meminta penjelasan lebih rinci terkait perkembangan pembangunan sembilan smelter yang masih berjalan.
"Nah, ini mungkin perlu keterangan sedikit rinci progresnya sudah berapa persen untuk menuju selesai," kata Yusman.
Hal senada disampaikan anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PAN, Alfont, yang mendorong percepatan penyelesaian proyek smelter agar manfaatnya terhadap perekonomian nasional dapat segera dirasakan lebih luas.
"Bagaimana caranya dipacu, didorong supaya smelter-smelter ini beres, produksi bisa jalan, kita mampu untuk mendorong perekonomian," ujar Alfont.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar